Kategori
Society

COVID-19: Masa Depan Bumi dan Kesenjangan Sosial

Dunia sedang digegerkan oleh menyebarnya SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19. Cepat menular antar-manusia, dan bisa mengakibatkan kematian. Peluasan dan percepatan penyebaran SARS-CoV-2 difasilitasi oleh kemajuan teknologi transportasi beserta infrastrukturnya yang memungkinkan manusia berpindah tempat secara cepat, dengan jarak yang jauh, untuk saling berinteraksi. Sementara itu, kemajuan teknologi komunikasi dan informasi – terutama internet – memungkinkan pengetahuan dan kabar seputar virus ini juga menyebar secara cepat dan meluas. Termasuk hoaks dan berita palsu. Bukan hanya pengetahuan dan kewaspadaan yang diciptakan dan dipertukarkan, namun juga kepanikan.

Ada saatnya ketika suatu materi mikro tertentu muncul di planet bumi dan mengganggu bekerjanya organ tubuh manusia, sehingga menimbulkan penyakit yang bisa mengakibatkan kematian. Katakanlah materi mikro tersebut adalah mikroorganisme seperti bakteri atau virus (anggap saja virus sebagai organisme, meski ada yang tidak sependapat). Percepatan dan perluasan mobilitas manusia juga mempercepat dan memperluas penyebaran mikroorganisme tersebut antar-manusia. Tidak adanya tempat yang terisolasi mengakibatkan tidak ada rintangan bagi perpindahan atau penyebaran mikroorganisme tersebut ke berbagai tempat, meloncat ke semua tubuh manusia yang ada di muka bumi.

MASA DEPAN BUMI

Jika mikroorganisme yang mengakibatkan penyakit tersebut berhasil membinasakan seluruh manusia di bumi – misal karena tubuh manusia tidak bisa melawannya, atau tidak ada obat pembunuhnya – maka manusia (homo sapiens) tidak ada lagi di planet bumi. Tidak ada yang tersisa. Pada saat itu, sejarah manusia telah selesai. Apa yang mungkin terjadi kemudian?

Setelah manusia lenyap dari planet bumi, maka ekosistem di bumi mengalami perubahan atau penyesuaian. Puncak rantai makanan tidak lagi diduduki oleh manusia. Hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan akan memulai perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan tanpa ada intervensi manusia. Predator-predator dan mangsa-mangsa di bumi akan tetap ada, namun tanpa kehadiran manusia. Terjadi penyesuaian-penyesuaian baru.

[mks_pullquote align=”left” width=”300″ size=”24″ bg_color=”” txt_color=”#1e73be”]”Kepunahan manusia mungkin menjadi awal kemunculan kembali keragaman kehidupan organisme lain. Kiamat bagi manusia ternyata bukan kiamat bagi organisme-organisme lain di bumi.”[/mks_pullquote]

Artefak-artefak fisik hasil kebudayaan manusia, yang telah ditinggalkan oleh manusia, akan menjadi wahana bagi perkembangan kehidupan organisme-organisme non-manusia. Kapal-kapal yang karam di pantai akan menjadi terumbu karang di dasar laut. Tumbuh-tumbuhan mulai muncul di bangunan-bangunan gedung atau rumah, bandara-bandara, pelabuhan-pelabuhan, jalan-jalan, dan sebagainya. Organisme herbivora menggantungkan sumber energi pada tumbuh-tumbuhan yang beragam tersebut. Kemudian, organisme herbivora dimangsa oleh organisme carnivora dan omnivora, di dalam sebuah rantai makanan.

Saat itu, daratan, air, dan udara bersifat ideal bagi wahana kemunculan kembali berbagai tumbuhan dan hewan secara lebih beragam karena tidak ada lagi zat-zat kimia buangan atau limbah aktivitas manusia yang menjadi penghalang bagi kemunculan dan perkembangan berbagai organisme tersebut. Planet bumi seolah kembali ke keadaan sebelum manusia menempati puncak rantai makanan, sebagai predator tertinggi. Tidak ada “bencana” bagi flora dan fauna yang diakibatkan oleh manusia. Kepunahan manusia mungkin menjadi awal kemunculan kembali keragaman kehidupan organisme lain. Kiamat bagi manusia ternyata bukan kiamat bagi organisme-organisme lain di bumi. Tidak ada yang memburu hewan secara masal, tidak ada yang menghilangkan flora secara meluas.

