Kategori
Society

Kondisi Pulau Sapudi Madura Setelah Diguncang Gempa 6,4 SR

Gempa berkekuatan 6,4 SR muncul di perairan tapal kuda, tepatnya di titik 65 kilometer timur laut Kabupaten Situbondo Jawa Timur, pada hari Kamis (11/10) pukul 01:45 WIB. Kedalaman gempa 10 kilometer, tidak berpotensi tsunami.

Salah satu daerah yang terdampak gempa ialah Sapudi, sebuah pulau kecil sejauh 50 kilometer di utara pusat gempa yang hanya terdiri dari 2 kecamatan, yaitu Gayam dan Nonggunong. Pulau ini secara administrasi adalah bagian Kabupaten Sumenep, Madura. Di Gayam, ada desa bernama Prambanan. Desa ini terletak di sisi timur pulau yang berupa daratan tinggi. Di desa inilah kerusakan paling parah terjadi. Hingga kini, berdasarkan catatan Puskesmas Gayam, tiga orang meninggal (dua orang laki-laki berumur 50 dan 70 tahun, serta seorang anak perempuan berumur 7 tahun). Korban luka-luka mencapai 23 orang, dan paling banyak berasal dari Prambanan.

Lokasi Desa Prambanan, Sapudi

Beberapa rumah di Desa Prambanan dan Nyamplong mengalami kerusakan, dari skala ringan hingga berat. Banyak dinding rumah yang roboh, juga atap teras. Bahkan ada rumah yang roboh sama sekali. Umumnya, struktur atap rumah di dua desa ini memakai kayu, dan penutupnya genteng. Dinding rumah dibuat dari susunan bata kapur – bukan bata merah seperti rumah-rumah di Jawa. Sebab di daratan pulau Sapudi banyak ditemui lapisan kapur. Beberapa lokasi sudah ditambang oleh masyarakat.

Rumah yang roboh di Desa Prambanan
Foto: Laili

 

Dinding rumah yang roboh d Desa Prambanan
Foto: Laili

Fasilitas jalan di Sapudi kurang menyenangkan, termasuk di Desa Prambanan. Lubang di mayoritas ruas jalan siap menggoyang kendaraan sehingga tak dapat melaju kencang. Perbaikan jalan dari tahun ke tahun dengan metode penambalan lubang saja hanya bertahan dalam hitungan bulan.

Tentu saja kondisi jalan raya amat berpengaruh terhadap proses evakuasi.

Di Sapudi, ada dua puskesmas utama, yang terletak di masing-masing pusat kecamatan. Desa Prambanan lebih dekat ke Puskesmas Gayam. Maka kini para korban di rawat di sana.

Untuk menjangkau Pulau Sapudi tak bisa dibilang mudah. Hanya tersedia empat jalur laut yang menjadi andalan sehari-harinya. Dua jalur menggunakan kapal feri, duanya lagi menggunakan perahu kayu. Yang memakai kapal feri menghubungkan Pelabuhan Tarebung (Sapudi) dengan Pelabuhan Kalianget di Sumenep Madura dan Pelabuhan Jangkar di Situbondo. Yang memakai perahu kayu menghubungkan Pelabuhan Tarebung dan Sukarame di Sapudi dan Pelabuhan Dungkek (Sumenep) dan Pelabuhan Kalbut (Situbondo). Apabila kita berangkat dari Madura, butuh 3 jam perjalanan laut untuk sampai di Sapudi. Kalau dari Situbondo 4 jam.

Cara menjangkau Pulau Sapudi.
Warna oranye jalur kapal feri.
Warna hijau jalur perahu kayu

Sayangnya, kapal feri hanya tersedia 2 kali perjalanan dalam seminggu. Untuk yang dari Madura, hanya tersedia hari Minggu dan Kamis. Sedangkan yang dari Situbondo hanya berangkat pada hari Rabu dan Sabtu. Perahu kayu memang beroperasi tiap hari. Namun kapasitas angkutnya tak seberapa dan akan cukup mendebarkan bagi yang tak biasa menyeberangi laut dengan perahu kayu yang sudah berumur.

