Kategori
Transportasi

Biar Sukses, Tol Probolinggo-Banyuwangi Perlu Dibarengi Pengembangan Pelabuhan

Saya termasuk yang bersyukur trase Transjawa segmen Probolinggo-Banyuwangi tidak melalui Jember, tapi Situbondo. Pasalnya, sampai hari ini perkembangan Situbondo jauh tertinggal daripada Jember. Anda bisa membuktikannya dengan melakukan perjalanan menggunakan bus dari Surabaya ke Situbondo, baik siang maupun malam. Ketika hendak naik bus di terminal Purabaya Surabaya (Bungurasih), mungkin Anda akan tersenyum senang karena menemukan bus tujuan Situbondo. Kenek yang Anda tanya pun bakal bilang bus akan sampai Situbondo.

Namun, saat bus hampir sampai di terminal Probolinggo, dan bisa saja saat itu Anda sedang terlelap, kenek akan membangunkan dan memaksa Anda untuk pindah bus. Mengapa? Karena bus yang sedang Anda tumpangi akan berbelok ke selatan: Lumajang, terus ke Jember, lalu ke Banyuwangi. Anda disuruh masuk ke bus yang sudah penuh penumpang, yang daritadi mengumpulkan penumpang tujuan Situbondo (senasib dengan Anda), agar tak merugi. Kemungkinan besar Anda tak akan dapat tempat duduk. Namun, itu masih mending daripada Anda masuk bus tujuan Situbondo yang masih kosong. Sebab, itu berarti Anda harus menunggu bus itu terisi penuh! Ya seperti angkot gitulah.

Mengapa demikian? Penumpang bus yang Anda naiki tadi tujuannya lebih banyak ke Jember daripada Situbondo. Sebagai kota yang lebih maju dari segi ekonomi, pariwisata, dan pendidikan, Jember tentu lebih banyak membangkitkan perjalanan dan juga sebagai tujuan perjalanan.

Maka, jika Transjawa lewat Situbondo, ia akan memberi angin segar bagi kabupaten yg punya banyak pesantren ini. Ekonominya akan berkembang, terutama di sektor pariwisata. Dengan adanya tol, perjalanan dari Surabaya maupun Banyuwangi ke Situbondo akan lebih singkat.

Awalnya, jika naik bus, perjalanan Surabaya-Situbondo memakan waktu 4 jam. Itupun kalau di Probolinggo tak menunggu lama. Tol niscaya akan meringkasnya menjadi hanya sekitar 2 jam saja. Sehingga, pilihan wisata bagi masyarakat tidak hanya terbatas di Probolinggo dengan Gunung Bromonya yang mashur, atau Jember dengan Pantai Papumanya, tapi juga Situbondo dengan pilihan pariwisata yang tak kalah menariknya. Sebut saja Pantai Pasir Putih, Pantai Bama, hingga Savana Baluran.

Selain itu, tol juga akan mempermudah perjalanan religi ke Situbondo. Jangan salah, ketika hari-hari penting Islam, khususnya Maulid Nabi, pesantren-pesantren di Situbondo banyak dikunjungi orang untuk mendengar ceramah kiai. Adapula yang sekaligus menjenguk anaknya di pesantren. Dan yang datang bukan hanya orang Situbondo saja, tapi juga daerah-daerah lain di tapal kuda serta Madura.

Selain memanjakan para pengendara kendaraan pribadi yang ingin berwisata, perjalanan religi, atau mudik, kata pemerintah pusat tol juga akan mengefektifkan sistem logistik. Sederhananya, menurunkan biaya pengiriman barang.

Akan tetapi, jika menengok fenomena Transjawa segmen Semarang ke arah barat, truk masih lebih banyak yg lewat jalur Pantura. Kata para pengusaha truk, mereka menghindari Transjawa karena tarifnya mahal.

Pembangunan jalan tol memang membutuhkan investasi (biaya) yang besar. Misalnya, pembangunan tol Semarang-Batang yang panjangnya 7 kilometer saja, membutuhkan biaya 11,04 triliun. Hal inilah yang membuat tarif tol terpaksa dibuat tinggi untuk pengembalian investasi selama masa konsesi. Pemerintah sempat beralasan, tol hanyalah salah satu alternatif jalur perjalanan. Kalau mau cepat ya naik tol dan bayar lebih mahal, tapi kalau mau lebih murah lewat jalan biasa dengan konsekuensi perjalanan lebih lama.

