Kategori
Society

Keluarga Telah Gagal

Saya tahu ini tidak pantas diucapkan pada Moko – seorang pemuda yang baru lulus kuliah arsitektur yang tiba-tiba harus mengurus lima keponakannya (tiga sudah sekolah, satu baru lahir, satu titipan) karena kakak perempuan dan iparnya meninggal dunia, dan seorang bapak yang kabur meninggalkan anaknya. Moko telah membunuh mimpinya sendiri, yang telah ia angan-angankan bersama pacarnya. Ia percaya pada takdirnya, meskipun sungguh, lelahnya tak terkira.

Tetapi toh, saya akan tetap mengatakan ini pada Moko: untungnya, masih ada tembok di rumahmu yang bisa dibongkar untuk membuat ruang tamu yang lebih jembar. Ada sebuah keluarga, di Jakarta juga, yang bahkan tidak punya tembok untuk dihancurkan. Sebab, satu-satunya ruang di rumah yang mereka miliki adalah sepetak ruangan berukuran 2×3 meter saja. Anggota keluarga mereka bahkan lebih banyak daripada anggota keluargamu. Alhasil, jangankan menghancurkan tembok, tidur saja mereka bergantian karena satu ruangan itu tak cukup untuk menampung mereka semua.

“Jadi kalau nenek bangun, anaknya masuk,” kata Siti Juwariyah yang membantu menjelaskan kondisi Ibu Hasna, warga Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, yang tinggal dengan 3 anak dan 9 cucunya di ruang berukuran 2×3 meter. “Capek, nyari duit buat nempatin ini cucu semua. Nyari duit buat cucu beli makan, saya kerja dari dulu. Ada kali berapa tahun, 20 lebih kerja. Kerja melulu, saya capek,” ujar Ibu Hasna.

Saya tidak hendak membandingkan penderitaan keluarga Moko dengan keluarga Ibu Hasna, atau keluarga yang lain. Tetapi, setelah menyaksikan kisah keluarga Moko dan mengingat cerita keluarga Ibu Hasna, saya semakin yakin keluarga memang telah gagal. Keluarga gagal memenuhi janjinya.


Keluarga lebih tua daripada negara. Mungkin karena itulah janjinya juga lebih agung dan mendasar: menyediakan kasih sayang. Seorang anak yang baru lahir meredakan tangisnya di pelukan ibu. Perasaan keterasingan dan kekurangan yang ada pada diri si bayi pertama-tama terkikis oleh sensasi di mulutnya yang diperbolehkan mengulum puting susu ibunya.

Perasaan aman dan damai di pelukan ibu yang dinikmati si bayi mula-mula dirisak oleh kehadiran sang Ayah. Tetapi kemudian, kehadiran sosok sang Ayah inilah yang merangsang fantasi masa depan si bayi. Ia akhirnya punya panutan. Ia tahu, ia perlu mengikuti jejak sang Ayah agar bisa diakui sebagai seorang individu yang punya kendali atas dirinya sendiri.

Keluarga berjanji pada kita, seberapa pun menyakitkan kehidupan di luar sana, kita masih punya keluarga untuk pulang. Ada keluarga yang akan memberi pelukan paling erat untuk menyerap seluruh penderitaan atau kekesalan kita di hari ini. Kehidupan di luar keluarga bisa sangat sadis dan saling injak. Tetapi kita tahu, kita bisa pulang ke ruang keluarga setelah hari yang melelahkan untuk sekadar melepas penat atau untuk berbagi cerita. Seperti kata Marchella FP: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.


Alih-alih bercerita, setiba di rumah, Moko tak sempat memikirkan kesedihannya sendiri yang timbul akibat hantaman berbagai peristiwa di luar keluarga. Jerit tangisnya harus segera ditutupi dengan tangis keponakannya yang paling kecil yang meraung-raung minta gendong sambil minum susu. Urusan rumah yang diemban Moko begitu banyak. Ia menjadi bapak sekaligus ibu bagi para keponakannya. Harta yang ditinggalkan kakak dan kakak iparnya tidak cukup untuk membiayai berbagai kebutuhan hidup keponakannya, malahan cepat sekali habisnya. Sebetulnya, Moko menyimpan amarah yang begitu besar di rongga dadanya. Tetapi ia tidak tahu harus marah pada siapa. Dengan kondisi seperti ini, insiden kecil seperti lutut kepentok meja bisa sangat menyakitkan bagi dirinya. Emosinya meledak di lantai dingin rumahnya sambil disaksikan pacarnya melalui lubang kamera laptop.