Perahu kayu yang menghubungan masyarakat
Sapudi dengan dunia Pulau Madura.
Foto: Dandy IM

Kalau ingin tahu bagaimana kondisi pelayaran rakyat di Sapudi, bisa baca: Transportasi Laut Kepulauan Sumenep Madura Belum Berkeadilan

Akhirnya hanya moda helikopterlah yang paling bisa diandalkan. Soekarwo pun ke Sapudi pada hari Kamis (11/10) naik helikopter dan turun di lapangan SMPN 1 Gayam, tempat saya bermain bola dulu.

Gempa di Sapudi ini kemungkinan terjadi karena pergerakan dari sesar RMKS (Rembang, Madura, Kangean, Sakala) Barat. Pasalnya, pusat gempa yang baru saja terjadi ini terletak 30 kilometer di selatan garis sesar. Sesar ini, menurut Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen), pergerakannya 1,5 mm/tahun. Dengan nilai pergerakan tersebut, menurut Pusgen, potensi gempanya mencapai 7,8 SR.

Sesar RMKS di Sapudi (lihat kotak kuning)
Sumber: Pusgen

 

Sesar RMKS di Sapudi (lihat kotak kuning)
Sumber: Pusgen
Gempa telah terjadi. Kini saatnya berdoa, memberi bantuan, agar para korban dapat segera pulih. Dan tak lupa ke depannya membikin Sapudi, dan tentunya juga daerah-daerah lain yang berpotensi gempa, agar lebih siap menghadapi gempa dari segi fisik bangunan dan tata ruang, mental, dan kebudayaan.
Kategori
Beranda

Gempa Donggala Terjadi di Atas Patahan Palu-Koro

Jumat (28/9) terjadi gempa yang berpotensi tsunami di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Menurut laporan BMKG, gempa pertama terjadi pada pukul 15:00 WITA. Kekuatan gempa maksimalnya mencapai magnitude 7,7 SR pada kedalaman 10 kilometer. Pusat gempa terbesar ini terletak di titik 27 kilometer timur laut Donggala.

Berikut sebaran titik pusat gempa di Sulawesi Tengah menurut laporan USGS. Titik merah menandakan lokasi gempa 7,5 SR.

Sumber: USGS

Nilai gempa ini lebih besar daripada gempa maksimal di Lombok yang mencapai 6,9 SR. Apabila diukur dalam skala potensi kerusakan, menurut USGS (United State Geological Survey), gempa ini mencapai MMI IX. Artinya, menurut skala ini, ada potensi bangunan yang kuat mengalami kerusakan, rangka-rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak retak-retak. Rumah tampak agak berpindah dari pondamennya. Pipa-pipa dalam rumah putus. Potensi kerusakan pada pipa-pipa perlu mendapat perhatian, karena berhubungan dengan ketersediaan air bersih.

Sebagian besar wilayah yang paling terdampak gempa, jumlah penduduknya kurang dari seribu jiwa, yaitu di Donggala, Palu, Sigi Biromaru, dan Parigi. Sedangkan Palu jumlah penduduknya besar, yaitu sekitar 280an ribu jiwa.

Baca juga: Selama Rezim Jokowi, Penghancuran Pulau Kecil Terus Berlanjut

Di daerah Donggala sampai Kota Palu diketahui terdapat sebuah patahan yang terletak di daratan yang dinamai sebagai patahan Palu-Koro. Tipe gerakan patahan ini adalah strike-slip (patahan mendatar) dengan pergerakan formasi batuan mencapai 35 sampai dengan 44 mm/tahun. Patahan Palu-Koro merupakan patahan dengan pergerakan terbesar kedua di Indonesia, setelah patahan Yapen, Kepulauan Yapen, Papua Barat, dengan pergerakan mencapai 46 mm/tahun. Dalam sejarahnya patahan ini pernah menyebabkan gempa dengan magnitude 7,9 SR.

