Kala berkunjung ke Yogyakarta, apa saja yang diingat? Menjawab pertanyaan begini, tentu saja sangat subyektif jawaban yang akan didapatkan dari tiap generasi yang pernah singgah (baik sekedar berwisata maupun belajar/kuliah) ke kota Yogyakarta.
Sejarah Yogyakarta sebagai bagian NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) memiliki beragam atribusi yang dimiliki, mulai dari kota perjuangan hingga kota pendidikan. Kota warisan budaya juga merupakan atribusi yang melekat.
Ada perubahan besar yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir, yang telah membawa Yogyakarta menjadi kota besar dengan problematika warga kotanya. Tentu saja, keterbatasan ruang fisik dan pertanahan yang tersedia karena habis untuk hunian residensial dan komersial.
Ingatan romantis, politis, tragedi hingga bencana menjadi bagian sejarah hidup warga Yogyakarta. Sebagai tuan rumah yang berbagi ruang hidup bersama, warga Yogyakarta memiliki kemampuan adaptif, akulturasi antar-suku bangsa dan mengalami proses menjadi “manusia Jawa” sekaligus “Indonesia”.
Bidang pendidikan dan pariwisata adalah dua sisi penggerak perekonomian dengan sumber uang dari beragam penjuru negeri, juga mancanegara. Pasar yang tercipta di Yogyakarta adalah ruang ekonomi yang dihidupkan oleh kegiatan mahasiswa dari berbagai daerah dan transaksi perdagangan, serta jasa pariwisata. Tentu saja, geliat pasar tradisional yang bertahan menjadi tumpuan rejeki ibu-ibu pedagang pasar, buruh gendong, dan pelaku usaha rakyat yang mendapatkan remah-remah rejeki dari perdagangan pasar.
Apa yang bisa diingat dari Yogyakarta kini? Jika mengaktualkan lagi puisi Joko Pinurbo, ia menggambarkan Jogja itu terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Ini atribusi romantis.
Tak ada sumber daya alam yang bisa dieksploitasi dari kota Yogyakarta dengan luasan wilayah lahan perkotaan. Ruang kosong dan area kawasan terbuka hijau yang bisa menjadi ruang publik terbatas.
Uniknya, pemerintah kota Yogyakarta tak memiliki alun-alun. Keberadaan alun-alun dimiliki oleh Keraton Ngayogyakarta, yang kini berpagar besi dengan hamparan pasir pantai.
Akses publik untuk pemanfaatan ruang terbuka alun-alun milik keraton kini terbatas. Ini berbeda dengan kondisi beberapa tahun lalu. setiap ada event sekaten selalu ramai bahkan dalam beberapa lama paska pasar malam digelar masih ada kegiatan ekonomi.
Geliat perekonomian rakyat menjadi ikonik dan romantik. Urusan tak jauh dari remah rezeki parkir, pasar, perdagangan dengan skala mikro. Ada perebutan ruang ekonomi yang keras mewarnai kondisi sosiologis masyarakat perkotaan. Ada kejahatan juga kebaikan yang bertarung. Rekaman sepenggal visualnya, misalnya, bisa dilihat ulang dalam film Daun Di Atas Bantal karya Garin Nugroho.
Secara fisik penataan kawasan perkotaan yang menjadi ikon Yogyakarta kini dibangun dengan menggelontorkan dana keistimewaan DIY. Sumbu filosofis, bangunan heritage, titik bersejarah hingga museum telah direvitalisasi kembali dengan gelontoran dana dari pusat. UU Keistimewaan DIY memberikan peluang akses dana dan bonus fiskal yang menjadi sumber pendanaan pembangunan infrastruktur. Tentu bukan hanya untuk kota Yogyakarta semata.
Wajah transportasi juga berganti dari usaha jasa swasta dan koperasi angkutan menjadi pelayanan “buy the service” menghadirkan Trans Jogja. Namun demikian, inisator program ini adalah pemerintah provinsi dan kementerian perhubungan.
Makanan? Urusan kuliner kini semakin variatif. Pilihan yang bisa dikonsumsi dengan harga sesuai gerai, warung atau resto. Seperti kota-kota lain di Indonesia, Yogyakarta juga diserbu produk makanan dari luar, misalnya makanan Jepang, Korea, Arab, China juga Amerika.
Tetapi tentu saja, orang datang ke Yogyakarta bukan karena “menu internasional” tapi jelas ingin mencicip semua yang serba tradisional, serba rumahan, yang bikin kangen, yaitu gudegnya, sate klathak-nya, bakmie, wedangan bajigur, sedang uwuh, kopi joss yang dijajakan di lapak kecil dan tersebar di pelosok kampung dan pasar tradisional.
Yogyakarta adalah rahim tempat lahirnya semangat perjuangan kemerdekaan, semangat bersatu menjadi NKRI, semangat meningkatkan perikehidupan kebangsaan, nasionalisme, tempat pembelajaran dan ruang mencerdaskan anak bangsa dari berbagai suku bangsa sekaligus berdinamika dalam kancah global.
Bukan saja tempat lahir tokoh bangsa, tapi juga lahirnya kelompok terdidik dan terpelajar, gagasan kebangsaan.
Ruang ingatan seni dan budaya, sebagai kekuatan dan kehidupan masyarakat sipil dengan beragam ekspresinya, berdemokrasi, mengatur dan memilih pemimpin lokal, memilih wakil rakyat.
Ingatan praktek unjuk diplomasi budaya dan seni dalam beragam tarian, pitutur dan nyanyian tembang berpadu apik mewarnai perjalanan Yogyakarta sebagai kota besar. Tentu saja bukan hanya seni tinggi di balik benteng keraton, tapi seni milik masyarakat di luar benteng memberi dan mewarnai harmoni kehidupan kosmopolitan Yogyakarta.
**
“Yogyakarta menjadi termasyhur oleh karena jiwa kemerdekaannya. Hidupkan terus jiwa kemerdekaan itu.” Kalimat Bung Karno ini rasanya masih relevan dengan kondisi terkini, bagi siapapun yang mau mengingat dan merawat ingatan publik untuk menjadi manusia Indonesia yang merdeka.
Sepenggal pesan di bulan Desember tahun 1946, yang penting untuk diaktualkan kembali. Tentu saja bukan hanya untuk Yogyakarta semata tapi bagi siapa saja, warga negara di Republik Indonesia ini yang pernah merasakan atmosfer, udara, air dan saujana di Yogyakarta.
