Menuju akhir pekan panjang ini, enak sekali sarapan bubur di pinggiran jalan, sembari menuliskan catatan singkat soal dunia dalam layar gadget yang beberapa waktu terakhir berpengaruh pada kehidupan keseharian orang-orang saja.
Awalnya di dalam pikiran ini ada kesan, “Ah ini olahan AI saja yang bisa menyulut kemarahan publik karena ada demo yang hendak dibubarkan aparat.” Itu yang ada di alam pikir, lalu membaca status yang dituliskan di beragam platform media sosial, membuat rasa marah menguat.
“Bukan rekayasa AI, tapi ini peristiwa faktual dan nyata.”
Algoritma timeline bermunculan berikutnya dengan tone emoticon marah. Apalagi setelah ada cerita driver ojek online (ojol) yang mati karena ditabrak oleh kendaraan lapis baja kepolisian. Singkat saja ceritanya.
Affan Kurniawan namanya. Orang biasa saja, yang terjebak situasi demo kala bekerja sebagai driver ojol dan tengah mengantarkan makanan. Ia dilindas mobil rantis (kendaraan taktis) polisi di Pejompongan Jakarta dan ditinggal pergi begitu saja oleh 7 polisi yang ada di dalamnya. Mobil dikejar sampai masuk ke markas Brimob di Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Cerita saksi mata bagaimana mengejar mobil rantis yang direkam dan kemudian diupload di berbagai platform media sosial mudah diakses siapa saja.
Berita kematian orang biasa yang terjebak demontrasi telah memantik emosi publik. Peristiwa detik demi detik bisa diikuti di layar gadget berkat informasi yang disiarkan secara langsung oleh netizen. Platform TikTok menjadi salah satu kanal yang bisa diikuti guna menerima sekaligus memproduksi siaran langsung dari lokasi kejadian.
Di group Whatsapp, Facebook, dan Instagram rekaman peristiwa cepat menyebar dengan saling share untuk meneruskan pesan, berbagi ke banyak orang bisa dilakukan sekejap, serentak menambah kecepatan informasi menyebar.
Opinion leader bukan dalam kendali genggaman elite politik. Keberadaan media sosial yang memungkinkan siaran langsung dari lokasi kejadian memiliki dua sisi, sebagai alat kontrol sekaligus alat propaganda yang efektif. Live streaming bisa menjadi alat membangun kesadaran, menempatkan media sebagai “alat memandu” di saat situasi kacau, serta saat kerusuhan dan peristiwa bencana misalnya.
Dengan keberadaan sorot kamera ke berbagai sudut yang merekam seluruh aktivitas, masyarakat sipil dapat terus menyaksikan secara langsung kejadian di lapangan, siapa melakukan apa. Secara psikologis, ada kedekatan dengan peristiwa, proximity, anonimitas, misinfornasi dan disinformasi bercampur baur saat seseorang mengakses akun-akun yang berada di lokasi kejadian, atau memutar ulang peristiwa yang dikemas menjadi informasi mana suka.
Live hidup dan matinya ke-manusia-an ini telah mengganggu akal sehat. Media sosial yang sangat populer seperti Tiktok diminta mematikan fitur siaran langsung untuk sementara. Tapi kabar dan gambar bara api yang membakar fasilitas publik baik pos polisi, kantor polisi juga kantor pemerintahan dan kantor DPRD di beberapa daerah sudah tersiar.
Setelah hitungan jam, bingkai gadget beralih ke layar TV nasional yang juga menyiarkan khusus live reportase, siaran langsung. Kali ini berisi gambar amuk massa yang menjadi titik api di berbagai daerah. Lalu kabar penjarahan rumah Sahroni, Uya Kuya, Eko Patrio hingga Nafa Urbach bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjadi sasaran amuk massa. Soal penjarahan dan aksi bakar yang meluas, siapa dalangnya masih misteri. Hanya ada satu kesimpulan awal yang bisa dideteksi, mereka adalah orang-orang terlatih. Siapa saja mereka?
Presiden Prabowo berulang kali menyampaikan pesan di pidatonya, bahwa dalam kepemimpinannya “wong cilik isoh ngguyu“, rakyat kecil bisa tertawa bahagia dan gembira. Faktualnya ya belum sepenuhnya hadir tawa dan bahagia itu. Justru sebaliknya, yang muncul adalah tawa satire yang merespon baik turunnya harga.
