Kategori
Society

Hidup Harmoni Bersama Gunung Merapi

Berbeda dengan gunung yang lain, Merapi adalah yang paling aktif.  Sorotan untuk gunung yang menjadi pengikat dua provinsi yaitu DIY-Jawa Tengah ini menjadi pusat perhatian bersama bukan hanya warga sekitar tapi juga warga dunia.

Warga yang hidup di lereng Merapi baik itu di Sleman, Klaten, Boyolali dan Magelang memiliki ikatan kuat baik kala gunung tenang alias tak ada aktivitas vulkanik maupun kala terjadi fase erupsi, seperti sekarang ini.

Bukan hanya ikatan kuat karena Merapi diliputi beragam mitologi tapi pada kehidupan keseharian, warga di sekitar lereng benar-benar mendapatkan kesejahteraan dari beragam berkah.

Wisata alam saujana salah satu yang jadi andalan, melalui tambang pasir hingga air mineral yang dikelola dan dipanen maupun air yang mengalir ke beragam arah dari sumber air, umbul guna kebutuhan air bersih dan pengairan pertanian adalah berkah lingkungan alam gunung Merapi.

Lahan pertanian dan pekarangan di sekitar lereng jadi tumpuan kehidupan pertanian bagi banyak keluarga. Pasir G. Merapi yang ditambang telah membawa keuntungan finansial banyak pihak. Pasir gunung membuat banyak orang hidup lebih sejahtera, mulai penambang pasir, sopir truck sampai politisi lokal mendapatkan berkahnya.

Sejatinya, siapa saja bisa mendapat keuntungan dari keberadaan hidup berdekatan dengan gunung api. Asal tahu diri dan arif dalam memanfaatkan sumber daya alam.  Tak eksploitatif dan merusak yang bisa membahayakan kehidupan ekosistem, berulah hingga menyebabkan kerusakan ekologis.

Tak heran, jika alam pikir, alam budaya di kehidupan sekitar lereng G. Merapi hadir beragam mitologi dan kepercayaan yang diekspresikan dengan beragam ritual. Manfaatnya juga terasa, harapan menjaga kelestarian alam.

Ada kuasa ghaib,  ada aturan yang tak boleh dilanggar agar kosmos, relasi manusia dengan penguasa Merapi terjaga. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta secara reguler memiliki agenda budaya secara khusus.

Ada juru kunci yang memiliki tanggung jawab menjalankan upacara ritual guna membawa keselamatan untuk semua. Menghindarkan kerusakan dan terhindar dari segala macam marabahaya.

*****

Beberapa waktu terakhir, G. Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas vulkaniknya.  Hadirnya wedhus gembel, menandai bahwa proses erupsinya telah mendekati masa puncak. Soal kapan dan berapa lama waktu erupsi akan berakhir sangat bergantung pada sumber energi dari dapur magma di dalam bumi, di dalam perut G. Merapi.

Teknologi telah merangkum beragam indikatornya. Secara kelembagaan,  BPPTKG sebagai lembaga milik pemerintah yang bertanggungjawab melakukan pengamatan, penelitian dan memberikan rekomendasi, laporan atas hasil pengamatan G. Merapi.

Sains modern dengan beragam peralatan pemantauan yang ditempatkan di tubuh gunung, alat pemantau kegempaan, CCTV untuk pemantauan visual merekam setiap waktu segala aktivitas di puncak dan lerengnya. Kini semua termonitor, terkontrol.

Hasilnya semua pihak menerima sebagai bekal tindakan mitigasi guna mengurangi risiko bencana. EWS (early warning system) atau sistem peringatan dini, cara bekerjanya sudah dikenal baik oleh masyarakat, terutama di sekitar lereng yang masuk daerah kawasan rawan bencana.

Jika dalam beberapa waktu, bisa menikmati keindahan G. Merapi dengan pijar api di puncak dan lelehannya di waktu malam, maka wajah visual aslinya adalah munculnya wedhus gembel alias material awan panas yang mematikan.  Inilah tanda bahaya yang harus dihindari.

