Kategori
Infrastruktur Society

Apa Itu Kreatif? Bermain dan Berwisatalah ke Wisata Jembatan Mangrove

Apa itu kreatif?

Saya belajar dari sosok ini, soal kreatif dan konsistensi menjalankan apa yang ada di pikiran dan berupaya merealisasikan dalam kerja-kerja teknis.

Mas Ipung, saya kenal merintis konservasi lingkungan di daerahnya dengan mengelola Wisata Jembatan Mangrove. Tak jauh dari bengkel tempatnya bekerja di pulau Sapudi. Pulau yang besarnya bisa dikelilingi dengan dua jam perjalanan naik motor tanpa berhenti.

Satu kali berbincang panjang, itu soal bagaimana mengembangkan wisata edukasi, Wisata Jembatan Mangrove. Hamparan mangrove dimanfaatkan untuk spot wisata. Murah tiket masuknya: Rp 3.000. Di titik spot wisata mangrove, suasana jelas adem pun kala terik matahari tegak di atas kepala. Di spot ini bisa menikmati senja dengan latar langit pulau Madura di ufuk barat.

Ada banyak mimpi tentu saja, bagi anak-anak muda Kalowang, Gayam Sapudi Sumenep Madura. Bedanya, mas Ipung memilih tetap berada di desanya untuk bekerja. Di masa pandemi ini, pekerjaan utamanya harus istirahat, jeda karena situasi wabah begini rupa.

Buat kapal, bisa dikerjakan dengan bahan fiber. sudah ada hasilnya, kapal buatan juga bebek mini sudah dihasilkan. Urusan kreatif, rasanya memang melekat padanya.

Salah satu persoalan di kepulauan adalah pasokan energi listrik. Sudah ada pembangkit listrik tenaga diesel. Hanya saja, kala pasokan bahan bakar terlambat ya harus pasrah. Mati listrik. Ada dua stasiun pengisian bahan bakar umum, SPBU. Satu sudah beroperasi dan satu lagi masih proses.

Wisata Jembatan Mangrove, kemandirian, adalah ikon yang keseharian melekat di desa Kalowang. Selain tentu saja, seperti yang semua paham, sapi dan kambing asal Sapudi. Sapi balap alias sapi kerap dan kambing kerap atau kambing balap. Sapi jantan untuk kerapan dan kambing betina untuk balap kambing.

Ipung juga pembalap, pernah menang kompetisi balap tingkat kecamatan. Itulah kebanggaan yang diceritakan kala menjemput saya setiba dari Pulau Oksigen, Gili Iyang, pulau berkualitas kadar oksigen terbaik di Indonesia.

“Mau merasakan kecepatan, boleh,” katanya.

Saya memilih percaya saja, dan memilih agar motor jalan pelan saja. Apa pasalnya, jalanan yang ada bisa bikin celaka jika berkendara dengan kecepatan tinggi.

“Saya sudah berkeliling ke pulau-pulau di Madura. Pasang dan rawat antena operator seluler. Kalau ada yang ngadat atau rusak sumber listriknya, tugas saya memperbaiki,” katanya.

Menyimak beragam kisahnya dan harapan yang ada di alam pikiran, juga kondisi bentang alam di Sapudi. Rasanya menarik jika suatu waktu, pulau ini menjadi kawasan yang memiliki kemandirian dalam bidang energi. Jadi laboratorium alam yang baik, untuk aneka uji kelayakan teknologi, energi terbarukan. Listrik bisa terus terlayani tanpa harus risau kala BBM habis.

Lewat apa, siapa yang mengerjakan? Siapa lagi kalau bukan kaum muda seperti Ipung dan kawan-kawannya. Merekalah pelopor, perintis perubahan. Kemandirian dan kreativitas sudah ada, hanya butuh difasilitasi untuk bertumbuh kembang.

Ya, memulai dengan berbagi konten ini saja dulu, yang saya bisa. Apresiasi untuk harga sebuah kreatifitas dan cita-cita, termasuk mewujudkan perpustakaan baca sebagai pelengkap Wisata Jembatan Mangrove.

