Kategori
Society

Air Bersih Semakin Krisis, Mari Merawat Sumber Daya Air

Warga masyarakat di Penang, Malaysia dikabarkan harus berebut air kemasan sampai jadi berita yang viral. Kabar begini tentu menjadi perhatian banyak orang. Urusan konsumsi air minum, cukupnya kebutuhan air minum, menjadi bagian penting keseharian manusia.

Air minum yang gratis didapatkan dan tersedia dari alam di lingkungan sekitar seiring perkembangan waktu semakin bernilai. Ada harganya yang cukup menguras kantong. Meski dalam keseharian juga, banyak yang mengabaikan urusan merawat sumber daya air.

Hadirnya teknologi telah membantu kehidupan manusia untuk urusan tertentu. Teknologi telah memberikan kemudahan sekaligus ketergantungan dan kebiasaan baru. Cara-cara lama ditinggalkan karena hadirnya budaya yang diciptakan oleh teknologi. Termasuk urusan konsumsi air. Awalnya di tiap keluarga bisa memasak air untuk konsumsi harian dengan sekadar mengambil secukupnya dari sumur, dari sungai atau sumber mata air lain yang berada di lingkungan.

Seiring dengan abainya urusan merawat sumber daya air dan adanya efek perubahan iklim dunia, kebutuhan air bersih, air minum menjadi barang mahal yang bernilai ekonomis tinggi. Harus berebutan untuk mendapatkan air minum guna kebutuhan keseharian.

Sumber daya alam (SDA) yang awalnya milik publik dikuasai privat oleh berbagai perusahaan. Sumber air bersih tak dikelola dan dikuasai negara tapi perusahaan penyedia jasa air bersih hingga pengusaha air dalam kemasan yang mengejar untung dari tata kelola air. Konflik, ribut-ribut antara warga dengan perusahaan semakin sering bermunculan dalam pemberitaan. Petani ribut dengan perusahaan, sebab irigasi sawahnya terganggu karena sumber air dikuasai perusahaan. Petani kesulitan mendapatkan pasokan air yang berlimpah karena sumber air dikelola dan dikuasi untuk jadi barang bernilai tambah, air dalam kemasan.

Inilah persoalan terkini yang sebenarnya sudah hadir dalam beberapa dekade terakhir. Problem merawat sumber daya air terjadi di banyak daerah. Di kawasan perkotaan, air sudah tak layak lagi untuk mencukupi kebutuhan air minum karena kandungan air di sumur tercemar bakteri e-coli yang tak baik bagi kesehatan. Di pedesaan, air dalam kemasan merasuk jauh menggantikan budaya memasak air yang butuh waktu. Air dalam kemasan lebih praktis dan mudah, meski pada ujungnya ya harus berebutan air minum seperti yang terjadi di Malaysia beberapa hari terakhir ini.

Selain urusan infrastruktur jalan raya, yang fokus jadi perhatian pemerintah pusat karena viral beberapa waktu seperti di Lampung, yang membuat Presiden Joko Widodo datang ke lokasi terparah rusak jalannya, urusan merawat SDA air tak boleh terlupakan juga.

Bagaimana memanen air kalau musim hujan dan selalu merawat SDA air di setiap waktu bisa dikerjakan sejatinya penting juga mendapat perhatian bersama. Budaya merawat sumber daya alam yang ada, harus jadi kesadaran bersama. Mungkin ini tak populer, meski sebenarnya penting selalu disuarakan, diingatkan dalam benak publik. Budaya dan kebiasaan apa saja yang beresiko merusak SDA air perlu dihentikan.

Di masyarakat pedesaan ada budaya merti dusun, merawat alam lingkungan sekitar. Merti kali yang fokus merawat juga sumber air bersih yang ada, bagian kebudayaan berbalut tradisi yang baik. Merawat lingkungan agar lebih asri, sejuk, membuat lingkungan nyaman huni sejatinya bagian kearifan budaya lokal di banyak daerah.

Masalahnya, seiring waktu dan perkembangan zaman, SDA air yang tersedia lupa dikelola dengan baik. Manusia mencari mudahnya untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi segala sesuatu di lingkungan menjadi komoditi ekonomi. Mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dalam waktu pendek. Urusan kerusakan lingkungan, urusan lain.

Masih ada waktu dan belum terlalu terlambat untuk selalu mengingatkan pentingnya merawat SDA air yang ada. Mulai dari hal-hal kecil dan yang dekat saja bisa dikerjakan. Air sudah menjadi kebutuhan pokok manusia. Saat abai merawatnya, jelas sekali kerugian dan mahalnya harga air untuk sekedar dikonsumsi bagi kebutuhan keseharian. Air adalah barang publik yang jadi barang konsumsi bagi pribadi dan perusahaan besar. Merawat SDA air adalah kewajiban dan tak boleh diabaikan. Kala pemerintahnya lupa dan lalai, rakyatlah yang paling merasakan dampaknya.

Musim kemarau sudah tiba, di sejumlah daerah tanah air punya masalah berulang tiap waktu. Kesulitan akses mendapatkan air bersih. Persoalan tahunan yang belum selesai juga. Bagaimana memanen air di kala musim hujan dan merawat SDA air harus jadi budaya bersama kita semua.

Cara-cara merawat SDA air sudah ada beserta teknologi dan seperangkat kebijakan pendukungnya. Hanya butuh praktek nyata, dalam pelayanan dan praktek keseharian saja.

 

Tinggalkan komentar