Kategori
Society

Lagu Aisyah Emang Lagi Viral, tapi Kenapa Harus Dibandingkan dengan Novel?

Saat sedang menulis artikel ini, saya baru saja menengok trending YouTube yang agak berbeda dari biasanya. Konten-konten berfedah seperti obrolan Pak Anies dengan Deddy Corbuzier masuk jajaran trending. Namun, dari jajaran satu sampai lima,  nggak ada tuh video dari keluarga petir ataupun video unboxing. Alhamdulillah~

Seperti biasa, saya akan nonton video yang menurut saya menarik di jajaran trending. Nggak disangka, selain berita tentang COVID-19, ternyata trending nomor satu ditempati oleh lagu Aisyah yang dicover oleh grup musik Sabyan Gambus. Mulanya, saya enak-anak aja mendengarkan suara Mbak Nisa, tapi tiba di lirik yang berbunyi “bukan persis novel mula benci jadi rindu” saya jadi agak mikir. Lha emang kenapa sih sama romansa novel? Apa penulis lagunya kehabisan ide atau emang sentimen banget sama novel?

Aisyah… sungguh manis sirah kasih cintamu
Bukan persis novel mula benci jadi rindu

Mendengarkan penggalan liriknya saja, saya malah jadi merasa terbebani. Entah kenapa seperti ada beban gitu di dalam lagunya. Meskipun terdengar sepele, saya khawatir lagu tersebut dapat menimbulkan implikasi yang tidak semestinya. Impresi yang saya tangkap dari lirik ini adalah bahwa kisah Aisyah ini termasuk dalam bagian sejarah hidup Rasulullah dan tentunya lebih unggul daripada kisah cinta romansa yang ada dalam novel, khususnya yang mengisahkan kisah benci jadi rindu.

Kalau memang benar hal itu yang ingin disampaikan oleh penulis, saya bisa bantah dengan dua hal. Yang pertama, itu novel zaman kapan sih yang ceritanya soal benci jadi rindu? Penulis lagu Aisyah ini bacanya novel apa sih? Saya penasaran deh.

Novel-novel karya sastrawan Habiburrahman El-Syirazi, NH Dini, Eka Kurniawan, dan lain-lain alurnya nggak semonoton itu deh kayanya. Malahan yang lebih sering saya lihat mula benci jadi rindu itu adanya di FTV. Itu lho, tayangan tv siang-siang yang orang miskin jatuh cinta sama orang kaya yang nggak sengaja nabrak dia, terus akhirnya jadian.

Saya curiga, penulis lagu ini nggak baca novel sebenarnya, tapi malah keseringan menonton FTV. Hanya karena merasa novel leih cocok dimasukkan ke dalam lirik, yaudah makanya dipilih lah kata novel sebagai pelengkapnya.

Bantahan kedua saya mengarah pada kalimat majemuk dalam lirik yang seolah ingin menyiratkan ide bahwa alur cerita “benci jadi rindu” itu rendahan. Atau setidaknya jauh lebih rendah dibanding kisah cinta Rasulullah dan Aisyah. Ya nggak apa-apa juga sih mau menganggap seperti itu, tapi asal tau aja nih ya, alur cerita benci jadi rindu itu amanat hadis lho! Hehehe.

Nggak percaya? Yuk dibuka kitab hadisnya. Dalam kitab Sunah At-Tirmidzi no. 1997 dijelaskan bahwa kita dianjurkan untuk mencintai dan membenci secara sewajarnya, karena bisa saja di saat yang lain perasaan kita akan berubah 180 derajat.

Cintailah orang yang engkau kasihi sekedarnya saja karena boleh jadi kelak engkau akan membencinya. Bencilah orang yang engkau benci juga sekedarnya saja karena boleh jadi kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai. (HR. Tirmidzi no. 1997, Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 1321)

Lah terus hubungannya apa sama alur cinta benci jadi rindu? Kisah-kisah roman FTV, eh novel deng, kalau kata penulis lagu Aisyah, yang benci jadi cinta itu biasanya ditandai dengan benci yang amat sangat, lalu suatu ketika jatuh cinta. Hal ini sebenarnya merupakan contoh konkret tentang bagaimana hadis yang saya paparkan di atas bekerja.

