Kategori
Politik Society

Tukang Sapu, Pekerja Kebersihan dan Residu Politik

Ada yang berbeda di awal tahun ini, utamanya aktivitas sehabis subuh di pinggir jalan. Biasanya tukang sapu yang bekerja mengenakan seragam. Kali ini ada banyak orang baru yang menggantikan pekerjaan membersihkan sampah dedaunan di pinggir jalan.

Keriuhan obrolan pagi juga beda kisahnya. Ada beberapa tukang sapu yang sudah akrab dengan warga sekitar. Sekarang berbeda, berganti semuanya. Alat-alat lengkap, tapi minus gerobak sampah. Kali ini mereka menggunakan karung dan terkadang menyeret dahan pohon palem yang jatuh dari pohon. Tukang sampah yang lama pernah berkisah, gerobak sampah yang mereka pakai adalah investasi mereka sendiri.

Tentu saja ini memberikan pertanyaan, kenapa semua berganti, ke mana para tukang sapu pinggir jalan yang selama ini bekerja? Beberapa pertanyaan ini lalu terjawab setelah mendapatkan penjelasan, pilkada baru saja usai.

Pejabat terpilih segera dilantik. Tukang sapu lama bergeser, berhenti bekerja karena mereka bagian dari struktur pemimpin lama yang kalah. Kebetulan kepala daerah lama tersandung kasus korupsi, sempat mengajukan anaknya maju jadi kandidat kepala daerah tapi gagal terpilih, gagal mendapatkan kepercayaan rakyat. Efek dari proses demokrasi tingkat lokal, langsung terasa.

Setidaknya bagi mereka, tukang sampah, pekerja kebersihan yang bekerja berdasarkan kontrak yang sudah berakhir, efeknya sangat nyata. Tak bisa diperpanjang karena ada kebijakan rekruitmen petugas kebersihan. Orang-orang lama yang bekerja diganti orang-orang baru.

Politik kuasa, politik adalah peristiwa sehari-hari sekarang ini nyata adanya. Minimal itulah yang terasa dari keberadaan tukang sampah, pekerja pemungut sampah perkotaan. Bukan di wilayah sendiri ini saja.

Di kabupaten lain, sampah sempat menumpuk di tempat pembuangan sampah sementara karena petugasnya mogok bekerja. Bukan tidak mau kerja, tapi jadi bagian protes sebab gaji jatah mereka tak bisa cair. Sebab ada krisis kepemimpinan karena adanya penataan organisasi, di tengah kompetisi kandidasi kepala daerah.

Sampah benar-benar menumpuk di pinggir jalan. Tak diangkut karena armada pengangkut sopirnya berhenti bekerja. Meski para tenaga kebersihan, tukang sapu sampah tetap bekerja memungut sampah perkotaan. Situasi yang cukup berbeda begitu terasa, kala sampah teronggok di pinggir jalan.

*****

Masih soal sampah, di DIY ada persoalan serius karena lokasi TPA di Piyungan Bantul, tempat pembuangan sampah akhir tak mampu lagi menampung sampah perkotaan. Ini juga akibat adanya protes tata kelola sampah yang belum tuntas diselesaikan. Sampah sempat menumpuk di banyak TPS, di perkotaan karena tidak terangkut.

Fenomena sampah, tata kelola sampah jelas buah dari kebijakan politik. Saat ada salah kelola, ada masalah efeknya tentu langsung dirasakan oleh rakyat oleh masyarakat.

Sampah boleh dianggap masalah sepele, sampah rumah tangga sejatinya bisa terkelola oleh masing-masing keluarga. Semua juga mengenal apa itu reduce, re-use, recycle, kurangi sampah, gunakan kembali atau daur ulang saja, agar tak membebani lingkungan.

Gunakan dan pilih barang ramah lingkungan yang mudah didaur ulang, jalankan gaya hidup hijau. Budayakan kelola sampah sejak dari dapur masing-masing keluarga. Saat ini terlewatkan, tak berjalan sempurna maka persoalan bergeser ke ruang publik. Beberapa solusi urusan sampah bisa difasilitasi dengan menghadirkan Bank Sampah, BUMDes kelola sampah dan lain sebagainya. Di beberapa pondok pesantren kini menginisiasi hadirnya tempat pengolahan sampah modern untuk minimalkan sampah keluar dari pondok mereka. Sampah terkelola mandiri.

