Kategori
Society

Industri Kasih Sayang

Cinta terlalu suci. Akibat kesuciannya, kita tidak bisa membicarakan cinta secara rasional. Para penyair, pendongeng, dan peramu cerita di kelompok mainstream akan sebal jika mendengar rencana membicarakan cinta secara rasional. Sebab ini akan menjadi penghambat bagi mereka untuk terus meromantisasi cinta menjadi sederet baris syair, berlembar-lembar dongeng, dan berjilid-jilid buku cerita.

Apa itu cinta? Sudjiwo Tedjo pernah menulis begini, “Cinta tak kenal pengorbanan. Saat engkau merasa berkorban, saat itulah cintamu mulai pudar.” Menurut dalang, penulis, pelukis, dan peramu musik ini, jika kamu benar-benar jatuh cinta, kamu tidak tahu kenapa kamu bisa jatuh cinta. Jika kamu mulai bisa menjelaskan alasan mencintai seseorang, maka kadar cintamu mulai tergerus dan berkurang. Dengan kata lain, menurut Sudjiwo Tedjo, cinta itu tidak terjelaskan. Justru ketika ia mulai terjelaskan, sehingga kamu mulai merasa berkorban untuk hal-hal yang rutin kamu lakukan untuk pasangan, rasa cintamu mulai menghilang.

Dalam hal definisi cinta yang tidak bisa terjelaskan, saya setuju dengan Sudjiwo Tedjo. Pemahamannya sangat luas, karena tiap-tiap orang punya bayangan sendiri-sendiri. Saking luasnya, ia tidak terdefinisikan. Oleh sebab itu, tulisan ini bukan untuk menjawab pertanyaan, “apa itu cinta?”. Tujuan tulisan ini untuk menganalisis manifestasi cinta yang mewujud dalam tindakan sehari-hari.

Cinta yang abstrak dan tidak terdefinisikan mempunyai bentuk yang konkret. Memberikan senyuman pada pacar, memijat pundak istri sambil mendengar keluh kesahnya, memeluk anak setelah ia tersungkur, memandikan orang tua yang terkena struk, memasak untuk istri, mendengarkan curhatan teman tentang masalah di tempat kerjanya, adalah beberapa contoh wujud konkret cinta. Di ranah wujud cinta yang konkret inilah kita bisa membicarakan cinta secara rasional.

Kita melakukan tindakan-tindakan cinta secara sukarela. Alasannya, karena kita menyayangi mereka yang kita berikan layanan cinta. Entah menyayangi mereka sebagai keluarga, pasangan, teman, atau kolega. Sampai di sini tidak ada masalah.

Masalah kemudian muncul saat kita memeriksa lebih jauh ke mana nilai tindakan cinta yang kita lakukan secara sukarela itu mengalir. Mari kita ambil contoh tindakan cinta yang berupa “memijat pundak istri sambil mendengar keluh kesahnya”.


Istrimu adalah seorang pekerja kantoran. Hari ini, ia mengalami satu dari sekian banyak hari buruk di tempat kerja. Atasannya ngomel-ngomel mulu sepanjang hari. Jika saja malam ini ia tidak mendapatkan pijatan di pundak ditambah layanan tempat curhat darimu, kemurungannya berkepanjangan hingga esok hari. Alhasil, ia tidak bersemangat kerja. Banyak pekerjaan yang ia tunda, dan yang ia kerjakan pun dilakukan dengan asal-asalan. Ia menjadi sangat tidak produktif. Pekerjaan yang seharusnya selesai dalam sehari, molor menjadi 2 hari. Pekerjaan yang molor ini berdampak langsung pada pendapatan perusahaan. Capaian penjualan jadi turun. Perputaran uang di dalam perusahaan menjadi tersendat. Ini baru dampak dari suami atau pasangan salah satu pegawai yang tidak memberikan layanan cinta. Bagaimana jika pasangan dari seluruh pegawai berbarengan mogok memberikan layanan cinta? Perusahaan bisa rugi besar.

Untungnya, kamu sangat perhatian malam ini. Walaupun istrimu uringan-uringan terus di hadapanmu, kamu tetap membentangkan senyum lebar dengan bibirmu, mendegar ceritanya dengan penuh perhatian, sambil terus menggerakkan jemarimu di pundaknya yang kaku. Kamu sama sekali tidak berpikir bahwa tindakan cintamu ini akan membantu perusahaan tempat istrimu bekerja bisa terus meraup keuntungan. Senyummu tulus. Sebab kamu sangat mencintai istrimu, dan kebetulan malam ini suasana hatimu sedang bagus juga.