Pun amanat ceritanya juga memiliki arah yang sama seperti hadis tadi, yaitu membenci atau mencintai orang sewajarnya saja. Jadi, nggak perlu lah ya dipandang sebelah mata. Bagus juga kok amanat cerita benci jadi rindu ini.

Selain itu, saya juga ingin menyampaikan bahwa sebagai pendengar musik dan penikmat kisah-kisah sejarah, saya justru lebih ingin mendengar kisah Aisyah sebagai seorang perempuan tangguh yang pernah memimpin perang. Aisyah yang juga dikenal sebagai perempuan cerdas diriwayatkan tak kurang dari dua ribu hadis.

Sebenarnya nggak apa-apa juga mengenang kisah cinta Nabi dengan istrinya, toh bagus-bagus aja kok. Namun, menurut saya pribadi, setiap orang punya keunikan kisah romantisnya sendiri-sendiri, sehingga yang lebih penting untuk ditiru dari sosok Aisyah adalah bagaimana ia menjadi perempuan yang tangguh dan cerdas. Sayang sekali, narasi ini jarang muncul di dalam cerita sejarah, begitu pula di dalam lagu Aisyah ini.

[mks_pullquote align=”left” width=”300″ size=”24″ bg_color=”#ffffff” txt_color=”#1e73be”]Yang lebih penting untuk ditiru dari sosok Aisyah adalah bagaimana ia menjadi perempuan yang tangguh dan cerdas. Sayang sekali, narasi ini jarang muncul di dalam cerita sejarah, begitu pula di dalam lagu Aisyah ini.[/mks_pullquote]

Meskipun begitu, saya berterima kasih kepada siapa pun yang menciptakan lagu ini. Terima kasih juga untuk teman-teman Sabyan Gambus yang telah membawa lagu ini ke telinga saya. Meskipun saya kurang setuju dengan liriknya, tapi saya jadi punya waktu untuk mengingat bahwa dalam sejarah Islam ada perempuan-perempuan tangguh, cerdas dan mandiri seperti Aisyah dan ibunda Khadijah.

Kategori
Society

COVID-19: Masa Depan Bumi dan Kesenjangan Sosial

Dunia sedang digegerkan oleh menyebarnya SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19. Cepat menular antar-manusia, dan bisa mengakibatkan kematian. Peluasan dan percepatan penyebaran SARS-CoV-2 difasilitasi oleh kemajuan teknologi transportasi beserta infrastrukturnya yang memungkinkan manusia berpindah tempat secara cepat, dengan jarak yang jauh, untuk saling berinteraksi. Sementara itu, kemajuan teknologi komunikasi dan informasi – terutama internet – memungkinkan pengetahuan dan kabar seputar virus ini juga menyebar secara cepat dan meluas. Termasuk hoaks dan berita palsu. Bukan hanya pengetahuan dan kewaspadaan yang diciptakan dan dipertukarkan, namun juga kepanikan.

Ada saatnya ketika suatu materi mikro tertentu muncul di planet bumi dan mengganggu bekerjanya organ tubuh manusia, sehingga menimbulkan penyakit yang bisa mengakibatkan kematian. Katakanlah materi mikro tersebut adalah mikroorganisme seperti bakteri atau virus (anggap saja virus sebagai organisme, meski ada yang tidak sependapat). Percepatan dan perluasan mobilitas manusia juga mempercepat dan memperluas penyebaran mikroorganisme tersebut antar-manusia. Tidak adanya tempat yang terisolasi mengakibatkan tidak ada rintangan bagi perpindahan atau penyebaran mikroorganisme tersebut ke berbagai tempat, meloncat ke semua tubuh manusia yang ada di muka bumi.