Di sisi lain, menurut teman saya, Ali Akbar, kualitas logistik bukan cuma soal kecepatan angkut. Secara umum, logistik punya 3 macam sifat: butuh diangkut cepat meski sedikit, butuh diangkut banyak meski lambat, dan di tengah-tengah keduanya. Untuk truk yang mengangkut barang yang tidak dituntut cepat sampai, seperti beras, garam, gula, pastilah ogah lewat tol jika tarifnya mahal. Mending lewat jalan biasa saja, karena meski lama, lebih hemat ongkos hingga setengahnya. Untuk barang yang dituntut cepat sampai pun, kata Ali Akbar, keuntungan yang didapat jasa pengiriman selama ini tidak terlampau besar. Jadi kalau lewat tol, keuntungan tersebut akan lebih kecil lagi.

Uraian masalah di atas mestinya membuat kita insyaf bahwa tol tak menyelesaikan seluruh masalah logistik. Ada bagian-bagian yang tidak diselesaikan tol. Hal inilah yang membuat tol perlu didukung oleh infrastruktur lain, seperti pelabuhan dan kereta api.

Di tulisan ini hanya akan dibahas soal pelabuhan. Di Situbondo, ada dua pelabuhan penting, yaitu Jangkar dan Panarukan. Pelabuhan Jangkar fungsinya untuk lalu lintas penumpang dan barang-barang yang tidak dalam skala besar. Tujuan penumpang umumnya ke Pulau Madura dan pulau-pulau kecil di sebelah timurnya.

Ketika mendengar kata “Panarukan”, apa yang terlintas di benak Anda? Ya, kita sering mendengar nama ini ketika berbicara soal Jalan Raya Pos-Jalan Daendels yang terbentang dari Anyer hingga Panarukan. Di kecamatan ini ada sebuah pelabuhan yang dilengkapi dengan lapangan kontainer. Kapal yang bisa berlabuh di pelabuhan ini pun sampai 1000 DWT.

Keunggulan jalur laut dibandingkan jalan tol adalah kapasitas angkutnya berkali-kali lipat. Sebagai gambaran, truk kontainer muatannya maksimal hanya 25 ton. Sedangkan kapal 1000 DWT muatannya bisa sampai 600 ton. Bayangkan, jika sama-sama berangkat dari Panarukan ke Surabaya, kapal laut bisa mengangkut 24 kali lebih banyak daripada truk. Ya meskipun truk akan duluan sampai di Surabaya, apalagi jika ada tol, tapi untuk jenis barang yang tak perlu cepet-cepet sampai, tetap akan lebih efisien memakai kapal. Sebab, harga barangnya ketika sampai di Surabaya akan lebih murah karena dibawa dalam jumlah banyak sekaligus. Hal tersebut juga berlaku jalur sebaliknya: Surabaya ke Panarukan.

Sayangnya, pelabuhan Panarukan terlantar. Lapangan kontainer kosong. Struktur pelabuhan banyak yang rusak. Lampu penerangan cuma satu-dua yang hidup, sehingga kalau malam hari sering dipakai pacaran (entah ini efek positif atau negatif). Pembangunan yang dilakukan oleh Kemenhub tahun 2016 tetap tak mampu menggairahkan pelabuhan ini. Mentoknya cuma dipakai bersender perahu ikan.

Maka, pembenahan pelabuhan di Situbondo seiring pembangunan tol, serta mengintegrasikan keduanya, mestinya menjadi fokus pemerintah ke depan. Agar ekonomi daerah tapal kuda benar-benar tumbuh, mengejar ketertinggalan. Agar logistik benar-benar murah dan efektif. Dan tentu saja tak cukup di situ. Sistem logistik Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi mestinya bisa ikut membantu pemerataan ekonomi di daerah timur, khusunya Nusa Tenggara. Mengingat, Situbondo lebih dekat ke sana daripada Surabaya. Dan juga biar tak menumpuk di Surabaya. Kalau perlu bisa langsung ekspor ke Australia. Karena toh, hingga kini, kargo dari Bali yang mau dibawa ke Australia masih diberangkatkan dari Surabaya.

Kategori
Infrastruktur

Banjir di Tol Madiun, Apakah Tolnya Salah Desain?

