Membela agenda di luar kekuasaan butuh keberanian. Salah satunya adalah mendorong keragaman pangan nusantara di luar menu makan yang disodorkan pemerintah.
Kenapa penting dan perlu membela yang paling lemah dan bukan pemilik kuasa yang kuat? Iya, karena bisa jadi kepemimpinan yang kita percaya, yang kita pilih, justru menjalankan agendanya sendiri. Bukan sekadar maksud baik yang jadi janji sebelum terpilih.
Ingat saja, ini hal-hal univeral. Sejarah peradaban dunia dibangun bukan dari perut yang kenyang tapi invensi dari para cerdik cendekia. Rasanya perlu juga menjelajah sedikit kilas balik ke sejarah bangsa-bangsa dunia, juga warisan peradaban yang berkisah soal kekalahan juga kemenangan. Kelahiran dan kehancuran peradaban dan hal-hal apa saja yang mempercepatnya.
Simak bagaimana hadirnya para pejuang negeri, bagaimana kecerdasan lahir dari bangku sekolah, bukan urusan apa isi piring mereka di masa kecilnya. Apalagi, untuk konteks nusantara, semakin beragam isi piring makan warga dan rakyat biasa juga isi piring anak-anak, maka akan lahir beragam pengetahuan baru, soal rasa, soal keberagaman budaya dan tentu saja ketahanan pangan serta pengalaman rasa.
Sebab negeri ini sangat luas yang memiliki keragaman kuliner dan eman-eman kalau manut saja pada menu seragam yang sudah diinstruksikan pusat. Secara perlahan pasti ada pengetahuan lokal yang dihilangkan paksa dan didikte seragam oleh pusat.
Kalau boleh memilah ingatan, upaya mendisiplinkan isi piring di meja makan itu lahir dari budaya kuasa imperialisme yang berkembang dari masa ke masa. Simak saja film dokumenter Mother Dao, sebuah rekaman visual antropologis tentang masyarakat di pelosok nusantara (sebelum akhirnya jadi bangsa Indonesia merdeka).
Ya bolehlah ngotot, dengan referensial hari-hari ini, alam pikiran pemilik kuasa hari ini. Tapi, berkelana sejenak melihat berbagai film dokumenter urusan menu makanan, di berbagai negara maka sangat terasa hal-hal berbau disiplin, bersumber dari tradisi barak bukanlah sesuatu yang wajib diterima oleh warga negara, pun dengan embel-embel gratis sekalipun. Fast Food Nation, dokumenter lain soal makanan memberi informasi bagaimana penyeragaman selera membuat urusan gizi lebih jadi masalah warga Amerika Serikat.
Sebelum semuanya diseragamkan, didisiplinkan, ditertibkan dan semua sesuai kemauan pusat, maka bersyukurlah kala bisa menikmati keberagaman sumber pangan, memiliki bahan pangan yang dihasilkan oleh lingkungan sekitar habitat hidup warga. Ada beragam budaya, cara makan, alat-alat makan warga bangsa. Jadi kalau ada seruan bersikap patriot, percaya diri saja, menu makanan yang beragam adalah sumber kekuatan dan energi bangsa Indonesia, energi kuat nilai-nilai patriotik.
Table manner, istilah ini bisa mendekati bagaimana komodifikasi urusan makan serba seragam dijalankan. Jelas, tidak ada kebebasan apa-apa dalam urusan piring makanan anak-anak dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Apapun pujian atas program yang di klaim pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto dengan mudah bisa dipatahkan dengan hal-hal sederhana.
Menu yang seragam, rantai bisnis, dan yang paling parah adalah kacau dan hilangnya keberagaman menu makanan anak-anak kita hari ini. Jika MBG terus dipaksakan, rasanya akal sehat sebagai manusia harus dikesampingkan sejenak untuk sekedar memenuhi kepuasan klaim sepihak.
Bayangkan, sampai ada kebijakan saat liburan sekolah, anak-anak kita tetap menerima MBG. Rezim kuasa apa yang sangat suka hal-hal seragam, jelas bukan alam pikiran masyarakat sipil yang sehat.
Kala ada kabar MBG diliburkan saat liburan sekolah bisa menghemat beban pengeluaran negara, semoga saja bisikan ibu-ibu di Pasar Beringharjo ke Menteri Purbaya sebagai bendahara negara bisa lebih bergaung keras dan bermakna.
Bayangkan, sekedar urusan isi piring makan saja rakyatnya harus berjilid-jilid untuk ingatkan pemilik kuasa, ada yang salah dalam politik menu makanan di piring anak-anak bangsa.
Di momen Idul Fitri, sejatinya hadir nyata bagaimana keberagaman adalah energi bangsa ini. Bukan hal hal yang seragam mulai dari piring makanan dan isinya. Anak-anak bisa mendapatkan beragam makanan yang paling disukainya di tiap meja rumah keluarga kala berkunjung dan bersilaturahmi. Gratis semuanya.
Inilah hal-hal baik, yang dimiliki oleh warga bangsa, budaya nusantara. Apakah ada intruksi khusus dari pemerintahan untuk pengadaan makanan di tiap rumah kala Idul Fitri? Kenapa bisa ada alam pikiran berbagi makanan gratis tanpa ada ongkos alokasi anggaran negara?
Selamat Idul Fitri1447 H, meski berbeda-beda suguhan menu di piring keluarga nusantara, mohon maaf lahir batin.
