Kategori
Society

Keluarga Telah Gagal

Saya tahu ini tidak pantas diucapkan pada Moko – seorang pemuda yang baru lulus kuliah arsitektur yang tiba-tiba harus mengurus lima keponakannya (tiga sudah sekolah, satu baru lahir, satu titipan) karena kakak perempuan dan iparnya meninggal dunia, dan seorang bapak yang kabur meninggalkan anaknya. Moko telah membunuh mimpinya sendiri, yang telah ia angan-angankan bersama pacarnya. Ia percaya pada takdirnya, meskipun sungguh, lelahnya tak terkira.

Tetapi toh, saya akan tetap mengatakan ini pada Moko: untungnya, masih ada tembok di rumahmu yang bisa dibongkar untuk membuat ruang tamu yang lebih jembar. Ada sebuah keluarga, di Jakarta juga, yang bahkan tidak punya tembok untuk dihancurkan. Sebab, satu-satunya ruang di rumah yang mereka miliki adalah sepetak ruangan berukuran 2×3 meter saja. Anggota keluarga mereka bahkan lebih banyak daripada anggota keluargamu. Alhasil, jangankan menghancurkan tembok, tidur saja mereka bergantian karena satu ruangan itu tak cukup untuk menampung mereka semua.

Kategori
Society

Keluarga Tidak Bahagia Nadira

Kata orang, keluarga adalah rumah. Tempat pulang. Tempat bersemayamnya kasih sayang. Dunia di luar keluarga sering kali menyiksa kita, karena penuh dengan niat jahat, intrik, kehampaan, dan kekejaman. Dunia di luar keluarga cepat bikin lelah. Untungnya, setelah energi kita habis terkuras menghadapi dunia luar itu, kita bisa pulang kepada keluarga yang siap memberi pelukan ternyaman dan mengisi ulang daya hidup kita.

Tapi berkah keluarga ini tidak dirasakan oleh Nadira. Alih-alih pulang setelah bekerja, ia memilih tidur di bawah kolong meja kerjanya. Ia punya rumah. Tetapi jika ia pulang, kesedihan kembali menusuk pikirannya. Kesedihan yang berasal dari lantai kamar tempat ibunya ditemukan bunuh diri.

Kategori
Society

Industri Kasih Sayang

Cinta terlalu suci. Akibat kesuciannya, kita tidak bisa membicarakan cinta secara rasional. Para penyair, pendongeng, dan peramu cerita di kelompok mainstream akan sebal jika mendengar rencana membicarakan cinta secara rasional. Sebab ini akan menjadi penghambat bagi mereka untuk terus meromantisasi cinta menjadi sederet baris syair, berlembar-lembar dongeng, dan berjilid-jilid buku cerita.

Kategori
Politik Society

Pengarang Telah Mati, Kapan Ayah dan Ibu Menyusul?

Pengarang telah lama mati. Kita membunuhnya. Seorang pengarang kini tak lagi pantas mengklaim bahwa karya yang ia produksi adalah murni ciptaan dirinya. Begitu juga dengan interpretasi atas karya yang ia hasilkan. Ia tak lagi bisa bilang bahwa hanya pemaknaan dari dirinyalah yang paling valid. Seluruh tafsiran yang muncul dari para penikmat karyanya patut juga dipertimbangkan.

Kategori
Society

Anakmu Bukan Anakmu: Memikirkan Ulang Konsep Keluarga

Apabila muncul fakta bahwa kamu bukan berasal dari sperma bapakmu atau sel telur ibumu saat ini, apakah mereka akan tetap mencintaimu? Apakah mereka akan tetap menganggapmu sebagai anak dengan curahan kasih sayang yang sama? Sebaliknya, apakah kau akan tetap mencintai ibu-bapakmu jika salah satu atau keduanya ternyata bukan induk genetikmu?

Kategori
Kapital

Kerja Reproduktif yang Tidak Dihargai

93 kata
1 menit

Perbincangan tentang pembagian tugas dalam rumah tangga semakin digemari oleh banyak orang belakangan ini, terutama muda-mudi yang belum menikah. Mulai banyak yang sadar bahwa memasak, mencuci baju dan piring, menyapu, menyuapi anak, mengganti popok bayi, bukan hanya tanggung jawab istri. Suami pun ikut bertanggung jawab. Pembagian tugas pekerjaan rumah yang juga menyita waktu dan tenaga ini semestinya diobrolin secara terbuka oleh kedua pasangan yang tinggal serumah. Kuncinya adalah komunikasi, keterbukaan, dan kesadaran bahwa pekerjaan tersebut adalah tugas bersama. Begitulah obrolan umum yang sering saya dengar dan baca.

Kategori
Society

Mengkritisi RUU Ketahanan Keluarga: Keluargaku Bukan Urusanmu, Bos!

99 kata
1 menit

Saya baru saja menamatkan buku State of Ibuism atau Ibuisme Negara dalam versi bahasa Indonesia. Buku yang ditulis oleh Julia Suryakusuma, seorang feminis intelektual Indonesia, ini secara gamblang memaparkan kejahatan yang dilakukan oleh Orde Baru, terutama yang berhubungan dengan perempuan. Orde Baru dengan sengaja memunculkan konstruksi “perempuan ideal” yang kemudian menjadi stigma dan dipercayai orang-orang hingga saat ini. Perempuan ala Orde Baru didefinisikan memiliki peran hanya sebatas pada bidang domestik saja. Dengan kata lain, Orde Baru berusaha mengkonstruksikan tugas utama seorang perempuan adalah menjadi istri dan juga ibu bagi anak-anaknya.