Manusia di sekitar lereng yang berada dalam kawasan rawan bencana perlu menghindar, mengungsi ke daerah aman. Berapa lama ini terjadi? Tiap fase erupsi, berbeda lama durasinya. Guna memastikan tentu mari percayakan kepada ahlinya untuk terus bekerja melakukan pemantauan, penelitian.

Sampai, artikel ini ditulis, G. Merapi statusnya Siaga level III.  Sampai kapan level ini bisa bertahan, apakah akan terus naik level dalam pengertian status aktivitas vulkaniknya membesar? Apakah justru turun status, sebab aktivitas vulkaniknya menurun?

Mari semua tetap siaga, bersiap menghadapi resiko terburuk. Bagi mereka yang berada di kawasan sekitar lereng tentu sudah mahfum, cara menghindari bahaya dengan mengungsi. Berpindah ke tempat yang lebih aman.

Hanya saja, semua tahu kini situasi pandemi masih berlangsung.  Berbeda dengan kondisi sebelumnya, tempat mengungsi atau barak adalah titik kumpul.

Aturan formal menghadapi pandemi, menghindari kerumunan. Ini tentunya pekerjaan rumah baru dalam aksi kemanusiaan. Kelola pengungsi di tengah pandemi. Harus diberlakukan protokol kesehatan agar semua pengungsi selamat. Semoga, begitulah doa semua orang.

*****

Hidup di kawasan rawan bencana,  hidup di tengah situasi bencana termasuk bencana non-alam telah membawa manusia menjadi adaptif.  Fenomena bahaya letusan, erupsi gunung berapi bermakna ganda.  Bukan sekedar bahaya semata tapi masa aktif gunung berapi menebarkan manfaat bagi lingkungan, bagi pertanian dan beragam manfaat lain yang bisa didapatkan setelah fase bahaya berkurang, mereda.

BPPTKG dalam beberapa upaya memberikan edukasi ke masyarakat sekitar lereng G. Merapi mengajak semua agar bisa hidup harmoni bersama. Proses panjang, edukasi ini terus berjalan sampai sekarang.

Di masa aktivitas gunung berapi yang meningkat, hidup harmoni bersama Merapi tentu masih relevan untuk kembali disuarakan,  digemakan seiring dengan proses mitigasi bencana.  Ini perlu, sebab jangan sampai kala masa tenang manusia hanya berpikir dan beraksi ekploitatif saja hanya cari untung. Butuh gerakan agar semua pihak masih memiliki kesadaran bersama  bisa turut serta menjaga keseimbangan lingkungan sekitar, sebagai ruang hidup bersama. Tidak berlebihan mengeksploitasi sumber daya alam.   Kalau yang begini, rasanya tak hanya penting bagi warga di sekitar lereng G. Merapi saja. Tapi untuk semua.

#ceritapinggirjalan
#bersepedaselalu
#mitigasibencana
#Merapi
#BPPTKG

Kategori
Transportasi

Akankah Bandara Kulon Progo Hormat Pada Tsunami?

Foto: TirtoID

Menurut laporan Gesit Ariyanto di harian Kompas (26/11), akhir Oktober lalu, tim perancang New Yogyakarta International Airport (NYIA) berkunjung ke Kochi Ryoma Airport di Jepang. Mereka berkunjung untuk mempelajari cara bandara Kochi menghormati fenomena alam bernama tsunami.

Bandara Kochi memang belum pernah didatangi tsunami. Namun, pengalaman bandara Sendai yang lumpuh saat terkena tsunami membuat para pengelola bandara di bagian Selatan Jepang itu berbenah. Mereka tidak ingin kejadian di Sendai terjadi juga di Kochi. Kala itu, ratusan orang terjebak di atap terminal bandara Sendai selama dua hari – sesuatu yang sangat memalukan di Jepang. Tidak ada bantuan datang karena lumpuhnya berbagai akses ke bandara.