Cucu-cucu Ibu Hasna juga kekurangan kasih sayang. Bukan karena keluarga besar Ibu Hasna tidak saling menyayangi, tapi ruang dan waktu untuk saling berbagi kasih sayang, saling curhat, dan saling meredakan emosi yang meledak-ledak tidak tersedia. Salah satu cucu Ibu Hasna yang mendapatkan jatah tidur sore hari harus bangun sekitar jam 9 malam untuk gantian dengan cucu yang lain. Setelah beranjak dari ruang 2×3 meter itu, ia keliling jalanan untuk mencari botol bekas sampai pukul 3 dini hari. Saat pulang lagi ke rumah, ia mendapati satu-satunya ruang tidur di rumahnya masih penuh sesak oleh anggota keluarga yang lain. Ia pun terpaksa harus tidur di luar, atau begadang sekalian.


Sedetik setelah kita lahir, selain langsung menjadi warga sebuah negara, kita otomatis juga menjadi anggota sebuah keluarga. Kita tidak bisa memilih. Sialnya, faktor yang paling berpengaruh terhadap kenyamanan hidup kita setelah lahir dan seterusnya sampai kita dewasa adalah sebuah unit sosial bernama keluarga. Jika kamu beruntung dilahirkan di sebuah keluarga yang punya rumah sendiri dengan kamar lebih dari tiga dan level lantainya lebih dari dua serta tabungan yang melimpah, atau singkatnya keluarga kaya, kesempatanmu untuk hidup nyaman sepanjang umur lebih terbuka lebar. Sementara itu, jika kamu sangat sial sehingga lahir di keluarga yang sangat miskin, yang hanya punya sepetak ruang sebagai tempat tinggal, dan jangankan menabung, bertahan hidup saja syukur, maka kemungkinan kamu akan terus berada di bawah garis kemiskinan lebih besar daripada keluar dari kesengsaraan.

Kerja keras tidak bisa mengalahkan kekuatan warisan.

Seseorang bisa saja membuat kata-kata mutiara tanpa dosa dengan balutan branding motivasi seperti, “Jika kau terlahir miskin, itu bukan salahmu. Tetapi jika sampai tua kau masih miskin, maka itu kesalahanmu.” Kerja keras tak kenal lelah memang bisa mengubah nasib seseorang. Namun demikian, dua orang yang berusaha sama kerasnya akan punya kemungkinan berhasil yang sangat berbeda jika yang satu hidup dengan asupan makanan bergizi, ruang bermain dan mengekspresikan diri yang sangat leluasa dan beragam, akses pendidikan yang sangat layak (sekolah internasional, misalnya), serta koneksi atau jejaring kenalan orang tuanya, sementara yang satu makan tiga kali sehari saja jarang apalagi nilai gizi makanannya, untuk tidur saja mesti gantian, memupus harapannya lanjut sekolah ke SMP karena harus mulai ikut bekerja, dan koneksi orang tuanya adalah sesama pemulung. Kerja keras tidak bisa mengalahkan kekuatan warisan.


Di dalam film 1 Kakak 7 Keponakan tidak dijelaskan alasan Moko harus hidup di rumah kakaknya. Mungkin bapak-ibunya sudah meninggal. Ia mungkin sudah menjadi yatim piatu. Bisa jadi orang tua kandungnya hidup begitu miskin di desa, terlilit utang, sehari-harinya diisi dengan kecemasan (jauh berbeda dengan bayangan orang-orang kota tentang kehidupan di desa yang penuh ketenangan dan keharmonisan). Apapun itu, Moko menyandarkan dirinya pada keluarganya untuk menggapai harapan baru.