MASA DEPAN BUMI

Jika mikroorganisme yang mengakibatkan penyakit tersebut berhasil membinasakan seluruh manusia di bumi – misal karena tubuh manusia tidak bisa melawannya, atau tidak ada obat pembunuhnya – maka manusia (homo sapiens) tidak ada lagi di planet bumi. Tidak ada yang tersisa. Pada saat itu, sejarah manusia telah selesai. Apa yang mungkin terjadi kemudian?

Setelah manusia lenyap dari planet bumi, maka ekosistem di bumi mengalami perubahan atau penyesuaian. Puncak rantai makanan tidak lagi diduduki oleh manusia. Hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan akan memulai perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan tanpa ada intervensi manusia. Predator-predator dan mangsa-mangsa di bumi akan tetap ada, namun tanpa kehadiran manusia. Terjadi penyesuaian-penyesuaian baru.

[mks_pullquote align=”left” width=”300″ size=”24″ bg_color=”” txt_color=”#1e73be”]”Kepunahan manusia mungkin menjadi awal kemunculan kembali keragaman kehidupan organisme lain. Kiamat bagi manusia ternyata bukan kiamat bagi organisme-organisme lain di bumi.”[/mks_pullquote]

Artefak-artefak fisik hasil kebudayaan manusia, yang telah ditinggalkan oleh manusia, akan menjadi wahana bagi perkembangan kehidupan organisme-organisme non-manusia. Kapal-kapal yang karam di pantai akan menjadi terumbu karang di dasar laut. Tumbuh-tumbuhan mulai muncul di bangunan-bangunan gedung atau rumah, bandara-bandara, pelabuhan-pelabuhan, jalan-jalan, dan sebagainya. Organisme herbivora menggantungkan sumber energi pada tumbuh-tumbuhan yang beragam tersebut. Kemudian, organisme herbivora dimangsa oleh organisme carnivora dan omnivora, di dalam sebuah rantai makanan.

Saat itu, daratan, air, dan udara bersifat ideal bagi wahana kemunculan kembali berbagai tumbuhan dan hewan secara lebih beragam karena tidak ada lagi zat-zat kimia buangan atau limbah aktivitas manusia yang menjadi penghalang bagi kemunculan dan perkembangan berbagai organisme tersebut. Planet bumi seolah kembali ke keadaan sebelum manusia menempati puncak rantai makanan, sebagai predator tertinggi. Tidak ada “bencana” bagi flora dan fauna yang diakibatkan oleh manusia. Kepunahan manusia mungkin menjadi awal kemunculan kembali keragaman kehidupan organisme lain. Kiamat bagi manusia ternyata bukan kiamat bagi organisme-organisme lain di bumi. Tidak ada yang memburu hewan secara masal, tidak ada yang menghilangkan flora secara meluas.

Namun jika mikroorganisme tersebut bisa dikalahkan, disingkirkan, dibunuh, maka eksistensi manusia di planet bumi akan terus berlanjut. Mungkin mikroorganisme tersebut disingkirkan melalui usaha manusia, misal dengan penciptaan obat atau vaksin. Dengan demikian, manusia melakukan serangan balik pada mikroorganisme, dan mikroorganisme kalah.

Kemungkinan lain, mikroorganisme disingkirkan oleh sebab-sebab natural, yang bisa saja tidak pernah diduga oleh manusia. Misal, terjadinya evolusi pada tubuh manusia yang mengakibatkan tubuh manusia secara natural bisa mengalahkan atau mengendalikan mikroorganisme bersangkutan. Mungkin juga sebab natural lain, semisal perubahan cuaca atau iklim yang kemudian melenyapkan mikroorganisme tersebut. Atau sebab-sebab lainnya. Pada intinya, manusia tetap hidup, tidak punah.

