Kategori
Society

Siap Selamat Hadapi Bencana

Foto: USGS
Apa yang menyebabkan orang kaya dan miskin berkumpul dalam satu lokasi, meski berbeda pilihan politik, beda pilihan kepala desa, beda pilihan langsung pak RT? 
Di saat terjadi bencana besar, biasanya semua akan bersamaan mencari keselamatan diri. Merasa aman saat terjadi bencana, butuh latihan juga agar saat benar-benar mengalami peristiwa bencana, tiap warga negara siap selamat dan tahu langkah antisipasi, mitigasi hadapi bencana.
 
Prof Sudibiyakto (alm) dalam satu kesempatan menyampaikan catatan begini kira-kira kalimatnya. 
“Bencana gempa dan tsunami di Aceh, gempa 5,9 SR di Jogja membawa pengetahuan baru bagaimana tata laksana dan mitigasi bencana dijalankan.”
 
Di negeri dengan intensitas dan potensi kebencanaan yang ada, sudah menjadi tanggung jawab bersama kala terjadi bencana. Ada pedoman jelas, di konstitusi, ada undang-undangnya.
 

Ini kok ya pas jelang masa pengumuman calon pemimpin negeri diumumkan, pas ada bencana gempa besar, gempa utama di Lombok. Apakah alam hendak memberikan pesan khusus buat para penguasa negeri?

Hal yang pasti, pagi ini banyak keluarga di Lombok juga mereka yang berada di area terdampak bencana, sarapan pagi dengan suasana yang serba darurat. Semoga semua korban dan keluarga korban diberikan kekuatan, hak mereka sebagai warga negara terlayani baik.
Baik itu si kaya maupun si miskin wajib memahami prosedur keselamatan diri sendiri saat terjadi bencana. Siap selamat dan tangguh kala membantu sesama yang membutuhkan pertolongan.
Pak Wali
PijakID
Kategori
Transportasi

Catatan Angkutan Publik Ibu Kota

Foto: @pakwali
Memasuki bulan Agustus 2018, ada perubahan fisik yang nyata terasa di ibukota, di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.  LRT (Light Rapid Transit) di beberapa ruas secara resmi segera dioperasikan untuk melayani mobilitas gerak warga kota besar, kabarnya begitu. Jelas, ada perubahan infrastruktur yang nyata di beragam titik keramaian di jalan utama. Termasuk yang terjadi di pinggir jalan. Ruang pedestrian di jalan utama seperti kawasan Sudirman tampak lebih lega berhias taman, pohon peneduh. Ibarat kata, DKI Jakarta tengah bersolek, sambut para tamu jauh di event Asian Games 2018.
Presiden RI, Joko Widodo bersama Gubernur DKI Anies Baswedan tampil berjalan bersama di publik, di pinggir jalan besar untuk merasakan langsung fasilitas publik yang ada. Nah, kehadiran sosok pejabat publik, di ruang publik memang menghadirkan obrolan atau bisik-bisik yang beragam di benak publik. Ini, itulah. 
Di jalanan Jabodetabek, selain terbangunnya beragam pekerjaan infrastruktur sampai kini masih dengan mudah menemukan keberadaan “wajah angkutan publik”. Angkutan bus, angkot dan mikrolet yang dikelola swasta kini tampak semakin kusam, semakin jadul dan lebih sering lengang, minim penumpang. Angkutan jadul ini, terlambat pupuran karena tekanan persaingan.
 
Peremajaan armada dan sistem manajemen angkutan yang seharusnya dijalankan oleh perusahaan swasta tak bisa serta merta terjadi, mahal ongkosnya. Adanya kepemilikan dan pelayanan publik dengan angkot yang murah ongkosnya, semakin tertekan oleh layanan angkutan daring, Grab maupun Go Car, menjadi bingkai lain kala bicara soal angkutan umum.
Kopaja, Miniarta adalah kisah angkutan publik yang kini masih terus bertahan dan memberikan layanan setiap hari.
Ada banyak cerita di bulan Agustus, di atas angkutan publik pinggiran kota. Apalagi, jika warga biasa bisa bertegur sapa dengan para pemimpinnya, bisa berbagi harapan juga hal-hal sederhana, atau nyenyak usai terkantuk-kantuk sepanjang perjalanan pergi dan pulang.
Pak Wali
PijakID