Ruas tol Solo-Kertosono yang berada di Kecamatan Balerejo, Madiun terendam banjir hingga ketinggian 1 meter pada Kamis (7/3). Sontak, isu ini langsung dilahap oleh para kampret sebagai bahan menyerang Jokowi. Jalan tol memang menjadi salah satu program andalan Jokowi untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa selama ia menjadi presiden ada hasilnya. Makanya, bagi para kampret, ini adalah isu yang seksi untuk menunjukkan bahwa jalan tol Jokowi dibikin sembarangan. Pertanyaan sederhananya, kok bisa jalan tol yang merupakan akses vital terkena banjir? Apakah desainnya buruk? Atau pengerjaannya asal-asalan? Padahal, jalan tol adalah bangunan yang dituntut punya standar tinggi. Genangan sedikit saja tidak diperkenankan.

Argumen di atas didukung oleh beberapa pengamat transportasi. Mereka bilang, sistem drainase jalan tol di Indonesia memang sering tidak diperhatikan dengan baik. Dengan kondisi alam di Indonesia yang sangat beragam dan curah hujan tinggi, ditambah dengan saluran drainase yang buruk, tidak heran jika jalan tol akan banjir. Namun, kasus di Madiun ini berbeda. Genangan setinggi 1 meter yang melanda jalan tol tidak berasal dari air yang jatuh di badan jalan. Air itu datang dari daerah di sekitar jalan tol. Bupati Madiun, Ahmad Dawami Ragil menyebutkan penyebab utama banjir tersebut adalah 3 tanggul yang jebol karena tidak kuat menahan aliran banjir. Tiga tanggul tersebut berada di anakan Kali Madiun. Jadi, air yang menggenangi jalan tol adalah kiriman dari daerah sekitarnya. Padahal, drainase jalan tol didesain hanya menampung air yang jatuh di badan jalan. Sehingga kalau ada air tambahan yang sangat besar dari daerah sekitarnya, ya jelas drainase tersebut tidak akan mampu menampungnya. Dengan kata lain, bukan salah drainase jalan tolnya.

Baca juga: Pelan-Pelan Orang Akan Kembali ke Taksi Konvensional

Namun demikian, desain jalan tol yang berhubungan dengan isu banjir bukan cuma tentang drainase. Perencanaan jalan tol seharusnya mempertimbangkan informasi ancaman banjir di kawasan tersebut. Ancaman banjir di antaranya meliputi besarnya curah hujan tertinggi, aliran air permukaan, dan sejarah banjir. Kalau sudah tahu di daerah tersebut memang jadi langganan banjir, ya mestinya ada penanganan yang harus dilakukan dong, misalnya dengan meninggikan elevasi jalan. Kecuali jika informasi tersebut tidak dicari. Maksudnya, si perencana jalan tol mengabaikan ancaman banjir. Dari sudut pandang ini, bisa saja ada kesalahan desain.

Baca juga: Lagi-lagi Sawah Kebanjiran

Sampai di sini kita bisa paham bahwa sumber masalahnya adalah air sungai yang meluap. Kali Madiun tak lagi mampu menampung aliran air, sehingga memuntahkannya ke jalanan. Namun, solusi yang ditawarkan Gubernur Jawa Timur yang baru, Khofifah Indar Parawansa, yaitu akan membenahi tanggul yang jebol dan membuat sodetan rasanya tak akan efektif untuk jangka panjang. Sebab, tak mengatasi sumber masalahnya.

Air sungai yang meluap disebabkan oleh volume air sungai yang bertambah secara mendadak. Maksudnya, air hujan yang jatuh di daerah sekitar sungai lebih cepat mengalir ke sungai. Kalau menggunakan istilah teknis, ada kerusakan DAS (Daerah Aliran Sungai). Air hujan tidak lagi masuk dulu ke dalam tanah lalu mengalir pelan ke sungai. Air hujan kini lebih banyak dan lebih cepat mengalir di permukaan, sehingga sungai kaget langsung didatangi air sebanyak itu. Bagai manusia yang dijejalkan air ke mulutnya, sungai pun muntah.

Baca juga: Transjogja Akan Digdaya dengan Bantuan Angkudes dan AKDP

Akhirnya, dalam masalah ini, kita mesti kembali lagi ke petuah klise tapi tetap krusial: pembenahan lingkungan. Lahan-lahan di sekitar sungai, terutama di hulu, yang rusak diperbaiki. Daya serapnya dipulihkan. Lahan yang sudah terlanjur berganti wajah menjadi pemukiman, manajemen airnya diperbaiki. Misalnya, dengan membuat aturan dan pembinaan agar air hujan yang jatuh di daerah perumahan tersebut tidak cepat lari keluar kemudian langsung masuk sungai. Jadi, Bu Khofifah, setelah membenahi tanggul, mari lanjut perbaiki alam di sekitar Kali Madiun dan Bengawan Solo yang juga sering muntah.