Sebagian besar manusia kini menghabiskan waktu luangnya untuk doomscrolling. Istilah ini merujuk pada aktivitas yang berlebihan dalam mengakses konten-konten di media sosial dan berita-berita singkat. Konten-konten yang banyak dikonsumsi terutama yang memicu rasa amarah, kecewa, tersinggung, dan akhirnya pertengkaran yang tidak perlu. Desain sebagian besar media sosial yang ada saat ini membombardir pengguna internet dengan konten-konten yang memicu rasa ketagihan, sehingga beberapa pengguna internet bahkan akan gelisah jika tidak bisa mengakses suguhan konten-konten semacam itu. Aplikasi media sosial bisa tahu masing-masing pengguna internet maunya konten yang seperti apa yang ingin dilihat, dengan melakukan evaluasi terhadap aktivitas mereka di internet pada masa lampau.
Jika kamu merasa orang-orang di sekelilingmu tidak terjerembab dalam jebakan doomscrolling, itu adalah hal yang patut disyukuri. Hari-hari ini tidak mudah menemukan lingkungan yang demikian.
Istilah lain yang kini populer dalam obrolan mengenai kultur media sosial adalah attention span. Mudahnya, istilah ini merujuk pada seberapa lama seseorang bisa fokus pada suatu hal. Kata orang-orang, manusia yang sudah kecanduan konten-konten singkat di media sosial, attention span mereka akan menjadi sangat pendek. Seseorang yang menghabiskan sebagian besar waktu santainya untuk mengkonsumsi konten-konten singkat yang mendominasi media sosial Twitter, Instagram, Tiktok, dan Youtube, lama kelamaan kemampuan dia untuk fokus pada sesuatu akan terus berkurang hingga menjadi sangat payah. Orang ini akan tidak tahan membaca artikel-artikel panjang, apalagi membaca buku. Okelah kalau tulisan mungkin memang membosankan untuk sebagian orang. Tetapi ketika attention span kita sudah merosot jauh, video panjang di Youtube yang membahas sesuatu yang ‘serius’ pun akan sangat melelahkan bagi kita.
Saya tidak sedang menuding orang-orang dengan attention span yang sudah pendek sebagai seburuk-buruknya manusia. Di tengah kehidupan yang semakin berat akhir-akhir ini, mulai dari sulitnya mencari lapangan pekerjaan, genosida yang terus berlangsung di Palestina dan terekam jelas di layar kaca gadget kita, udara yang terus kotor, sampai dengan kemacetan jalan yang tak kunjung usai, tentu konten-konten hiburan di media sosial adalah pelarian yang nikmat. Kita sungguh menikmatinya walaupun tidak hanya rasa senang kita yang dilayani oleh konten-konten itu, tetapi juga luapan amarah, benci, dan kecewa. Di sela-sela makan siang saat jam istirahat kantor, kita mengistirahatkan otak sejenak sambil mengikuti gosip-gosip atau skandal-skandal terbaru di media sosial.
Saat sebagian besar mata, telinga, dan pikiran manusia kini terjerat oleh konten-konten pendek di media sosial yang memuaskan hasrat pelarian, kecerdasan artifisial (artifical intelligence) atau AI terus rajin mengkonsumsi seluruh informasi yang ada di ruang cyber. Entah itu konten receh dan singkat atau tulisan akademik panjang yang ‘ribet’ dan ‘terlalu serius’ menurut sebagian besar manusia, AI tetap mencerna itu semua. Dengan kata lain, AI terus belajar, sementara sebagian besar manusia lebih suka bersenang-senang dengan hasratnya. Beberapa komentator populer bilang bahwa AI tidak akan bisa menyamai kecerdasan manusia. Ini mungkin betul jika kita membandingkan AI dengan seorang peneliti yang memang serius menekuni bidang risetnya. Tetapi bagaimana jika kita membandingkan AI dengan 89,8% orang Indonesia yang berusia di atas 15 tahun yang menurut data BPS tahun 2024 tidak lulus perguruan tinggi? Saya ragu AI tidak lebih pintar. Meskipun saya adalah seorang sarjana Teknik Sipil dari Universitas Gadjah Mada, saya pun ragu bisa mengalahkan kepintaran AI dalam ilmu Teknik Sipil.
Saya mengulas hal ini tidak dalam nada yang negatif. Justru, saya pikir ini bisa jadi hal yang baik untuk umat manusia. Sepanjang AI tidak ikut-ikutan manusia terlena pada konten-konten singkat yang memperpendek attention span, berarti ia semakin hari bisa semakin diandalkan. Ia tidak lagi sebuah mesin yang hanya bisa menuntaskan kerja-kerja repetitif (pengulangan), tetapi juga kerja yang membutuhkan daya pikir dan membuat keputusan. Bisa aja dunia ini menjadi lebih baik jika peran manusia semakin berkurang dalam pengambilan keputusan, terutama keputusan-keputusan yang berulang tetapi membutuhkan analisis situasi terkini secara cepat.
Sebuah driverless car (mobil tanpa sopir) adalah salah satu contoh dalam perkara ini. Jumlah kecelakaan lalu lintas di Indonesia terus mengkhawatirkan. Dari tahun 2019-2024 atau lima tahun terakhir, trennya secara umum mengalami kenaikan. Hanya dalam rentang tahun 2019-2020 yang mengalami penurunan, karena ada Pandemi Covid-19 yang membatasi pergerakan orang. Kecelakaan lalu lintas memang tidak hanya disebabkan oleh kelalaian sopir saja. Geometrik jalan juga berpengaruh. Akan tetapi, kecelakaan akibat keteledoran manusia juga tidak bisa kita abaikan. Sopir sering kali membuat keputusan-keputusan yang menyebabkan terjadinya kecelakaan, seperti menyetir dengen emosi, memaksa terus menyetir walau sudah mengantuk, dan menyetir sambil main hape. Mobil yang sepenuhnya dikendalikan oleh AI (sebaran sensor di sekujur mobil dan algoritma keputusan di dalam perangkat lunaknya) mungkin lebih aman dan bisa menekan angka kecelakaan. Bisa jadi, ketika manusia hanya menjadi penumpang dan tidak ikutan dalam pengambilan keputusan, harapan hidupnya menjadi lebih baik. Hal ini tentu juga berlaku dalam masalah-masalah lain seperti krisis iklim, distribusi logistik, dan bencana lokal.
Cara pandang seperti yang saya uraikan di atas inilah yang membuat saya tidak khawatir catatan-catatan saya dalam bentuk esai pendek di Pijak ID ini tidak dibaca oleh manusia. Biarkan AI saja yang membacanya. Sebab, pembaca yang tekun saat ini adalah AI, bukan manusia.