Pergerakan patahan Palu-Koro 30/35/44 mm per tahun
Sumber: Pusgen
Indonesia dianugerahi Tuhan dengan sumber daya melimpah. Namun, balik itu semua, negara ini juga banyak diberi cobaan, salah satunya adalah patahan.
Peta patahan Indonesia
Sumber: Pusgen

 

Sejarah kejadian gempa di Sulawesi
Sumber: Pusgen

 

Titik gempa di patahan Palu-Koro
Sumber: Pusgen

Patahan muncul karena aktivitas lempeng kerak bumi yang sejatinya hanya seperti benda tipis yang mengambang di cairan kental (magma). Patahan inilah yang menyebabkan terjadinya gempa bersifat sangat merusak. Tragisnya lagi, banyak patahan besar di Indonesia terletak di daratan dengan kedalaman dangkal, tentunya ini dapat mengakibatkan getaran yang lebih dahsyat daripada patahan di lautan dalam.

Mari bersama-sama siap selamat, berdoa, dan membantu masyarakat Sulawesi Tengah.

Posko Pengungsian Gempa – Tsunami Donggala 2018

Redaksi PijakID
Kategori
Infrastruktur

Kisah Relawan Gempa Lombok

Malam sudah makin larut, jarum besar jam telah menunjuk angka 11, ketika kami yang berada di dalam bus disambut oleh gempa susulan di Lombok. Bus yang baru mancal dari Bandara Internasional Lombok ini berhenti, lalu diguncang. Saya yang awalnya sudah setengah terlelap, jadi melek lagi. Warga sekitar berlarian keluar, berteriak histeris, lampu seketika padam.

Seketika saya teringat suasana gempa Jogja dulu, di tahun 2006. Teriakan itu, kekhawatiran itu. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Akhirnya kalimat ini yang saya gumamkan.

Empat jam sebelumnya, saya sedang mengagumi layanan check-in online. Maklum, ini baru kali kedua saya naik pesawat. Setelah check-in online di dalam bus, tinggal menikmati kemacetan Jogja yang akan saya rindukan selama dua minggu, sembari mengingat-ingat pesan dari para pengarah di Lapangan Satu Bumi (Satub) dan Kantor Pusat Fakultas Teknik (KPFT) UGM. Beliau-beliau ini menyampaikan, dalam menghadapi bencana, harus menyiapkan diri baik-baik. Jangan sampai ikut menjadi beban bahkan korban di lokasi nanti. Persiapan mental juga penting, karena tidak semua korban dapat menerima relawan dengan mudah. Ada yang dengan senang hati menerima, ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang defensif. Respons defensif tersebut terjadi karena berbagai macam faktor, misalnya saja karena warga khawatir dan trauma terhadap tembok atau dinding. Sehingga, bantuan hunian yang masih dibangun menggunakan tembok pasangan bata, beberapa ditolak oleh warga.

Di Lombok, saya menjumpai rumah dan bangunan lainnya yang sudah rusak ringan bahkan berat. Namun, Alhamdulillah, jembatan memiliki kinerja cukup baik dalam menerima beban gempa, sehingga akses jalan dapat dilalui dengan lancar oleh warga dan relawan. Bus yang saya tumpangi pun melaju dengan nyaman.

 

Saya berangkat ke Lombok via program Puskim (Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman) Kementerian PUPR. Oleh karena itu, hari kedua di Lombok, saat hari mulai terang, saya dan teman-teman langsung menuju ke Polsek Pamenang. Di lokasi ini akan dilaksanakan pembangunan RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat) pertama di Lombok, berupa bangunan musala. Tentunya diawali dengan sosialisasi tata cara pembangunannya terlebih dahulu oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) PUPR.