Namun jika mikroorganisme tersebut bisa dikalahkan, disingkirkan, dibunuh, maka eksistensi manusia di planet bumi akan terus berlanjut. Mungkin mikroorganisme tersebut disingkirkan melalui usaha manusia, misal dengan penciptaan obat atau vaksin. Dengan demikian, manusia melakukan serangan balik pada mikroorganisme, dan mikroorganisme kalah.

Kemungkinan lain, mikroorganisme disingkirkan oleh sebab-sebab natural, yang bisa saja tidak pernah diduga oleh manusia. Misal, terjadinya evolusi pada tubuh manusia yang mengakibatkan tubuh manusia secara natural bisa mengalahkan atau mengendalikan mikroorganisme bersangkutan. Mungkin juga sebab natural lain, semisal perubahan cuaca atau iklim yang kemudian melenyapkan mikroorganisme tersebut. Atau sebab-sebab lainnya. Pada intinya, manusia tetap hidup, tidak punah.

Manusia akan melanjutkan sejarahnya lagi. Manusia akan tetap menempati puncak rantai makanan di planet bumi. Manusia akan kembali meneruskan eksploitasi terhadap apa yang ada di planet bumi (organik maupun anorganik) untuk kepentingan mempertahankan dan melangsungkan kehidupan manusia.

Berbagai tumbuhan dan hewan memang dibudidayakan oleh manusia. Didomestifikasi dan dipertahankan keberadaannya. Dipelihara atau ditangkarkan untuk dikonsumsi ataupun sekadar sebagai hiburan. Namun – sebagai dampak keberadaan manusia – tidak sedikit dari flora dan fauna kemudian tersingkir, punah dari planet bumi, secara disengaja (misal diburu atau dihancurkan oleh manusia) ataupun tidak disengaja (misal, habitatnya hilang karena telah dialihfungsikan oleh manusia). Kepunahan beberapa tumbuhan dan hewan tidak terelakkan. Ini adalah dampak natural dari keberadaan manusia yang selama ini telah terjadi.

EFEK YANG BERBEDA

Suatu serangan mikroorganisme – yang merusak organ vital manusia sehingga bisa mengakibatkan kematian – bisa saja tidak mengenal identitas kultural (agama, suku, bangsa, negara, dll). Menginfeksi semua manusia dengan latar belakang kultural yang beragam. Selama masih berada di dalam spesies manusia, mikroorganisme tersebut akan menyebar antar-individu. Mungkin akan ada orang-orang tertentu (misal, berdasar usia atau sejarah kepemilikan penyakit) yang akan mengalami pemburukan kesehatan saat terinfeksi mikroorganisme menular tersebut, yang itu tidak terjadi pada orang-orang “sehat” lainnya.

[mks_pullquote align=”right” width=”300″ size=”24″ bg_color=”” txt_color=”#1e73be”]”Masyarakat dari kelas atas maupun kelas bawah bisa saja sama-sama terinfeksi mikroorganisme penganggu. Namun, masyarakat dari kelas sosial-ekonomi bawah akan mengalami pemburukan ganda, yakni gangguan kesehatan tubuh (tubuh sakit) dan kelumpuhan kelangsungan kehidupan ekonomi.”[/mks_pullquote]

Hanya saja, semua gangguan tersebut seringkali berbeda dampaknya pada tiap-tiap manusia dengan latar belakang kelas sosial-ekonomi tertentu. Perbedaan latar kelas sosial dan penguasaan sumber daya ekonomi menyebabkan perbedaan dampak sosial-ekonomi. Suatu hierarki sosial ciptaan manusia, yang membagi-bagi kadar previlise, telah mendiskriminasikan dampak sosial-ekonomi di antara anggota masyarakat. Semua kelompok kelas-kelas bisa sama-sama terganggu secara sosial-ekonomi, namun dengan kadar yang berbeda.