Di sisi lain, bagi mereka yang abai soal budaya kelola sampah, efek bagi lingkungan jelas ada kerusakan lingkungan, utamanya limbah yang dibuang seenaknya. Apalagi kalau limbah sampah yang dibuang adalah limbah atau sampah industri. Ada kerugian besar dan tentu saja dibutuhkan energi lebih, dana yang besar untuk mengatasi dampak merugikan dari limbah dan sampah.

Banjir besar di sungai yang membelah ibukota DKI Jakarta salah satu masalah rutin, tiap tahun yang selalu jadi berita. Seakan tanpa henti terjadi. Jadi peristiwa rutin, bencana.

*****

Tukang sapu, pekerja kebersihan tidak bisa dianggap sepele peran mereka. Sangat strategis posisinya. Meski sambil lalu, bisa jadi banyak yang mengabaikan hal begini.

Baru terasa kala mereka berhalangan atau berhenti bekerja. Tapi mereka juga tak bisa berbuat banyak kala kesejahteraan, kesempatan kerja hilang karena habis kontraknya. Siapa peduli?

Tentu, sesuai tugas dan kewenangan kuasa yang ada nasib kesejahteraan tukang sampah dan pekerja kebersihan adalah tanggung jawab pemilik kuasa. Pemerintah daerah, sesuai undang-undang adalah kepala daerah dan DPRD. Di pundak pemilik kuasa inilah nasib kesejahteraan rakyat di daerah bergantung.

Kala terjadi dinamika politik, jelas arahnya harus berpihak kepada rakyat sepenuhnya. Tak boleh ditawar, karena memang begitulah proses politik sejatinya. Lewat pemilihan langsung, rakyat sudah memberikan hak politiknya, memilih dan berpartisipasi aktif memberikan suara.

Politik bukan berefek hanya milik elitnya saja. Bagi mereka yang berpolitik aktif dalam lingkaran kekuasaan seharusnya juga sadar diri. Demokrasi hari ini, esensinya perlu lebih diutamakan.

Lebih substantif, apalagi setelah politik elektoral selesai. Kalau ada masalah politik berkepanjangan, bisa jadi itulah sejatinya residu politik. Harus dipungut, dibersihkan dan dibuang ke tempat yang semestinya.

Apa saja residu atau sampah politik dan demokrasi di tanah air sekarang? Korupsi, kolusi, dan nepotisme, nyata masih terasa.

Adakah sampah politik demokrasi yang lain. Politisi busuk? Mari bersih-bersih bersama.

#ceritapinggirjalan
#bersepedaselalu
#isupublik
#ceritasampah
#sehat
#waras
#bahagia

Kategori
Society

Wisuda Kampus Penyumbang Kerusakan Lingkungan

Sabtu lalu saya datang ke wisuda saudara. Sudah banyak wisuda kawan yang saya datangi, namun kali ini berbeda. Selain karena kali ini saudara saya yang akhirnya saya datangi, di kesempatan ini saya lebih “sebel” melihat wisudawan-wisudawati itu. Tak lain karena tak kunjung wisuda juga diri ini. Asu.

Oleh karenanya saya lebih tertarik untuk memerhatikan hal lain. Cuaca sangat panas, gawai saya menunjukkan suhu di kota ini mencapai 37 derajat celcius. Kesempatan yang tidak dilewatkan oleh penjaja minuman untuk mengais rezeki dari para wisudawan dan tamu wisudawan yang kepanasan.

Penjual minuman menjajakannya dengan cara yang berbeda-beda. Minuman yang dijual pun bermacam-macam. Namun terdapat kesamaan di antara semua itu, yaitu kemasannya. Sebagian besar, kalau tidak bisa dibilang semuanya, diwadahi dengan kemasan plastik. Mulai dari yang berbentuk kantong, gelas, hingga botol.

Ironi yang menarik bagi saya. Di tengah gencarnya kampanye pengurangan penggunaan single use plastic waste di media sosial oleh masyarakat so called educated, acara seremonial di institusi pendidikan menyumbangkan sampah plastik yang sangat besar. Lahir bersama dengan ribuan sarjana yang diwisuda oleh universitas.

Beberapa di antara mereka adalah para sarjana ilmu-ilmu lingkungan. Atau bahkan mungkin ada yang jadi aktivis, yang pernah mendemo pemanasan global. Saya ingin tertawa, tapi takut kualat karena saya sendiri belum wisuda. Asu meneh.