Manusia akan melanjutkan sejarahnya lagi. Manusia akan tetap menempati puncak rantai makanan di planet bumi. Manusia akan kembali meneruskan eksploitasi terhadap apa yang ada di planet bumi (organik maupun anorganik) untuk kepentingan mempertahankan dan melangsungkan kehidupan manusia.

Berbagai tumbuhan dan hewan memang dibudidayakan oleh manusia. Didomestifikasi dan dipertahankan keberadaannya. Dipelihara atau ditangkarkan untuk dikonsumsi ataupun sekadar sebagai hiburan. Namun – sebagai dampak keberadaan manusia – tidak sedikit dari flora dan fauna kemudian tersingkir, punah dari planet bumi, secara disengaja (misal diburu atau dihancurkan oleh manusia) ataupun tidak disengaja (misal, habitatnya hilang karena telah dialihfungsikan oleh manusia). Kepunahan beberapa tumbuhan dan hewan tidak terelakkan. Ini adalah dampak natural dari keberadaan manusia yang selama ini telah terjadi.

EFEK YANG BERBEDA

Suatu serangan mikroorganisme – yang merusak organ vital manusia sehingga bisa mengakibatkan kematian – bisa saja tidak mengenal identitas kultural (agama, suku, bangsa, negara, dll). Menginfeksi semua manusia dengan latar belakang kultural yang beragam. Selama masih berada di dalam spesies manusia, mikroorganisme tersebut akan menyebar antar-individu. Mungkin akan ada orang-orang tertentu (misal, berdasar usia atau sejarah kepemilikan penyakit) yang akan mengalami pemburukan kesehatan saat terinfeksi mikroorganisme menular tersebut, yang itu tidak terjadi pada orang-orang “sehat” lainnya.

[mks_pullquote align=”right” width=”300″ size=”24″ bg_color=”” txt_color=”#1e73be”]”Masyarakat dari kelas atas maupun kelas bawah bisa saja sama-sama terinfeksi mikroorganisme penganggu. Namun, masyarakat dari kelas sosial-ekonomi bawah akan mengalami pemburukan ganda, yakni gangguan kesehatan tubuh (tubuh sakit) dan kelumpuhan kelangsungan kehidupan ekonomi.”[/mks_pullquote]

Hanya saja, semua gangguan tersebut seringkali berbeda dampaknya pada tiap-tiap manusia dengan latar belakang kelas sosial-ekonomi tertentu. Perbedaan latar kelas sosial dan penguasaan sumber daya ekonomi menyebabkan perbedaan dampak sosial-ekonomi. Suatu hierarki sosial ciptaan manusia, yang membagi-bagi kadar previlise, telah mendiskriminasikan dampak sosial-ekonomi di antara anggota masyarakat. Semua kelompok kelas-kelas bisa sama-sama terganggu secara sosial-ekonomi, namun dengan kadar yang berbeda.

Masyarakat dari kelas atas maupun kelas bawah bisa saja sama-sama terinfeksi mikroorganisme penganggu. Namun, masyarakat dari kelas sosial-ekonomi bawah akan mengalami pemburukan ganda, yakni gangguan kesehatan tubuh (tubuh sakit) dan kelumpuhan kelangsungan kehidupan ekonomi. Kelangsungan kehidupan ekonomi mudah lumpuh dikarenakan ketiadaan atau kurangnya kepemilikan sumber daya ekonomi. Kekurangan sumber daya ekonomi itu sendiri sering berada di dalam lingkaran-setan dengan kondisi kekurangan dalam hal sumber pengetahuan (pendidikan), perawatan kesehatan, pemukiman, juga previlise sosial-kultural.

Peristiwa sakitnya tubuh manusia akibat gangguan mikroorganisme adalah berada di dalam wilayah determinisme alam (sebab-akibat), berada di luar kesadaran manusia. Adalah suatu peristiwa natural ketika sebuah mikroorganisme mencari tempat untuk bisa aktif (hidup), meski kadang bisa merugikan organisme lain, termasuk tubuh manusia.