Foto: Dewanto AN

Hari ketiga, 21 Agustus 2018, dilaksanakan pembangunan Masjid Kecinan. Di sini, rangka masjid dibuat berbeda ukurannya dengan musala di hari kedua. Rangka masjid ini ukurannya 9×9 meter, sedangkan yang di musala 6×6 meter. Saat pembangunan masjid ini saya merasakan suasana gotong royong yang luar biasa. Masyarakat dan relawan bahu membahu menggotong panel dari truk menuju lokasi, mengaduk mortar untuk fondasi batu kali, hingga diakhiri salat berjamaah di bawah tenda dari terpal. Sinar matahari memang terasa panas, tapi saat melihat wajah warga yang kehilangan rumah bahkan saudaranya, maka saya menjadi malu pada diri sendiri. Jangan sampai panas ini menurunkan semangat saya mengembalikan lagi senyum warga Lombok.

Baca juga: Polemik Membangun Rumah

 

Hari keempat, 22 Agustus 2018, Idul Adha tiba. Kami menunaikan salat Idul Adha di lapangan alun-alun Kabupaten Lombok Utara. Saya kira tepat penggambaran mantan Menteri Sosial, Idrus Marham, yang menjadi khatib kala itu. Ia menuturkan, warga Lombok tak perlu berkurban fisik seperti saudara-saudara lainnya yang menyembelih kambing atau sapi. Warga Lombok cukup mengorbankan perasaannya.

Pembangunan RISHA diputuskan libur pada momen Idul Adha. Namun, pengabdian terus berjalan bagi kami para relawan. Beberapa teman ada yang berkunjung ke lokasi lain. Ada yang memilih berbincang dengan kawan-kawan relawan lain di posko. Ada yang berbincang dengan warga yang masih di dalam tenda. Saya memilih untuk berkunjung ke posko lain, kurang lebih 5 kilometer dari posko saya. Karena saat itu belum banyak kendaraan, maka saya memutuskan untuk berjalan kaki. Bermodalkan jaket untuk menutup badan dan tas kecil, saya memulai perjalanan.

Selama perjalanan, saya mengamati rumah, ruko, kantor dan infrastruktur yang diserang gempa besar beberapa kali. Ada yang utuh, hanya retak saja aciannya. Ada yang rusak berat bahkan ambruk. Ada bangunan dari bambu yang secara struktural, sangat bagus dan bertahan.

Foto: Ridwan AN

 

Foto: Dewanto AN
Namun… ada juga bangunan yang rusak parah
Foto: Ridwan AN

 

Foto: Dewanto AN

Sesampainya di posko tujuan, saya bertemu dengan rekan saya SMA dulu. Ia menjadi salah satu relawan yang ikut membantu di posko tersebut. Di sanalah saya banyak mendengar suka duka dari relawan NGO (Non Goverment Organization). Kisahnya, saat mereka akan memberi bantuan, tidak hanya memberi, lalu sudah. Namun, mereka harus bisa mengelola dengan baik. Apa saja kebutuhan yang harus segera dipenuhi, mana saja yang perlu diprioritaskan, sampai harus merencanakan apa yang perlu dilakukan agar warga dapat mandiri saat relawan-relawan ini harus pulang ke kampung halaman.

Selesai berbincang, saya berjalan melihat suasana posko. Terlihat di beberapa titik warga sedang memasak sate khas Lombok, berwarna merah terang. Bisa terbayang banyak sekali cabai yang digunakan.

Sesampai di ujung posko, saya melihat kamar mandinya. Tercium aroma kurang sedap. Karena masih ada sedikit air seni yang belum tersiram. Mungkin saja karena air belum datang, atau karena saat membawa, kekurangan air untuk pipis di saat terakhir. Sebab belum ada jaringan pipa. Warga harus membawa air dari bak air di dekat jalan raya, dengan ember ataupun botol seadanya. Bagi laki-laki dewasa hal itu bukan masalah. Bagi ibu-ibu bahkan yang sedang menggendong anak? Tentu saja tidak.

Detik itulah saya sadar. Salah satu hal yang krusial ketika terjadi bencana seperti gempa adalah air.