Tempat duduk tamu sangat penuh dan sumpek, saya dan saudara yang lain menyingkir ke tempat yang lebih lapang dan teduh. Saat sibuk merenung, datang seorang nenek dengan membawa karung berukuran cukup besar dan sebuah trash bag hitam.

Ngapunten nggih, Mas“, izinnya saat akan membuka tong sampah di depan saya.

Kemudian beliau membuka tempat sampah di dekat saya. Lalu perlahan mulai memilah isinya sesuai yang beliau butuhkan. Gelas, kantong, dan sebuah kardus air mineral kemasan. Tiga jenis barang yang diambil nenek ini adalah sampah limbah minuman yang dijual tadi.

“Sampah-sampah ini mau diapakan, Bu?”, saya mencoba basa-basi di tengah sibuknya beliau.

“Dijual ke tempat daur ulang, Mas”

Pahlawan.

Begitulah yang terpikir oleh saya sesaat. Saking seringnya melihat media sosial penuh dengan caci maki terhadap pengguna sampah plastik. Saya melihat seorang nenek-nenek yang langsung aksi. Menjadi garda terdepan dalam pencegahan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh masyarakat. Mungkin saja beliau paham, tidak mudah menghentikan penggunaan single use plastic karena memang sangat praktis.

Di saat kita, so called educated people, yang suka marah-marah saat makan bareng temen dan dia tidak punya sedotan stainless steel atau bambu. Ada orang yang peduli dan mengambil sampah-sampah itu untuk didaur ulang. Recycle. Terdengar sangat environment friendly sekali bukan profesi beliau?

Deg. Kemudian saya tersadar, bahwa saya terlalu lama berada di puncak menara gading. Nenek itu tentu tidak pernah tahu atau peduli tentang bahaya lingkungan atau semacamnya. Makan apa besok saja mungkin belum pasti, di sini ia hanya mencari rezeki. Diselenggarakannya acara wisuda kampus adalah kabar baik baginya, karena sampah plastik berkumpul di satu tempat.

Menarik bukan?

Kampus secara umum kini sudah tidak lagi dekat dengan rakyat miskin seperti nenek tadi. Pengabdian masyarakat yang dilakukan pun tidak terlalu substansial. Hanya dilakukan dengan cara-cara formal seperti KKN, atau pengabdian masyarakat oleh dosen, yang mungkin hanya untuk menjaga sertifikasi. Bahkan seringkali keduanya dikerjakan bersamaan, pengabdian masyarakat oleh dosen di-KKN-kan, biar praktis dan ekonomis.

Instansi pendidikan tinggi ini, hanya berfokus menjadi pabrik pencetak manusia terdidik yang dipersiapkan untuk industri sesuai bidangnya. Ah, yang penting jangan pengangguran terlalu lama, nanti jadi omongan tetangga. Apakah bermanfaat bagi masyarakat atau tidak, itu urusan belakangan. Apalagi masyarakat itu bukan tetangga.

Sampah-sampah plastik yang bertumpukan di acara seremonial ini bisa jadi satu-satunya sumbangsih terbesar sarjana-sarjana baru ini bagi rakyat miskin. Nenek tadi, penjual minuman dingin, penjaja suvenir, dan lain-lain. Setelah itu mereka akan masuk ke industri, sibuk dengan diri sendiri.

Matahari sudah di atas kepala. Suhu kurasa semakin panas saja. Saudara saya dan wisudawan lainnya tak kunjung keluar. Saya kehausan. Akhirnya, saya membeli segelas es teh dari penjaja keliling yang lewat dekat saya. Setelah bayar, es teh disajikan dengan gelas plastik lengkap dengan sedotan plastiknya.

Tidak. Saya tidak sedang merusak lingkungan. Dalam konteks ini, saya sedang membantu nenek tadi dan teman-temannya mengais rezeki. Juga bapak penjual es teh yang saya beli ini. Lagipula penjual es teh keliling ini sudah menata es dalam gelas saat dia keliling. Jadi sampah plastik yang terproduksi jumlahnya akan tetap sama, dengan atau tidak saya beli. Bukan begitu?

Ah bodo amat. Kalau memang ingin mengurangi single use plastic, ya memang harus dari hulu dan regulasi. Mari kita berserikat untuk mewujudkannya. Kalau hanya menghindari single use plastic, bukannya tambah merepotkan? Halo? tidak semua orang suka repot seperti Anda.