Sedangkan peristiwa kelumpuhan ekonomi seseorang dari kelas bawah sebagai dampak atas peristiwa sakitnya tubuh orang tersebut dikarenakan serangan mikroorganisme, maka hal ini tidak semata berada dalam konteks determinisme alam (jika memang dianggap demikiran), namun juga melibatkan faktor motif, dan faktor motif ini berkaitan dengan kehendak (will) manusia.

Dengan demikian, perbedaan dampak sosial-ekonomi pada setiap manusia (dikarenakan perbedaan syarat-syarat sosial-ekonomi di antara mereka) atas peristiwa sakitnya seseorang karena gangguan mikroorganisme juga merupakan peristiwa kultural, bukan semata peristiwa natural. Kesenjangan kelas-kelas sosial-ekonomi antar manusia merupakan hasil dari praktek-praktek dan gagasan-gagasan kehidupan sosial yang diciptakan manusia, digerakkan oleh motif-motif, diperintahkan oleh kehendak manusia. Justru faktor motif dan kehendak ini yang seharusnya sebelumnya dapat diketahui, diprediksi, diantisipasi, direkayasa, agar dampak buruk sosial-ekonomi (bencana sosial-ekonomi) atas suatu peristiwa natural bisa dikendalikan dan diatasi, termasuk dicegah. Motif-motif dan kehendak-kehendak sosial-ekonomi, yang menciptakan kesenjangan kelas-kelas sosial-ekonomi, yang mengakibatkan perbedaan dampak sosial-ekonomi ketika suatu bencana terjadi.

Kategori
Infrastruktur Transportasi

Manajemen Waktu Konstruksi Prasarana Perkeretaapian

821 kata
4 menit
Corrugated Mortar Busa Pusjatan Sebagai Solusi Perlintasan Tidak Sebidang

Perlintasan sebidang antara jalan raya dengan jalur kereta api sering kali menjadi titik konflik rawan kecelakaan. Titik konflik ini terjadi diakibatkan terdapat pengurangan kecepatan pada perlintasan sebidang sehingga terjadi penumpukan pada lokasi perlintasan. Kurangnya prasarana perlindungan perlintasan pun menjadi faktor tambahan yang membuat perlintasan sebidang menjadi rawan kecelakaan. Menurut Kementerian Perhubungan, pada tahun 2018 setidaknya terdapat 395 kasus kecelakaan kereta api pada perlintasan sebidang dengan total 245 korban.

Pada 18 April 2017 Kereta Lodaya menabrak sebuah minibus di perlintasan sebidang Jalan Perlintasan Langsung (JPL) 482, Desa Pucung Lor, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap. Minibus yang memiliki total 14 penumpang tersebut tertabrak kereta saat melintasi perlintasan sebidang untuk menuju acara pernikahan. Total korban jiwa sebanyak enam orang dan korban luka sebanyak delapan orang.

Setelah melalui proses yang panjang, pada September 2019 pemerintah melalui Kementerian Perhubungan memulai konstruksi perlintasan sebidang di JPL 482. Tipe konstruksi adalah overpass dengan menggunakan teknologi Corrugated Mortar Busa Pusjatan (CMP). Teknologi ini sudah beberapa kali digunakan antara lain Overpass Antapani di Bandung serta Overpass Manahan di Solo.

Metode konstruksi CMP membutuhkan pemasangan Corrugated Steel Plate (CSP) sebagai struktur utama overpass. CSP terdiri dari rangkaian plat baja yang disusun menjadi konstruksi pelengkung. Pemasangan pelengkung ini membutuhkan bantuan perancah sebagai pendukung agar struktur tidak jatuh pada saat proses pemasangan, perancah juga sebagai tempat mobilisasi bagi pekerja untuk melakukan pengencangan baut pada struktur CSP.