Ketika menemui jalan buntu dalam hidup, hal pertama yang terpikirkan oleh sebagian besar orang adalah mencari pertolongan pada anggota keluarganya. Anak-anak Ibu Hasna bukannya tidak berusaha hidup mandiri. Mereka telah mencoba membangun keluarga kecilnya di tempat tinggalnya sendiri. Namun, saat segalanya gagal total, saat uang di kantong tak lagi cukup untuk sekadar menyewa tempat tinggal, mereka kembali lagi ke rumah 2×3 meter Ibu Hasna.

Dari berbagai kemelut keluarga semacam ini, saya jadi ragu terhadap kebenaran teori kontrak sosial yang salah satunya dicetuskan oleh Jean-Jacques Rousseau. Menurut Rousseau, negara dan masyarakat terbentuk karena adanya kontrak sosial antara individu-individu yang sepakat untuk menyerahkan sebagian kebebasan mereka kepada kehendak umum (volonté générale) demi kepentingan bersama. Rousseau menekankan kebebasan dan kemandirian individu sebagai faktor penting dalam berbagai pengejawantahan berbagai kontrak sosial yang kemudian mewujud dalam bermacam-macam hukum tertulis dan nontertulis. Celah besar dari alur berpikir ini adalah ketidaksetaraan tiap-tiap individu tersebut. Setiap individu hidup dan tumbuh dalam sebuah keluarga. Antar-keluarga punya ketimpangan sumber daya. Alhasil, individu-individu yang dihasilkan oleh masing-masing keluarga juga tidak setara. Penentu model kontrak sosial bukanlah individu, tetapi keluarga. Hal inilah yang sering kali luput dari common sense kita saat berbicara tentang suatu masyarakat, citizen, atau bahkan negara.

Rousseau sebetulnya juga menyinggung soal keluarga. Tetapi, ia menganggap keluarga hanya sebagai sebuah ikatan alami yang dibutuhkan oleh anak-anak selama masa pertumbuhan. Selepas itu, saat anak-anak tersebut telah tumbuh dewasa dan tidak membutuhkannya lagi, mereka meyakini hanya mereka sendirilah yang berkuasa atas diri mereka sendiri. Berbagai keputusan sudah dapat mereka ambil tanpa melibatkan keluarga. Kesuksesan atau kegagalan murni karena kerja keras atau kemalasan tiap-tiap individu, bukan karena ikut campur dari anggota keluarga.

Rousseau terlalu meremehkan peran keluarga.


Keluarga mempunyai peran yang sangat krusial dalam kehidupan kita saat ini. Dinamika perjalanan ekonomi dan politik sebuah negara boleh saja dibahas di kantor pemerintahan, hotel, atau lapangan golf, tetapi orang-orang yang hadir di tempat-tempat penting ini mengisi ulang energinya di ruang keluarga. Keluarga mengorkestrasikan kerja-kerja perawatan anggotanya, meskipun kerja-kerja tersebut tidak dianggap punya nilai ekonomi.

Kini, perempuan sudah mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk berkarir di berbagai bidang pekerjaan dibandingkan dengan setengah abad yang lalu. Namun demikian, kerja-kerja rumah tangga secara umum masih dibebankan kepada para perempuan, entah dengan sengaja tau tidak (dengan alasan sudah menjadi kodrat perempuan untuk lebih peduli pada pekerjaan perawatan). Ketika suami dan istri sama-sama bekerja, para istri seringkali malah punya beban ganda: bekerja untuk mendapatkan penghasilan (tempat kerja) dan bekerja untuk memulihkan energi dan mood anggota keluarga (pekerjaan rumah tangga). Suami-istri ini bisa saja membebaskan diri dari pekerjaan rumah tangga seperti bersih-bersih dan mengurus anak. Akan tetapi, kerja-kerja ini tidak hilang, tetapi dialihkan kepada para Pekerja Rumah Tangga (PRT) dan baby sitter yang kebanyakan adalah para perempuan, dengan bayaran murah dan minim perlindungan. Singkat cerita, keluarga masih menjadi tempat yang melanggengkan ketidakadilan gender.

Persaingan yang terjadi dalam sistem yang sehat ini bukan persaingan antar-individu, melainkan antar-keluarga.