Sungguh kemungkinannya sangat besar kamu akan tersinggung jika mendengar ada orang yang mengait-ngaitkan senyum tulusmu dan pijatan yang kamu lakukan karena cinta dengan laba sebuah perusahaan. Bisa-bisanya pijatan sukarelamu itu, yang tidak didorong oleh intensi lain kecuali rasa sayang yang melimpah pada istrimu dihubung-hubungkan dengan kegiatan komersial. Cinta itu non-komersial. Cinta itu tidak transaksional. Cinta itu suci.

Namun demikian, dengan mengatakan bahwa pijatan tulusmu berpengaruh pada kinerja laba perusahaan istrimu bukan berarti mau bilang bahwa pijatanmu itu tidak tulus. Tidak ada yang meragukan ketulusanmu itu. Dan seperti yang ditunjukkan oleh Sudjiwo Tedjo, sia-sia mengukur intensi atau alasan sebuah cinta, karena itu tidak terjelaskan dan sekali terjelaskan, itu bukan lagi sebuah cinta.

Aliran Nilai Kerja

Untuk memahami aliran nilai kerja, seluruh perasaan subjektif harus disingkirkan terlebih dahulu. Rasa cintamu yang membuncah ketika memijat pundak istrimu dan mendengarkan keluhannya tidak boleh mencampuri analisis, biar objektif. Yang dianalisis adalah tindakan cinta, bukan intensinya.

Pekerja itu, baik yang bekerja di ruang kantor, pabrik, restoran, panggung, maupun di kamar kos, seluruhnya menggunakan tubuh. Porsi untuk bagian-bagian tubuh saja yang berbeda antar-profesi. Ada yang lebih banyak menggunakan tangan, ada juga yang lebih banyak mempekerjakan pita suara. Dari hasil kerja anggota-anggota tubuh ini, terbentuklah nilai tambah. Sesuatu yang awalnya tidak berguna jadi punya nilai guna. Bahan bumbu ayam goreng dan ayam mentah tidak bisa dimakan. Tapi dengan hasil kerja tubuh pegawai restoran, terbentuklah ayam goreng yang bisa dijual.

Tubuh manusia butuh perawatan. Ia bukan benda kekal yang bisa beraktivitas terus-menerus tanpa pemulihan. Uniknya, berbeda dengan mesin, perawatan yang diperlukan tubuh manusia bukan hanya perawatan fisik, tetapi juga perawatan psikis. Tubuh manusia tidak hanya membutuhkan makan dan minum untuk mengembalikan energi sehingga bisa bekerja lagi. Ia butuh kasih sayang. Ia butuh cinta. Percuma makan dan minum lancar, tapi jika tubuh stres, ia tidak bisa bekerja maksimal bahkan sampai tidak bisa bekerja sama sekali.

Istrimu bisa saja tetap makan dan minum dengan teratur. Tetapi jika setiap malam kau ajak bertengkar, atau saling diam tanpa obrolan malam demi malam, ia tidak akan bisa bekerja dengan baik dan energik di kantornya.

Sampai di sini sudah tersingkap, perusahaan tempat istrimu bekerja juga bergantung pada kerja-kerja perawatan yang kamu berikan pada istrimu. Dan jika dibaca terbalik, nilai kerja (energi) yang kamu curahkan dengan wujud pijatan, belaian, dan kesediaan mendengarkan keluhan istrimu (walau kamu tidak menganggap itu kerja, tapi cinta) mengalir menjadi profit di perusahaan tempat istrimu bekerja.

Produksi Cinta di Rumah Tangga

Tindakan cinta bisa muncul di mana saja: di tempat kerja, di jalanan, di kafe, di pasar, dll. Namun, di dunia kita saat ini, ketika kita butuh cinta, kita kembali kepada keluarga. Tempat inilah yang lebih banyak menyediakan layanan cinta. Di saat dunia luar menyuruh-nyuruh kita melakukan sesuatu yang tidak kita sukai demi gaji bulanan untuk menyambung hidup, kita berharap keluarga memeluk kita dengan caranya masing-masing, entah dengan menyuguhkan makanan enak, bersedia jadi tempat curhat, dan benar-benar memeluk tubuh kita secara fisik.

Sayang sekali, umumnya kita menganggap keluarga adalah suatu unit sosial yang terpisah dengan tempat kerja. Ia dianggap sebagai suatu tempat aman dan nyaman di tengah kejamnya dunia di luar sana. Bahkan, kita mempunyai definisi sosiologis untuk hal ini, yaitu publik dan privat. Ruang publik adalah ruang terbuka yang siapapun bisa ikut campur di dalamnya asal mematuhi batas-batas yang tertulis di kitab hukum. Negara bisa mengatur, orang lain bisa ikut campur. Sementara itu, ruang privat adalah ruangan yang khusus untuk keluarga kita saja. Negara tidak boleh mengintervensi. Apalagi orang lain yang bukan keluarga, mundurlah jauh-jauh.