Krisis air bersih pun efeknya menerpa saya. Di hari ketujuh, badan saya melemah. Dengan terpaksa akhirnya saya harus menuju ke rumah sakit lapangan yang disediakan oleh TNI. Meski ini kabar buruk, tapi saya masih menemui hikmahnya. Saya jadi merasakan atmosfer warga yang mengungsi dan merasakan sakit. Bahkan, saking berefeknya masalah air bersih, petugas pemeriksa tensi sampai hafal. “Diare ya?” ucapnya santai.

Setelah selesai dan mendapat obat, saya kembali ke tenda. Beristirahat, menikmati siang di bawah tenda. Walau begitu, di dalam sudah seperti sauna, berkeringat luar biasa.

Baca juga: Kesulitan Manajemen Air Baku di Oekolo

 

Esoknya, saya kembali bekerja. Alhamdulillah, dengan bekal pengalaman diare sebelumnya, saya lebih hati-hati. Konstruksi dilanjutkan kembali di Masjid Nurul Hidayah, Mataram. Karena ketersediaan lahan yang terbatas, fondasi harus tinggi menyesuaikan elevasi dari sungai yang ada di bawahnya agar aman.

Pada Jumat terakhir di Lombok, kami meneruskan konstruksi di Kantor Desa Sigar Penjalin. Seperti biasa, kami menuju lokasi menggunakan kendaraan Dinas PUPR. Tidak banyak hal berbeda dari yang sebelumnya, namun semua memang terasa berbeda saat kita sudah hampir selesai dari suatu hal. Kami merasa belum bisa membantu banyak, masih banyak “PR” untuk teman-teman di Lombok. Di sela-sela perjalanan, saya memotret sesuatu untuk mengingatkan saya, jangan terlalu sibuk untuk menggapai dunia.

Foto: Dewanto AN

 

Foto: Dewanto AN

Kini saya sudah kembali ke Jogja. Kembali bergulat dengan tugas-tugas akademik. Dan akhirnya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk warga NTB. Semoga diberi kekuatan pada pundaknya untuk bersabar dan ikhtiar berjuang bangkit kembali. Terima kasih kepada semua pihak, pemerintah, NGO dan semua yang membantu. Apapun bentuknya.

Dewanto Adi Nugroho
Mahasiswa Teknik Sipil dan Lingkungan UGM
Kategori
Beranda

Gempa Lombok dan Rumah Kita

Ilustrasi: Lentera Rumah

Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menginformasikan Gempa Lombok yang terjadi sekitar pukul 7 malam WIB (5/8) besarnya 6,9 SR (skala Richter). Skala ini berguna untuk mengetahui berapa amplitudo maksimum suatu gempa. Untuk menghasilkan angka ini, butuh perhitungan matematis dari data pengukur gempa (seismogram). Akan tetapi, angka tersebut juga dapat diterjemahkan ke dalam efek yang dirasakan manusia. Untuk gempa 6,9 SR, area yang berpotensi mengalami kerusakan ialah radius 160 km.

Namun demikian, skala ini kurang detail dalam memprediksi getaran yang dialami oleh manusia terutama yang di dalam rumah dan kerusakan yang dialami oleh bangunan. Oleh karena itu, dapat digunakan skala Modified Mercally Intensity (MMI). Skala ini juga sudah digunakan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika. Berikut penjelasan skala MMI tersebut.

MMI I: getaran dirasakan kecuali dalam keadaan luar biasa oleh beberapa orang

MMI II: getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang

MMI III: getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.

MMI IV: pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu gemerincing dan dinding berbunyi.

MMI V: getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, jendela dan sebagainya pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti

MMI VI: getaran dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, kerusakan ringan.

MMI VII: tiap-tiap orang keluar rumah. Kerusakan ringan pada rumah-rumah dengan bangunan dan konstruksi yang baik. Sedangkan pada bangunan dengan konstruksi kurang baik terjadi retak-retak bahkan hancur, cerobong asap pecah. Terasa oleh orang yang naik kendaraan.