Peran penting lain dari keluarga adalah menjaga struktur kekayaan melalui hukum warisan. Ada begitu banyak hukum warisan, mulai dari hukum negara, agama, sampai adat. Antar-hukum warisan ini bisa berbeda-beda cara pandangnya dalam pendistribusian harta warisan seseorang yang meninggal (antara jatah anak perempuan dan laki-laki, misalnya), tetapi semangatnya sama saja: mempertahankan kekayaan yang telah digapai oleh unit keluarga ini tetap dinikmati oleh para anggota keluarganya. Dalam konteks inilah kita perlu melihat sistem meritokrasi secara lebih kritis. Sistem ini tujuannya baik, yaitu mendesain sebuah persaingan yang sehat dalam jenjang karir di suatu perusahaan atau instansi pemerintah. Dengan sistem persaingan yang sehat, harapannya orang-orang yang menempati suatu jabatan benar-benar mempunyai kemampuan, prestasi, dan kompetensi, bukan karena dia punya hubungan sosial tertentu. Namun demikian, patut dicatat bahwa persaingan yang terjadi dalam sistem yang sehat ini bukan persaingan antar-individu, melainkan antar-keluarga. Kemampuan, prestasi, dan kompetensi seseorang tidak lahir dari ruang kosong. Ada peran keluarga di balik tiap-tiap individu yang menyediakan resource materiel maupun imateriel. Apabila ketimpangan antar-keluarga tidak diperbaiki secara siginifikan (atau dalam bahasa ekonomi: rasio gini), maka sistem meritokrasi hanya bagus di puncak gunung es saja, sementara di bawah permukaan lautnya masih tersimpan struktur ketidakadilan yang mengakar.


Berangkat dari keresahan atas kegagalan keluarga dalam menghadirkan kasih sayang yang merata bagi semua orang, Shopie Lewis, seorang akademisi dari Philadelphia Amerika Serikat menulis buku berjudul Abolish the Family: A Mainfesto for Care and Liberation. Dalam buku ini, ia mengajak kita untuk menghancurkan keluarga. Ia menguraikan sejarah berbagai usaha pemusnahan keluarga dari struktur sosial masyarakat, mulai dari awal abad ke-20 di Rusia, tahun 1960-an di Amerika, dan usaha-usahan lain setelahnya. Ia juga mengklarifikasi berbagai respon umum terhadap ide penghancuran keluarga, terutama yang paling sering terdengar: aku mencitai keluargaku, mengapa harus dihancurkan? Shopie menjelaskan bahwa sejak awal kemunculannya, usaha penghancuran keluarga tidak bermaksud memisahkan dirimu dari orang-orang yang kamu cintai. Justru sebaliknya, family abolitionist ingin setiap orang benar-benar bisa hidup dengan orang yang dicintai dan bisa punya waktu dan ruang untuk saling berbagi kasih sayang, yang sayangnya tidak bisa dihadirkan oleh sistem keluarga hari ini. Hanya sedikit orang-orang beruntung yang bisa berada di atap keluarga kaya dan tidak toxic. Sementara yang lain hidup di keluarga yang hari-harinya hanya dipenuhi kerja keras banting tulang untuk bertahan hidup atau punya kecukupan harta tetapi mengalami kekerasan fisik maupun mental dari anggota keluarganya, atau bahkan yang lebih parah: hidup di keluarga miskin dan juga penuh dengan kekerasan.

Berdasarkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA), sampai Juni 2025 saja sudah tercatat 13.845 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ironisnya, sebagian pelakunya adalah orang tua korban atau keluarga terdekat. Artinya, untuk sebagian perempuan dan anak, boro-boro sebagai tempat mendapatkan kasih sayang, keluarga bagi mereka adalah ruang ancaman.

Keluarga telah gagal. Kasih sayang dan kerja-kerja perawatan perlu banyak tersedia di luar keluarga, sehingga lama-lama keluarga yang menjadikan hubungan darah sebagai ikatan sakral meski penuh dengan kekerasan dan kesengsaraan menjadi tidak relevan dan hancur dengan sendirinya.

avatar Dandy Idwal

Oleh Dandy Idwal

It is easier to imagine the end of capitalism than the end of family

Tinggalkan komentar