Huft. Daripada pusing dan pingsan, mending saya minum saja es teh yang barusan saya beli.

Kategori
Society

Sampah, Sampah, Sampah, Kalau Banyak Mau Jadi Apa?

Sejauh pengamatan saya, tercatat dua kali media nasional telah memberitakan penutupan Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Pada tahun 2018 Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mengancam akan menutup TPS Bantar Gebang. Kemudian, baru-baru ini terjadi pemboikotan TPST Piyungan, Bantul oleh warga sekitar.

Boikot tersebut membuat sampah pada TPS-TPS kecil yang ada di perumahan atau di pasar menumpuk. Tumpukan sampah ini menimbulkan pemandangan yang tidak elok dan bau yang mengganggu.

Menurut Detikcom, warga menutup TPST Piyungan karena truk-truk yang membawa sampah merusak jalan kampung. Selain itu, tumpukan sampah di TPST tersebut menimbulkan bau yang menyengat ketika musim hujan.

Penutupan TPS oleh warga sejatinya adalah akibat dari pengelolaan sampah yang kurang baik. Sebenarnya apa saja yang membuat sampah bisa menumpuk sampai sebuah kota kewalahan untuk mengurusi sampah-sampah tersebut?

Penyebab tumpukan sampah bisa disebabkan oleh berbagai hal. Penumpukan sampah bisa terjadi karena berlebihnya sampah dibandingkan kapasitas tampungan sampahnya. Kemudian, kurangnya tempat pengelolaan kembali sampah yang bisa didaur ulang.

Integrasi antar-daerah juga terkadang bermasalah. Contohnya, DKI Jakarta kan membuang sampahnya di TPS Bantar Gebang, Bekasi. Jika birokrasi antara kedua Pemda tidak harmonis, maka kejadian boikot TPS kapan saja bisa terjadi.

Permasalahan tata ruang wilayah menjadi induk dari permasalahan-permasalahan tersebut. Sistem zonasi seharusnya diatur dengan baik sehingga di tempat pembuangan sampah tidak ada pemukiman dengan radius tertentu, sehingga masyarakat tidak terganggu dengan aktivitas TPS.

Tata ruang ini tidak hanya mengatur posisi TPSnya saja, tapi juga jalur transportasi truk agar semaksimal mungkin tidak melewati pemukiman warga. Infrastruktur prasarananya pun perlu diperhatikan dengan seksama agar tidak terjadi kerusakan-kerusakan jalan yang tidak diinginkan.

Solusi Permasalahan Sampah

Solusi permasalahan sampah bisa dilakukan dengan dua pendekatan. Pendekatan yang pertama adalah dari sisi masyarakat kemudian pendekatan kedua dilakukan dari sisi pemerintah.

Hal yang bisa dilakukan masyarakat adalah mengurangi sampah dengan gerakan zero waste, yaitu mengurangi penggunaan bungkusan plastik pada setiap belanja. Zero waste juga bisa dengan cara memanfaatkan sisa bahan makanan untuk dimasak agar tidak semerta-merta dibuang ke tempat sampah.

Mulai membiasakan diri untuk tidak meminta plastik jika hanya berbelanja sedikit dan membawa tas belanjaan jika memang ingin belanja dengan jumlah banyak. Faktor kali dari gerakan ini pasti akan berdampak besar terhadap volume sampah yang terbuang.

Sampah juga harus dipilah dan benar-benar dibuang sesuai dengan kategori. Harapannya, sampah organik dapat diproses kembali menjadi bahan organik. Sampah plastik dan sampah lain yang bisa didaur ulang akan masuk ke tempat daur ulang. Baru nanti residu atau sampah sisa yang masuk ke TPS.

Solusi yang dapat dilakukan oleh pemerintah antara lain dengan menata ulang TPS dengan pemukiman warga agar tidak terjadi komplain di kemudian hari. Perbaikan infrastruktur jalan akses juga harus diperhatikan. Pengelolaan sampah ini harus terintegrasi dari mulai perumahan sampai dengan TPS akhir.

Sampah selalu menjadi tantangan di daerah urban maupun rural. Pemerintah dan masyarakat harus menyesuaikan sistem pengelolaan sampah sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah. Integrasi yang baik antara pengelolaan dan pengurangan sampah diharapkan dapat mengurangi permasalahan sampah di kemudian hari.