Masyarakat dari kelas atas maupun kelas bawah bisa saja sama-sama terinfeksi mikroorganisme penganggu. Namun, masyarakat dari kelas sosial-ekonomi bawah akan mengalami pemburukan ganda, yakni gangguan kesehatan tubuh (tubuh sakit) dan kelumpuhan kelangsungan kehidupan ekonomi. Kelangsungan kehidupan ekonomi mudah lumpuh dikarenakan ketiadaan atau kurangnya kepemilikan sumber daya ekonomi. Kekurangan sumber daya ekonomi itu sendiri sering berada di dalam lingkaran-setan dengan kondisi kekurangan dalam hal sumber pengetahuan (pendidikan), perawatan kesehatan, pemukiman, juga previlise sosial-kultural.

Peristiwa sakitnya tubuh manusia akibat gangguan mikroorganisme adalah berada di dalam wilayah determinisme alam (sebab-akibat), berada di luar kesadaran manusia. Adalah suatu peristiwa natural ketika sebuah mikroorganisme mencari tempat untuk bisa aktif (hidup), meski kadang bisa merugikan organisme lain, termasuk tubuh manusia.

Sedangkan peristiwa kelumpuhan ekonomi seseorang dari kelas bawah sebagai dampak atas peristiwa sakitnya tubuh orang tersebut dikarenakan serangan mikroorganisme, maka hal ini tidak semata berada dalam konteks determinisme alam (jika memang dianggap demikiran), namun juga melibatkan faktor motif, dan faktor motif ini berkaitan dengan kehendak (will) manusia.

Dengan demikian, perbedaan dampak sosial-ekonomi pada setiap manusia (dikarenakan perbedaan syarat-syarat sosial-ekonomi di antara mereka) atas peristiwa sakitnya seseorang karena gangguan mikroorganisme juga merupakan peristiwa kultural, bukan semata peristiwa natural. Kesenjangan kelas-kelas sosial-ekonomi antar manusia merupakan hasil dari praktek-praktek dan gagasan-gagasan kehidupan sosial yang diciptakan manusia, digerakkan oleh motif-motif, diperintahkan oleh kehendak manusia. Justru faktor motif dan kehendak ini yang seharusnya sebelumnya dapat diketahui, diprediksi, diantisipasi, direkayasa, agar dampak buruk sosial-ekonomi (bencana sosial-ekonomi) atas suatu peristiwa natural bisa dikendalikan dan diatasi, termasuk dicegah. Motif-motif dan kehendak-kehendak sosial-ekonomi, yang menciptakan kesenjangan kelas-kelas sosial-ekonomi, yang mengakibatkan perbedaan dampak sosial-ekonomi ketika suatu bencana terjadi.

Kategori
Society

Covid-19: Akhirnya Kita Terbangun dari Ilusi

Saya juga heran kenapa ada keluarga di Sulawesi Tenggara yang membawa pulang jenazah PDP (pasien dalam pemantauan) korona dari rumah sakit menggunakan mobil pribadi. Tidak hanya itu, setelah sampai di rumah, keluarga membuka plastik pembungkus jenazah, lalu memandikannya, kemudian menguburkannya secara biasa (tidak mengikuti prosedur khusus pemakaman manusia terduga/positif korona). Prosesi ini tidak hanya dihadiri keluarga kecil, karena dari video yang beredar terlihat cukup banyak orang yang datang. Walaupun jenazah ini belum diketahui positif korona atau tidak, karena hasil tes belum keluar, semestinya kan tetap mengikuti langkah penanganan yang tepat. Sebab sudah PDP.

Pihak berwenang, berdasarkan penuturannya kepada  Kompas TV , tidak bisa berbuat apa-apa karena pihak keluarga yang menginginkan. Dari sini muncul pertanyaan dilematis, apakah keluarga jenazah memang berhak membuat keputusan? Atau sebaliknya, karena atas nama kepentingan umum, yaitu kesehatan masyarakat, keluarga harus mematuhi prosedur?

Hal ini tak pelak membuat kita masuk ke dalam perdebatan yang telah lama berlangsung: apa yang menjadi urusan publik? Apa yang termasuk urusan privat? Sampai batas mana negara bisa ikut campur? Apakah campur tangan negara dalam suatu bidang kehidupan, misalnya kesehatan, berlaku sepanjang waktu atau waktu tertentu saja?