Proses konstruksi seperti ini akan sangat mudah dilakukan jika pada area kerja berupa jalan raya. Kendaraan dapat dengan mudah dialihkan dengan menggunakan sistem manajemen lalu lintas. Lain cerita apabila struktur dilakukan di atas jalan rel kereta api, kereta api tidak dapat dialihkan seperti kendaraan biasa.

Proses persiapan dan pemasangan struktur CSP memakan waktu selama 25 hari dengan rincian sepuluh hari membuat dudukan struktur dan lima belas hari melakukan perakitan. Permasalahannya, kereta api melewati area konstruksi dengan rata-rata interval 15 menit, yang mana mustahil untuk melakukan perakitan CSP di atas jalur kereta api jika hanya membandingkan antara lama konstruksi dengan ketersediaan waktu. Lalu bagaimana solusi dari permasalahan konstruksi tersebut?

Rekayasa Metode Konstruksi dan Pemanfaatan Window Time Kereta Api

Untuk dapat melakukan pemasangan CSP di atas jalur kereta api maka tidak bisa menggunakan metode pemasangan yang sama seperti di atas jalan raya. Perlu ada rekayasa metode konstruksi agar pelaksanaan dapat dilakukan dengan efisien. Pertanyaannya sekarang jika kereta api tidak bisa dialihkan maupun dihentikan operasionalnya, lalu bagaimana kita dapat memasang CSP di atas jalur kereta api? Sekarang saya perkenalkan kepada teman-teman semua sebuah konsep yang sudah lama dipakai dalam proses pembangunan, perawatan, dan peningkatan jalur kereta api, Window Time.

Window Time secara definisi merupakan jeda waktu antar kereta api yang dipergunakan untuk melakukan proses pembangunan, perawatan, dan peningkatan jalur kereta api. Perjalanan kereta api diatur dalam Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) dan penentuan Gapeka juga memasukkan Window time sebagai pertimbangan untuk pertimbangan perawatan prasarana perkeretaapian.

Window time dibagi menjadi dua karakteristik, karakteristik kereta commuter dengan karakteristik Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ). Karakteristik kereta commuter adalah volume perjalanannya tinggi dan memiliki jarak yang rapat, namun jam operasional kereta commuter di atur tidak 24 jam, sehingga pada malam hari kereta commuter memiliki jam non operasional. Untuk KAJJ operasional dilakukan dalam waktu 24 jam namun jarak antar kereta tidak serapat kereta commuter. Misalkan kereta Commuter memiliki jarak kedatangan sebesar 5 menit maka KAJJ memiliki jarak kedatangan antara 10-150 menit.

Pelaksanaan konstruksi di JPL 482 berada di lintas KAJJ, pada lintas tersebut tidak terdapat kereta commuter, oleh karena itu karakteristik window time pada lokasi tersebut adalah tidak memiliki jam non operasional. Untuk mendapatkan waktu yang maksimal maka kita harus melihat jeda waktu terbesar pada Gapeka. Jeda waktu yang kita dapatkan dari Gapeka disebut dengan window time Gapeka.

Setelah kita mendapatkan slot waktu terbesar yang tersedia pada Gapeka, maka waktu tersebut bukanlah waktu yang menjadi acuan untuk melaksanakan kosntruksi. PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang akan menentukan berapa lama waktu yang kita miliki untuk melaksanakan kosntruksi tersebut. Waktu yang diberikan oleh operator kereta api pasti di bawah waktu yang kita dapatkan dari Gapeka dengan pertimbangan konstruksi harus selesai sebelum kereta akan melintasi area kerja. Waktu ini disebut dengan window time KAI.

Setelah kita mendapatkan window time yang kita miliki, kemudian kita melakukan rekayasa metode konstruksi sehingga kebutuhan waktu konstruksi kurang dari waktu yang kita miliki. Intinya, waktu konstruksi harus lebih kecil dari window time yang tersedia. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan proses konstruksi disebut dengan window time konstruksi.