MMI VIII: Kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat. Retak-retak pada bangunan dengan konstruksi kurang baik, dinding dapat lepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen-monumen roboh, air menjadi keruh.

MMI IX: kerusakan ada bangunan yang kuat, rangka-rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak retak-retak. Rumah tampak berpindah dari pondamennya. Pipa-pipa dalam rumah putus.

MMI X: bangunan dari kayu yang kuat rusak, rangka rumah lepas dari pondamennya, tanah terbelah, rel melengkung, tanah longsor di tiap-tiap sungai dan di tanah-tanah yang curam.

MMI XI: bangunan-bangunan hanya sedikit yang tetap berdiri. Jembatan rusak, terjadi lembah. Pipa dalam tanah tidak dapat dipakai sama sekali, tanah terbelah, rel melengkung.

MMI XII: hancur sama sekali. Gelombang tampak pada permukaan tanah. Pemandangan menjadi gelap. Benda-benda terlempar ke udara.

USGS menyatakan di daerah Mataram, Nusa Tenggara Barat, skala gempanya mencapai MMI VIII. Untuk daerah Selatan Bali hingga tengah, yaitu dari Kuta hingga Ubud, mencapai MMI V. Sedangkan di daerah Klungkung dan Singaraja mencapai MMI IV.

Berdasarkan data tersebut, prediksi kerusakan bangunan dengan konstruksi yang kuat di daerah Mataram, hanya akan mengalami kerusakan ringan dan retak-retak pada rumah dengan konstruksi yang baik. Sedangkan di daerah Bali, bangunan diprediksikan tidak akan mengalami kerusakan, kecuali ornamen-ornamen yang akan jatuh dan pecah. Akan tetapi, konstruksi bangunan di Indonesia, apalagi rumah tinggal, kerap tak memenuhi standar. Sehingga, kerusakan bisa saja lebih parah. Pada skala MMI VIII diprediksikan dinding rumah dapat terlepas. Ini adalah kejadian yang berbahaya karena dinding dapat menimpa orang yang di dalam rumah. Apalagi terjadinya di malam hari. Fenomena terlepasnya dinding rumah mulai mendapat sorotan yang besar saat terjadi gempa di Bantul, DIY, tahun 2006. Banyak korban meninggal akibat tertimpa dinding yang roboh. Desain standar rumah tahan gempa sudah merekomendasikan dinding diangkur ke kolom (tiang) rumah dengan jarak tertentu. Misalnya tiap jarak 1 meter. Hal ini membuat dinding lebih kokoh karena “berpegangan” ke kolom (tiang) struktur rumah.

Baca juga: Pelikan Tak Selamanya Jawaban Untuk Difabel

Satu hal menarik apabila mengamati lebih detail skala MMI. Rupanya, bangunan kayu yang kuat baru mengalami kerusakan pada saat gempa mencapai skala MMI X. Mengapa demikian? Tentu saja karena bangunan yang terbuat dari kayu lebih ringan daripada campuran bata dan beton. Ini bisa dijelaskan dengan Hukum Newton II yang sebetulnya sudah diajarkan sejak SMP. Hukum Newton II menyatakan bahwa F=m.a. Percepatan gempa dinyatakan dengan simbol “a”. Sedangkan “m” adalah massa (berat) bangunan. “F” adalah gaya yang harus diterima oleh bangunan tersebut. Kita tidak dapat mengatur nilai “a”, karena itu urusan Tuhan. Akan tetapi kita dapat mengatur “m”. Kita dapat mengatur seberapa berat rumah kita. Semakin kecil “m”, akan semakin kecil pula beban gempa yang akan diderita oleh rumah kita.

Rentetan Gempa di Lombok tentunya menjadi kesempatan meninjau kembali berbagai program pemerintah terkait pembangunan, khususnya perumahan, yang semakin mengarah ke Timur. Mungkin bisa lebih diperlantang: mari kembali ke kayu!

Dandy IM
PijakID