Desain sosial ruang publik versus ruang privat semacam ini memang baik-baik saja buat orang yang lahir di keluarga yang harmonis dan punya persediaan harta yang cukup. Ia bisa menikmati layanan cinta yang tiada habisnya. Kalaupun anggota keluarganya tidak bisa memenuhi beberapa tindakan cinta yang ia butuhkan, keluarga ini bisa membayar pekerja rumah tangga untuk melakukan berbagai hal, mulai dari masak, bersih-bersih rumah, mengganti popok, sampai memotong rumput di halaman. Di keluarga yang punya banyak harta dan tidak abusive, tindakan cinta bisa dilimpahkan kepada anggota keluarga lain yang kekurangan harta (pekerja rumah tangga).

Tetapi malang bagi seseorang yang lahir di keluarga yang hartanya pas-pasan. Ia tidak bisa mendapatkan layanan cinta psikis yang maksimal, karena seluruh anggota keluarga sudah mesti bekerja sejak sangat dini. Tiap-tiap keluarga sudah lelah dengan beban kerjanya masing-masing, hari demi hari. Jangankan layanan cinta secara psikis, layanan cinta berupa perawatan fisik saja tidak berkualitas. Menu makanan kurang gizi. Dan tindakan cinta berupa memasak tidak bisa dilimpahkan ke pekerja rumah tangga (PRT). Karena boro-boro buat bayar PRT, buat makan sehari-hari aja susah.

Jadi, sungguh tidak tepat untuk mengatakan bahwa dunia kita sekarang ini adalah persaingan antar-individu. Tidak. Dunia kita adalah persaingan antar-keluarga. Keluarga kaya akan mewariskan kekayaan ke anak-anaknya, sehingga keturunannya akan terus kaya dan memenangkan kompetisi. Sedangkan keluarga miskin akan mewariskan kemiskinan kepada anak-anaknya, sehingga keturunannya akan terus kalah dalam persaingan. Kalaupun ada anomali, paling hanya satu di antara jutaan kasus, yang dimanfaatkan oleh orang-orang ber-previlage untuk menyebar cerita orang miskin juga bisa sukses.

Pencurian Nilai Cinta

Hal-hal yang diproduksi di tempat kerja, barang maupun jasa, adalah komoditas. Sehabis diproduksi, ia diborong ke pasar untuk ditawarkan kepada konsumen. Dari hasil penjualan komoditas-komoditas ini, sebagian untuk upah para pekerja sesuai upah minimum yang mepet untuk kebutuhan sandang-pangan-papan, sebagian lagi masuk ke kantong pemodal untuk modal membuka usaha baru lagi. Meskipun tindakan cinta menjadi penopang krusial dalam produksi komoditas-komoditas tersebut, tetapi tindakan cinta itu sendiri tidak dianggap sebagai komoditas. Tindakan cinta dianggap sebagai suatu hal yang wajar dan sudah seharusnya saling diberikan antar-anggota keluarga.

Karena dicap sebagai non-komoditas, nilai cinta dianggap nol, alias gratis. Perusahaan, instansi pemerintah, yayasan, NGO (non-govermental organization), dan organisasi masyarakat menyedot nilai cinta secara cuma-cuma dari institusi keluarga. Keluarga adalah lembaga amal yang paling dermawan di dunia ini. Tak terhitung nilai cinta yang diberikan secara cuma-cuma kepada society untuk memproduksi komoditas. Dan layaknya lembaga amal, ketika ia hancur (broken home), kepedihannya pun ditanggung oleh tiap-tiap anggota keluarga itu sendiri.

Dengan kondisi begini, hal yang mendesak sesungguhnya adalah komersialisasi cinta. Kasih sayang perlu diborong ke dunia industri, agar pencurian nilai cinta tidak terus berlangsung. Dan sebetulnya geliat ke arah ini sudah ada. Telah lama bermunculan jasa sewa pacar atau teman kencan. Bahkan ada yang telah beroperasi sebelum era modern: prostitusi. Sayangnya, industri kasih sayang yang ada sangat rentan memunculkan tindakan yang ekploitatif dan manipulatif. Kita perlu industri kasih sayang yang lebih fair.

avatar Dandy Idwal

Oleh Dandy Idwal

It is easier to imagine the end of capitalism than the end of family

Tinggalkan komentar