Telah kita rasakan bersama, sebelum Covid-19 meluas di Indonesia, layanan kesehatan publik sangat mengecewakan. Ini bukan hanya tentang pengelolaan dan layanan BPJS yang menyedihkan, persebaran dokter yang tidak merata, dan pengelolaan puskesmas yang seadanya, tapi juga layanan air bersih, kebersihan lingkungan, pendampingan kesehatan, serta sanitasi yang tidak terurus. Hal-hal yang disebut terakhir ini tentu saja sangat berpengaruh pada kesehatan masyarakat, terutama dalam tahap pencegahan.

Mengapa baru sekarang kita merasa dan sepakat bahwa kesehatan adalah urusan bersama? Mengapa baru sekarang sebagian besar orang sepakat negara harus mengintervensi perilaku rakyatnya mulai dari bagaimana mereka hidup (berdiam diri di rumah) dan bagaimana menguburkan orang mati? Jawabannya tentu saja karena kini semua orang merasa terancam.

Ketika ancaman penyakit sudah begitu dekat pada dirinya, orang-orang mulai bicara soal kebersamaan, solidaritas, berjuang bersama, pemerintah harus hadir, saling bantu, gotong royong, dan semangat-semangat yang sejenis.

[mks_pullquote align=”left” width=”300″ size=”24″ bg_color=”” txt_color=”#1e73be”]”Tapi bagaimana jika situasi hari inilah yang normal? Bagaimana jika ketenangan yang kita rasakan sebelum kasus korona muncul di Wuhan China adalah ilusi?”[/mks_pullquote]

Sebagian besar orang bakal bilang bahwa situasi saat ini tidak normal. Sesuatu yang khusus. Krisis, karena sedang ada pandemi. Sehingga, wajar jika orang-orang mendesak pemerintah untuk bertindak lebih jauh dalam mengatur kehidupan warganya. Wajar jika banyak orang menyesalkan keputusan keluarga di Sulawesi Tenggara membuka bungkus jenazah PDP korona. Wajar pula jika banyak orang mempertanyakan keputusan orang-orang Wonogiri yang pulang kampung dari Jakarta. Semuanya ini wajar karena situasinya sedang darurat.

Tapi bagaimana jika situasi hari inilah yang normal? Bagaimana jika ketenangan yang kita rasakan sebelum kasus korona muncul di Wuhan China adalah ilusi?

Bagi saya, kondisi sebelum korona merebak sungguh tidak normal. Kita memaklumi sebagian kecil masyarakat mendapatkan tempat tinggal yang layak, air minum berkualitas, udara dan kebersihan lingkungan yang terjaga, layanan kesehatan yang jempolan karena duit banyak, rumah dan toilet selalu bersih karena punya pembantu, gizi anak terjaga karena mampu membeli asupan yang berkualitas, sementara sebagian besar orang harus memeras keringat setiap hari untuk mendapatkan itu semua. Itu pun pada akhirnya tidak tergapai.

Kita juga memaklumi sebagian besar orang yang tidak punya banyak harta dan aset berjuang sendiri untuk mendapatkan penghasilan agar mampu hidup, mengakses pendidikan, dan membeli layanan kesehatan. Tidak ada campur tangan negara untuk membuat bidang ekonomi lebih adil untuk semua, bukan hanya bagi orang-orang superkaya. Sedikit sekali intervensi negara agar masyarakatnya mendapatkan tempat tinggal yang layak demi kesehatan yang terjaga.

Bagi saya, kondisi hari inilah yang normal. Akhirnya kita konsisten mendesak pemerintah membuat langkah nyata dalam mengurusi kesehatan warganya. Akhirnya kita sadar bahwa tanpa para pekerja, dunia sungguh tidak berjalan. Akhirnya kita, para pekerja, sadar bahwa nasib kita benar-benar sudah digenggam pemilik perusahaan. Akhirnya kita tahu bahwa suatu negara membutuhkan lembaga kesehatan publik yang handal. Akhirnya kita terbangun dari ilusi.