Kategori
Beranda Infrastruktur Society

Anak Tiri Itu Bernama Transmigran

Selain prasarana dasar yang belum memadai, bumiputera maupun transmigran juga harus berjibaku dengan dampak lingkungan maupun sosial dari korporasi-korporasi yang hadir. Debu jalanan, perubahan bentuk badan sungai, dan erosi adalah sedikit dari seluruh dampak yang terjadi pada masyarakat sekitar.

Jeduk. Suara ban mobil yang ku naiki terdengar sangat kencang. Lubang di jalan ini sudah berusia hampir sama dengan supir yang membawa mobil ini. Sejauh ingatannya, lubang ini sudah ada di sana.

Nek nyupir alon-alon!”, kata penumpang di kursi depan.

Walaupun jauh dari tanah mainland, Bahasa Jawa umum dipakai di sini. Pendatang yang dikirim oleh Bapak Pembangunan sudah berketurunan hingga cicit. Beberapa bumiputera, yang biasa dipanggil dengan sebutan “orang kampung”, bahkan turut menguasai bahasa ini, akibat orang Jawa menjadi mayoritas di beberapa satuan perumahan (SP).

Pandemi membawa nasibku ke sini. Sebagai lulusan baru yang medioker, mencari pekerjaan di masa krisis cukup sulit kala itu. Di antara segala lowongan yang ada, pekerjaan yang jauhnya tiga kali transit bandar udara menjadi rezeki yang harus ku terima dan jalani.

Kembali ke lubang jalan. Puluhan tahun setelah para pengadu nasib menginvasi kawasan itu, kesejahteraan masih kunjung tak merata. Mereka menanam cabai dan bawang, tapi tidak ada pasar induk yang menampung surplus produksinya. Setiap panen mereka mengandalkan informasi dari timur maupun barat, di mana harga produk mereka cukup bagus di situ mereka kirim jual. Berjudi. Tidak ada orang yang menjamin, apakah di sana harganya benar-benar bagus.

Sementara, berhasil panen itu adalah privilese. Pembagian tanah kelolaan oleh kantor bidang urusan transmigrasi dulu tidak terlalu merata soal kualitas lahannya. Ada yang untung, banyak yang apes. Kalau untung, bisa lah hasil dari sekali panen turun motor baru dari dealer resmi jenama otomotif terkini. Tapi kalau tidak laku, semasa panen ke depan itu hasil panen disajikan di meja makan sendiri.

Peliknya permasalahan ini sudah dimulai dari awal program si bapak itu. Memobilisasi manusia dalam jumlah yang banyak ke tempat-tempat jauh, tanpa memikirkan sarana dan prasarana pendukung kesejahteraan. Bagi mereka yang mengadu nasib, harapan hidup layak adalah motivasi terbang ke daerah-daerah asing itu. Bahkan setelah berpuluh tahun menghuni, infrastruktur-infrastruktur dasar belum dapat terpenuhi secara layak.

Nek ra kerjo tani, ya ajar nyupir, ben iso melu muat pasir apa sawit neng etan kana”, ujar kawan tadi di belakang kemudi.

Kesejahteraan tidak hadir dengan pengadaan lapangan kerja yang padat karya oleh pemerintah. Bahkan setelah janji sembilan belas juta lapangan kerja. Warga sekitar yang apes lahan garapannya tadi, harus melamar kerja ke korporasi ekstraktif yang datang kemudian. Sumber daya alamnya masih dara, sementara sumber daya manusianya murah. Amboi, eksploitasi yang paripurna!

Selain prasarana dasar yang belum memadai, bumiputera maupun transmigran juga harus berjibaku dengan dampak lingkungan maupun sosial dari korporasi-korporasi yang hadir. Debu jalanan, perubahan bentuk badan sungai, dan erosi adalah sedikit dari seluruh dampak yang terjadi pada masyarakat sekitar.

Sementara transmigran masih turut berdatangan hingga kini, SP juga semakin banyak dibangun dengan membabat hutan-hutan lokal, akses jalan dan air bersih masih nanti dulu. Sulit memang untuk memahami alur berpikir kawan-kawan amtenar dan para pembuat kebijakan ini. Ujung pikiran dalam tiap program hanya berakhir di luaran, bukan hasil. Entah bagaimana proses pembuatan kebijakan ini dulu sehingga sangat tidak mangkus seperti ini.

Di akhir, keberhasilan program kerja hanya berakhir di angka-angka. Sedangkan realita setiap individu yang mengikuti program itu tidak jelas bagaimana. Aku? Hanya bisa gusar dan mengamati, sedangkan nasibku pun masih bergantung kepada kebijakan mereka-mereka itu. Nanti juga dalam lima tahun ke depan mereka terpilih lagi.

Yogyakarta, 2 November 2025. Ditulis sebagai praktik pada agenda: Kelas Menulis Gusdurian Jogja.

avatar Agri Satrio A. N.

Oleh Agri Satrio A. N.

Masih mendaki, menuju puncak tertinggi piramida.

Tinggalkan komentar