Kategori
Infrastruktur

Membudayakan Keselamatan Bersepeda di Jalan Raya

Layanan infrastruktur untuk para pesepeda masih perlu ditingkatkan. Bersepeda masih tidak nyaman.

Aturan dan semangat memprioritaskan kegiatan bersepeda ternyata sudah difasilitasi oleh Peraturan Menteri Perhubungan (bisa dilihat di Permenhub Nomor 59 Tahun 2020 tentang Keselamatan Pesepeda di Jalan). Yang belum masif ialah aturan dan dukungan oleh pemerintah daerah. Itu kira-kira yang jamak terjadi di tanah air.

Keselamatan bersepeda di jalan sudah pernah dimonumenkan dalam gerakan Sepeda Sunyi di Jembatan Kleringan, Jembatan Kewek Yogyakarta beberapa tahun silam. Ini karena ada anak-anak yang jadi korban kecelakaan. Ironisnya, ada seorang kepala dinas di Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang juga jadi korban kecelakaan di jalan saat bersepeda.

Lajur bersepeda memang tersedia di Yogyakarta setelah adanya seremonial gerakan para pimpinan sejumlah perguruan tinggi seperti UGM, UNY, UIN dan kampus terdekat lain di kawasan Yogyakarta dan Sleman dengan bersepeda beberapa tahun silam.

Gubernur dan Walikota Yogyakarta juga turut serta. Maka gerakan yang diinisiasi kalangan kampus itu jadi mewujud dengan hadirnya lajur khusus bagi para pengendara sepeda. UGM secara khusus memiliki sepeda kampus yang gratis dan bisa digunakan oleh siapa saja bersepeda di lingkungan kampus.

Satu waktu Gubernur DIY ditanya oleh awak media: kenapa dengan jarak lokasi yang dekat tidak berangkat ke kantor naik sepeda saja? Jawaban gubernur pendek saja: kalau usai bersepeda itu berkeringat, harus cuci badan atau mandi. Di Kepatihan sedang ada perbaikan kamar mandinya, begitu kala menjawab pertanyaan yang tentu saja disampaikan dengan nada santai, akrab sembari diiringi tawa.

Tugas pemerintah jelas, menyediakan sarana dan prasarana untuk keselamatan bersepeda.

Kalau Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, yang juga alumni UGM, sedikit berbeda dengan kakak kelasnya di Fakultas Hukum itu. Ia memilih sepeda balap untuk berolahraga. Boleh jadi karena terpaut usia dan hobi, pilihan olahraga yang berbeda ya. Ada yang suka golf, ada yang suka memancing, ada yang lebih senang berlari, ada juga yang lebih suka main ping-pong.

Tugas pemerintah jelas, menyediakan sarana dan prasarana untuk keselamatan bersepeda. Nah, di sini ada budaya dan pilihan alasan seseorang untuk bersepeda. Ada beberapa alasan mulai dari kepepet sampai kebutuhan hingga manifestasi identitas diri. Tapi jelas ada kesamaan yang bisa dirasakan bersama yaitu adanya kebutuhan keselamatan di jalan raya.

Presiden Soekarno mendapatkan inspirasi marhaen yang membangun sisi humanis kala bertemu petani di sela aktivitas bersepeda. Itu jelas bisa diaktualkan dalam situasi zaman modern. Sebagai alat transportasi non-motor, sepeda memiliki fungsi rekreatif, hobi, wisata hingga kebutuhan olahraga prestasi. Di sejumlah kota besar negara maju, bersepeda mendapatkan ruang jaminan keselamatan dan bagian integral dalam perencanaan tata kota, perencanaan lalu lintas.

Di Ibukota Jakarta dan kota-kota besar tanah air, kini bisa ditemukan lajur khusus bersepeda.

Dalam kampanye Pilpres 2019, guna meraih simpati publik, Presiden Joko Widodo juga memilih bersepeda di Yogyakarta dari start dari sekitar kampus UGM menuju Kridosono. Di bandara Semarang, patungnya Joko Widodo jadi favorit tempat selfie karena bisa berpose dibonceng Presiden RI. Pilihan bersepeda, berangkat kampanye dengan bersepeda juga sudah jamak dilakukan calon kepala daerah. Ada yang berhasil dan ada yang gagal rebut suara terbanyak.

Bersepeda bagi sebagian orang, apalagi di hari libur akhir pekan dipilih untuk berkeliling kota, berolahraga dengan rute ke titik destinasi wisata yang ada. Jadi gaya hidup kelas menengah dengan aneka sepeda mahal yang dimiliki. Bagi kelompok miskin, bersepeda jadi andalan untuk menyongsong rejeki ke pasar, alat transportasi angkut barang bekas/rongsokan untuk dijual. Bagi anak-anak sekolah, sepeda jadi kendaraan untuk berangkat menuntut ilmu.

Bersepeda bisa membaurkan mereka yang kaya dan miskin dalam satu ruang bersama, bertemu di jalan dan saling bertegur sapa usai lelah mengayuh pedal. Hal yang penting adalah menyediakan jalur bersepeda dan memberikan jaminan keselamatan di jalan raya. Termasuk memastikan budaya selamat, budaya keselamatan di jalan raya dihadirkan oleh semua saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s