Kali ini memang tak ada joget-joget gemoy seperti biasanya di panggung teatrikal dengan menirukan subjek yang jadi bahan omon-omon. Kesan yang didapatkan dalam pidato presiden yang didampingi ketua partai politik adalah permintaan kepada rakyat agar percaya kepada pemerintah. Tentu seperti biasanya, pidato itu diikuti dengan harapan bangkit, ditambah lagi dengan klaim bahwa bangsa ini diganggu pihak yang tak ingin Indonesia lebih sejahtera rakyatnya.
Perwakilan tokoh-tokoh agama diundang secara khusus ke Hambalang. Ada titipan pesan agar bisa turut berperan menurunkan tensi politik yang panas terbakar karena tindakan brutal aparat kepolisian dalam merespon aksi massa di berbagai daerah. Langkah ini belum begitu efektif, mungkin karena sudah hilangnya rasa percaya warga masyarakat ke alat negara karena tingkah laku polisi, sehingga titik api berkobaran terus. Pola penanganan merespon aksi massa tetap dengan cara-cara kekerasan.
Setelah sebelumnya bersuara protes, berikutnya ada pamflet digital yang tersebar dan lebih mengarah ke doxing atau profiling sosok politisi yang telah melukai hatinya rakyat dengan ucapan dan kata-kata menyakitkan. Emosi akibat tindakan brutal merespon aksi massa, yang berujung korban meninggal terus bertambah dalam hitungan jam.
Di Jakarta ojek online jadi korban dan membuat mereka bersatu bersuara, “Jangan lindas kami Pak!” yang digemakan kala mengantarkan almarhum Affan Kurniawan ke tempat pemakaman. Belum kering tanah kuburan korban kekerasan aparat kepolisian, kabar kematian kembali tersiar di tengah-tengah kobaran api yang membakar gedung DPRD di Makasar dan tiga orang korban jiwa yang terjebak di lokasi kejadian.
Kobaran api merembet ke kota-kota besar lainnya seperti Bandung dan Surabaya, Solo, dan Yogyakarta, hingga kota kecil seperti Tasikmalaya dan Kediri. Di Yogyakarta, kematian mahasiswa semester V Amikom yang menyita perhatian publik perlu diungkap sejelas-jelasnya.
Di tengah-tengah situasi chaos, sejatinya ada keteraturan yaitu kekacauan itu sendiri. Ada pertanyaan siapa sejatinya yang meng-orkestrasi kekerasan demi kekerasan yang dilakukan. Aparat kepolisian yang bertanggung jawab atas perlindungan dan melayani rakyat seperti sudah kehilangan “kepercayaan”. Amuk massa dan perusakan fasilitas publik yang terjadi jelas bagian ekspresi kekecewaan atas pola penanganan yang digunakan. Semakin keras respon kepolisian, bukan membuat takut tapi lebih menguatkan aksi demo.
Pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo dan Gibran memang banyak memiliki paradoks kebijakan. Ada banyak beban fiskal yang harus diselesaikan juga menghilangnya rasa percaya kepada pemerintahan. Hal ini sudah diakui sendiri oleh Prabowo Subianto, saat minta maaf secara terbuka dengan didampingi oleh ketua partai politik di Istana Negara, Minggu, 31 Agustus 2025.
Respon lambat dalam mendengarkan suara rakyat dan mewujudkan harapan hadirnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia telah memakan korban jiwa. Sangat memprihatinkan jika kematian kemudian hanya menjadi sebatas statistik semata.
Orang-orang kini banyak menunduk, tekun menyimak isi gadget masing-masing. Itulah semangat zaman hari ini, hidup dari platform digital yang memberikan mereka rezeki.
TikTok menjelaskan fitur live streaming sementara waktu dimatikan untuk turut meredakan tensi politik. Mereka yang biasa hidup dari aktivitas digital dan perdagangan online jelas sangat terdampak di tengah situasi ini.
Hal yang mengecewakan tentu saja sikap pemerintah yang tidak memberikan kebijakan dan jawaban tegas poin-poin penting tuntutan publik.
