Kategori
Infrastruktur Society

Tidak Cukup Menjadi Orang Bijak di Hadapan Teknologi

Sebagian orang memilih posisi ekstrem ketika berhadapan dengan kemunculan teknologi baru: bersorak dengan optimisme yang kuat atau menolak tanpa kompromi. Di antara dua kelompok ini, ada yang menjadi penengah dan mengambil keputusan menjadi orang bijak. Sekumpulan orang bijak ini menyerukan bahwa seluruh teknologi yang muncul memiliki efek negatif maupun positif. Yang perlu kita lakukan adalah memperluas dampak positifnya dan semaksimal mungkin menghilangkan dampak negatifnya.

Dengan meluasnya kehadiran teknologi komputasi di segala lini kehidupan, yang sering kali kita sederhanakan secara brutal dengan konsep bernama “internet” dan “digital”, tiga kategori manusia yang dipaparkan di awal juga bertebaran. Ada yang optimis banget teknologi ini sudah dan akan membuat masa depan semakin cerah: akses informasi lebih cepat, bekerja menjadi lebih fleksibel dan efisien, belanja jadi lebih murah dan mudah, layanan birokrasi menjadi semakin sederhana, mengatasi krisis iklim akan lebih gampang, kota akan menjadi cerdas, mobil akan menjadi pintar, dan seterusnya. Ada yang lantang terus menyuarakan efek buruk dan ancamannya: gerak-gerik dan pikiran kita sebagai individu akan semakin mudah dipantau, data pribadi diperjualbelikan, ancaman kekerasan semakin mudah, bikin kecanduan sampai lupa waktu, mudahnya memanipulasi pikiran pengguna asal punya banyak uang, menjamurnya informasi palsu yang bahkan sampai ada yang berujung pada pembunuhan, dan seterusnya.

Sementara itu, sekumpulan orang bijak mengingatkan agar kita tidak larut ke dalam percekcokan yang tidak produktif. Masa depan yang dijanjikan oleh teknologi-teknologi baru ini akan benar-benar datang apabila kita memaksimalkan dampak positif yang ditawarkan dengan tidak lupa mencari solusi untuk efek-efek negatif yang menjadi ancaman. Terkesima dengan orang-orang bijak ini, kita akhirnya fokus menapaki jalan yang mereka tunjukkan.

Namun demikian, apakah menjadi orang bijak saja cukup? Apakah dengan memperluas dampak positif dan mengurangi dampak negatif, kita sudah bisa mendapatkan manfaat maksimal sebuah teknologi?

Daftar dampak positif dan negatif dari sebuah teknologi sering kali (atau bahkan selalu) muncul dari sebuah kerangka konseptual yang sudah diterima secara umum dan dijadikan acuan pengambilan keputusan baik di sektor swasta maupun pemerintahan. Misalnya, dengan telah diterimanya konsep Hak Asasi Manusia (HAM) secara luas di hampir seluruh dunia, keputusan atau kebijakan publik mengenai teknologi komputasi juga bertarung di ranah konsep ini. Contoh dari sisi dampak positif: teknologi komputasi perlu digunakan secara luas dan efektif agar dapat merevolusi birokrasi menjadi lebih baik, sehingga pelayanan dasar untuk masyarakat yang menyangkut HAM (pangan & papan) kualitasnya meningkat. Contoh dari sisi dampak negatif: teknologi komputasi perlu diatur secara tegas dan jelas sehingga tidak melanggar privasi seseorang, karena privasi adalah hak asasi setiap manusia.

Menjadikan HAM sebagai tolak ukur sebuah teknologi tentu saja adalah hal yang baik. Apa coba yang buruk dari HAM? Tidak ada. HAM berisi panduan bagi kita untuk menghargai dan merawat harkat dan martabat manusia. Akan tetapi, jika sampai pada titik ini saja, kita hanya menganggap teknologi adalah sebuah alat. Sehingga, kita hanya berpikir tentang perlunya menjaga batasan norma-norma sosial yang telah disepakati bersama dalam proses pengoperasian alat tersebut.

Teknologi bukan hanya alat, ada juga teknologi yang memberi dampak di ranah konseptual (soal ini, saya pernah mengulasnya dengan cukup rinci di sini). Potensi manfaat di ranah konseptual sayang sekali jika kita sia-siakan karena ia adalah pencapaian yang jarang. Telah cukup banyak contoh teknologi yang beroperasi di tataran epistemologi. Sebagai contoh saja:

  1. Kecerdasan artifisial: kecerdasan manusia bukanlah kecerdasan umum yang ada di bumi; kecerdasan binatang, logam, dan batu tidak harus dinilai dan dipahami berdasarkan kerangka kecerdasan manusia; Mesin yang bisa dibilang “hidup” tidak harus hidup seperti manusia.
  2. Teknologi komputasi: kedaulatan di bumi tidak hanya berdasarkan pemisahan garis-garis imajiner yang disebut batas-batas negara, tapi juga bentangan kabel-kabel fiber optik di daratan dan lautan serta server-server yang ditanam di gunung dan dasar lautan.

Pencapaian epistemologi dari 2 contoh teknologi di atas tidak dapat kita capai dengan hanya menjadi orang bijak. Sebab, untuk mencapai hal tersebut, kita perlu terus mempertanyakan kembali konsep-konsep yang selama ini kita anggap benar dan telah diterima secara luas. Proses bertanya dan penelusuran jawaban tersebut tentu akan menimbulkan trauma, mungkin juga tragedi. Tanyakan saja pada Galileo Galilei. Tapi tak ada kemajuan tanpa trauma.

Oleh Dandy Idwal

It is easier to imagine the end of capitalism than the end of family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s