Semoga, silakan sedulur semua. Mau ikut, simak dan terhubung, berdonasi monggo.

Kategori
Kapital

Apa yang Dirampas oleh Kapitalisme?

Biasanya, kalau bicara tentang eksploitasi pekerja, sebagian besar orang bicara tentang upah murah. Upah minimum di suatu daerah dibandingkan dengan biaya hidup di daerah tersebut. Besaran upah dibandingkan dengan kuantitas dan kualitas kerja yang dilakukan. Ini betul.

Namun, ada lagi yang dirampas oleh kapitalisme, dan efeknya lebih ganas, yaitu samudra kemungkinan. Sederhananya begini. Jutaan anak muda sudah belajar di universitas. Selama di kampus, walaupun hanya belajar satu bidang ilmu saja, dia punya miliaran kemungkinan ide di kepalanya untuk mendesain dunia yang lebih baik, yang ekonominya adil, adil gender, tidak rasis, dll. Potensi kemungkinan ini hancur-lebur ketika ia masuk dunia kerja. Ia terpaksa menyerahkan sebagian besar waktunya untuk melakukan aktivitas yang ditetapkan oleh perusahaan, agar bisa melanjutkan hidup. Bahkan di waktu non-kerjanya, energinya sudah habis untuk melakukan hal lain. Bahkan untuk sekadar berpikir hal lain! Apalagi semakin banyak model-model kerja hari ini yang tidak hanya menyedot fisik dan pikiran analitis sederhanya saja, tapi juga sofskill yang melibatkan emosi (mood). Softskill pun kini lebih kencang dieksploitasi.

Walaupun hari-hari ini banyak perusahaan yang seakan ramah pada sisi kreatif, kebebasan, dan gairah eksploratif pekerja, tapi tetap saja harus dalam kerangka kemajuan dan keuntungan perusahaan. Miliaran kemungkinan kreatif yang berada dalam diri pekerja dipaksa melayani dan menjaga keberlangsungan sistem ekonomi dan kehidupan yang eksploitatif.

Saya menuliskan ini bukan adalam kerangka seperti yang dimunculkan oleh Megawati, “mana konstribusi anak muda bagi negara?”. Yang saya maksud di sini adalah kerugian di level individu dan society (masyarakat). Bagi individu, ia tidak punya banyak waktu dan energi untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan yang ia inginkan. Pengembangan dirinya dipaksa berada di dalam rel. Jikapun bisa keluar dari rel, itu membutuhkan pemaksaan energi yang tidak main-main, sehingga tubuh dan psikisnya menjadi rentan. Ketika individu-individunya sudah begini, maka kerugian sudah pasti juga dialami oleh society. Sebuah masyarakat tidak bisa menggapai hidup yang lebih baik, nyaman, aman, dan tidak menindas. Inilah yang dirampas: kesempatan.

Samudra kemungkinan ini yang menurut Karl Marx tak bernilai. Nilainya tidak dapat diukur atau dikonversi menjadi upah. Jadi, upah sebesar apapun, bahkan 100 juta per bulan sekalipun, tetaplah eksploitatif. Meskipun secara subjektif atau orang yang punya gaji segitu tidak merasa dirinya sedang dieksploitasi, secara objektf ia tetap sedang dieksploitasi. Eksploitasi kerja tidak ada hubungannya dengan perasaan orang yang bekerja (merasa dieksploitasi atau tidak). Karena ini bukan cuma tentang besaran gaji yang tidak sepadan dengan beban kerja. Tapi juga tentang potensi kemungkinan yang dikubur.

Terlalu fokus pada eksploitasi yang berhubungan dengan upah murah dan melupakan samudra kemungkinan yang dirampas akan membuat visi pekerja hanya sampai pada upah yang layak. Pekerja seharusnya mempunyai visi yang jauh lebih besar dari itu. Pekerja harus punya kendali pada kerjanya, apa yang akan dia kerjakan, bagaimana ia mengerjakannya, seberapa lama ia harus mengerjakan itu, dan bagaimana pembagian hasil kerja tersebut.