Kalau kita bertemu simbah yang sudah lansia, sering kali mereka menceritakan hal-hal di masa lalu, mulai dari cerita fakta sampai dengan sebuah dongeng. Bahkan, beberapa lansia itu menyalurkan cerita-cerita yang mereka tahu menjadi sebuah nyanyian. Seperti yang dilakukan oleh Mbah Gesang, seorang ‘maestro keroncong Indonesia’ yang menggubah sebuah lagu dari cerita sebuah sungai ikonik di Jawa, yaitu Bengawan Solo. Cerita lansia aktif seperti Mbah Gesang mungkin memang absurd juga rasanya kalau dikisahkan ke anak cucu kelak.
Usia lansia bisa jadi cerita sejarah yang mana suka, mau dipilihkan hal-hal yang baik atau yang buruknya. Bagaimana sikap seorang lansia kala memiliki kuasa dan mendapatkan kepercayaan? Bekerja benar untuk rakyatnya, atau sebaliknya, misalnya. Seperti Presiden Prabowo dengan segala paradoksnya. Trump, yang juga lansia aktif dengan aksi kontroversi, terkini menangkap Presiden negara lain, pemimpin Venezuela, Maduro. Siapa lagi lansia aktif memimpin negara ya?
Tapi ini bukan hendak berkisah sepak terjang lansia yang berkuasa. Ini cerita lirik lagu yang dinyanyikan Mbah Gesang, Lgm Dongengan, yang rasanya jadi kontekstual dan memiliki relasi dengan zaman kekinian.
Melalui dendang lagu keroncong, yang populer di masa itu, ternyata lagu ini masih enak juga kita dengar kembali di tengah-tengah banjirnya lagu berbahasa Jawa yang nge-pop, katakanlah seperti yang dinyanyikan Ndarboy Genk, MasDhodo, sampai Denny Caknan, atau diva dangdut perempuan macam Niken Salindri, Nella Kharisma dan lain-lain.
Kalau mau bicara isi pesan lagu, ya ada sedikit beda perhatian di lirik-liriknya. Maklum saja, situasi zaman akan memberikan impresi atau momen puitik yang berbeda-beda bagi penciptaan lagu. Misalnya, di Lgm Dongengan ini berkisah bagaimana bingkai situasi masa revolusi Indonesia dilagukan, bagaimana citra kesejahteraan masyarakat desa dihadirkan dalam lagu. Desa memiliki kekuatan, memiliki tempat aman, menyenangkan bagi orang-orang kota yang pergi mengungsi. Cerita desa yang khas dan sampai sekarang punya makna khusus.
Desa adalah ruang bersama orang-orang biasa yang memberikan sumbangsih juga pada negara dengan kerja nyata. Desa menjadi penopang produksi pangan hingga jadi tujuan merasakan saujana alam desa. Tapi, di desa-desa Nusantara saat ini bisa mudah kita menemukan paradoks ke-Indonesia-an. Hadir wajah kemiskinan di desa, belum terfasilitasinya infrastruktur dasar yang ada dan terawat baik, seperti jalan desa yang rusak, fasum olahraga yang standar atau katakanlah pelayanan kesehatan yang handal.
Hari-hari ini, ada cerita pembangunan fisik dalam angka yang dipamerkan, dijadikan bukti rasa peduli dan pemenuhan janji. Tapi, riilnya, kelak itulah jalan tol pasar komoditi pabrikan yang didatangkan. Desa menjadi sasaran pengerukan segala kekayaan yang dimiliki dan sekadar jadi pasar komoditi semata.
Sebutlah Koperasi Desa (Kopdes). Tentu saja pilihan koperasi sudah betul. Akan tetapi, koperasi sejati bukanlah bentuk fisik kantornya, melainkan semangat berkoperasi yang harus tumbuh, kesadaran berorganisasi dan kerja kolektif kumpulan orang-orangnya, bukan fokus angka-angka hasil imajinasi pusat semata. Mau contoh problema sentralisasi? Simaklah penyelesaian masalah lapangan sepak bola yang dijadikan kantor Kopdes. Karena ditolak warganya, tentara yang harus berdebat urusan menyukseskan program pusat. Mereka jauh merangsek ke urusan sipil.
Saksikanlah bagaimana “pengetahuan” pertukangan kayu kini berganti dengan galvalum. Produk impor deras masuk ke pedesaan di seluruh Nusantara. Itulah produk moratorium salah kelola hutan, yang sekarang hendak disulap jadi kebun produksi pangan, kebun monokultur yang rawan masalah di masa depan.
Alih alih membangun, ada langkah sistematis yang tengah berlaku, yaitu mematikan kohesi sosial di desa. Membuat gaduh hanya karena “perintah pusat” itulah paradoks nyata problem kebijakan yang fatal berdampak nyata bagi kehidupan warga desa.
Melalui lagu, Lgm Dongengan kalau direfleksikan dengan cerita desa, maka lagu ini telah melampaui zamannya. Kehidupan di desa, yang ada hanya di dalam imajinasi kemajuan. Faktualnya, harmoni dan kearifan masyarakat desa kini tengah dirusak oleh alasan-alasan sentralisasi kebijakan.
Jadi, kira kira Dongengan Kuasa seperti apa yang dengan bangga kelak bisa diceritakan ulang ke anak cucu? Hal-hal yang palsu, janji, ijazah atau sebaliknya narasi cerita yang memperkuat jati diri kemanusiaan, seperti yang pernah dinyanyikan oleh Mbah Gesang ini?
Mari mengingat lagi lirik Lagu Keroncong Dongengan:
Sinten purun kula dongengi
Siapa yang mau saya ceritakanDongenge sedulur ndesa
Ceritanya tentang saudara-saudara desaSugih sawah lan sugih pari
Kaya akan sawah dan padiAyem ing ati ora murka
Hatinya tenteram, tidak mudah marahAgeng labuhe dateng negari
Besar jasanya bagi negeriRupa bandha lan rupa arta
Baik harta benda maupun kekayaanJaman gerilnya ing nguni
Pada masa perang gerilya dahuluTiyang kutha ngungsi teng ndesa
Orang-orang kota mengungsi ke desaPun Kakang lan Mbakyu le nampi
Para Kakang dan Mbakyu menerimaLair batin suka lan lila
Dengan tulus, lahir dan batinNjamin papan lan njamin tedhi
Menjamin tempat tinggal dan rasa amanLuwung senadyan cara ndesa
Walau dengan cara sederhana ala desaPocape nalika kuwi
Ucapan mereka saat ituSapa wonge ora rumangsa
Siapa yang tidak tersentuh hatinyaTerimakasih batine muni
Terima kasih bergema di dalam hatiSuk yen aman, walesku apa
Jika nanti sudah aman, apa balasankuTutuge le ndongeng puniki
Akhir dari cerita iniIndonesia wus mardhika
Indonesia telah merdekaDikantheni tatanan adi
Disertai tatanan yang luhurNgajeni mring pada manungsa
Menghormati sesama manusiaAture le ndongeng puniki
Pesan dari cerita iniYen Kakang lan Mbakyu ten kutha
Jika Kakang dan Mbakyu berada di kotaWelinge aja nganti lali, lan aja disia-sia
Pesannya: jangan sampai lupa, dan jangan disia-siakan