Setelah kejadian memilukan itu, pengelola Bandar Udara Kochi mengubah desain terminalnya. Mereka mengusahakan lantai satu terminal tidak terlalu lama disinggahi para penumpang. Fasilitas yang ada di lantai tersebut tidak membuat penumpang berkerumun, seperti ATM, pengecekan bagasi, dan satu toko buah dan sayuran. Pintu keberangkatan berada di lantai dua. Dinding lantai satu juga didominasi oleh kaca dan material ringan, bukan susunan bata kaku. Sehingga, tsunami dapat dengan mudah melewati bangunan (menjebol kaca). Dinding kaku tidak dipilih karena akan membuat beban dari gelombang tsunami lebih besar bekerja pada tiang-tiang bangunan. Terminal di sana juga tidak mempunyai basement.

Apabila tsunami terjadi, evakuasi diarahkan ke lantai tiga. Petunjuk arah diberikan secara lengkap. Ada persediaan makanan yang cukup untuk beberapa hari. Tinggi lantai tiga dari tanah 9,15 meter. Sebab syarat tempat evakuasi yang aman dari tsunami tingginya 6 meter.

Para pengelola Kochi menganggap, kerusakan pesawat, landasan pacu, dan arsitektural lantai dasar tidak lebih berharga daripada nyawa manusia. Keselamatan manusia adalah yang paling utama.

Itu cerita dari negara di kawasan Asia Timur sana. Di pesisir Selatan Jawa, tepatnya di Kulonprogo, DIY, akan dibangun juga bandara yang berdekatan dengan bibir pantai. Calon bandara itu akan sangat berdekatan dengan laut yang secara kasat mata saja tidak tenang. Ombaknya berdeburan. Anginnya menekan-nekan wajah.

Baca juga: Musim Hujan: Potensi Bencana Likuifaksi

Menurut laporan Widjo Kongko, ahli tsunami di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), potensi gempa di Selatan Jawa, termasuk Kulon Progo mencapai magnitudo (M) 8 hingga M 9. Apabila gempa terjadi sebesar M 8,3, berdasarkan simulasi yang dilakukan Widjo, tsunami bisa terjadi dengan ketinggian 10-15 meter di pantai Temon. Daratan yang akan terkena dampak tsunami bisa mencapai 2 kilometer.

Hasil kajian Transformasi Cita Infrastruktur (TCI), apabila gelombang tsunami yang terjadi tingginya 10 meter saja, maka air akan menggenangi sekitar 305 hektare lahan. Artinya, landasan, apron (tempat parkir) pesawat, dan terminal akan terendam. Hal ini akan terjadi jika lanskap kawasan bandara tetap dibiarkan seperti sekarang.

TCI memberikan rekomendasi untuk mengurangi daya rusak tsunami. Disarankan, topografi diubah menjadi gumuk pasir dan pembuatan sabuk hijau sepanjang 50 meter ke arah daratan. Dengan skenario semacam ini, luas genangan yang akan tersisa hanya 3,5 hektare (1,1%).

Grafis: Ridwan AN

Langkah mitigasi tersebut baru membahas pencegahan kerusakan bangunan fisik bandara. Selain itu, mitigasi juga perlu membahas tentang manajemen penyelamatan manusia yang sedang berada di bandara. Karena, seperti yang diterapkan oleh Jepang, keselamatan manusia menjadi yang paling penting. Semoga saja ilmu yang didapat oleh tim desain bandara dari Kochi, Jepang, dapat diterapkan juga di Kulon Progo dengan menyesuaikan karakter lokal. Kochi sudah memberi contoh bagaimana kita mesti menghormati tsunami dengan mengikuti perilakunya. Sebab tsunami tak bisa dilawan. Kita yang harus menyesuaikan. Akankah bandara baru di Kulon Progo juga akan begitu?

Dandy IM
PijakID