Proses menentukan metode konstruksi terdiri dari dua hal utama, yaitu waktu dan sumber daya. Waktu pekerjaan harus lebih kecil dari waktu yang diberikan agar pekerjaan dapat selesai sebelum kereta selanjutnya dapat melintasi pekerjaan konstruksi. Sumber daya yang dimaksud adalah sumber daya berupa alat dan tenaga, alat dan tenaga yang dimiliki kontraktor harus tersedia dan cukup untuk melaksanakan konstruksi tersebut.

Kesimpulannya, pekerjaan konstruksi kereta api dapat dilakukan di sela-sela perjalanan kereta api, kemudian total waktu konstruksi tersebut tidak boleh melebihi dari panjang jeda perjalanan kereta api. Manajemen sumber daya dan waktu yang baik harus diperhatikan serta diperhitungkan dengan matang agar kemungkinan terjadinya kegagalan konstruksi menjadi kecil.

Kategori
Transportasi

ODOL Sang Pembunuh Jalanan

59 kata
1 menit

Belum sampai sebulan lamanya, terjadi kecelakaan antara truk bermuatan kayu dengan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) di ruas Tol Ungaran-Bawen pada tanggal 14 Februari 2020. Kecelakaan ini disebabkan oleh rantai yang menderek truk bermuatan kayu putus kemudian membuat truk bermuatan tersebut meluncur bebas ke arah Bus Sinar Jaya. Dua orang meninggal dunia dalam kejadian tersebut.

Kategori
Society

Benarkah Agama Musuh Pancasila?

136 kata
1 menit

Beberapa waktu yang lalu, kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Yudian Wahyudi sempat membuat publik gempar bercampur aduk emosi. Pasalnya, beliau mengatakan bahwa musuh terbesar Pancasila adalah agama. Pernyataan kontroversial ini menarik polemik dan menimbulkan keresahan terutama di kalangan pemuka agama. Memang, hal-hal seperti ini lumrah dan tidak menjadi delik ketika dibicarakan di dalam ruang akademik terlepas dari tingkat kebenaran yang terkandung dalam pernyataannya, karena fungsi ruang akademik sebagai tempat dimana suatu tesis akan diuji terus menerus tanpa berhenti pada suatu penghakiman mutlak. Hanya tentu saja, kata “musuh” di situ terkesan bermuatan sentimen, dan ada dorongan emosional. Sehingga, akan lumrah pula timbul reaksi yang berbeda ketika hal ini disampaikan di ruang publik. Sampai saat tulisan ini ditulis, reaksi publik dan pemuka agama masih terus bermunculan meskipun Yudian sudah memberikan klarifikasinya.

Kategori
Transportasi

Kebangkitan Otobus di Indonesia

57 kata
1 menit

Bus saat ini menjadi salah satu moda transportasi yang cukup dipertimbangkan dibandingkan dengan moda transportasi kereta api mau pun pesawat. Perusahaan Otobus (PO) mulai berlomba-lomba dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat setia pengguna bus. Ditambah lagi dengan kenaikan harga kereta api dan pesawat yang membuat masyarakat harus memilih alternatif lain dalam berpindah tempat.

Kategori
Society

Kebebasan Adalah Kamuflase, Diskursus Libertarian Omong Kosong

66 kata
1 menit

Menyoal tren yang cukup ramai belakangan, banyak orang yang merasa bijaksana lagi terbuka dengan pandangannya mengenai kebebasan, bebas berpendapat, bebas berkarir, bebas menentukan. Saya sih bukan mau menyalahkan atau menghalang-halangi kehendak orang sebagai bagian dari apa yang disebut manusia bebas itu, cuma sepertinya ada yang perlu kita perdebatkan perihal arti kebebasan bagi mereka yang mengklaim diri sebagai libertarian.

Kategori
Society

Dulu Pelacur Punya Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan, Kini Mereka Hanya Jadi Korban Politik

90 kata
1 menit

Apa yang akan kita ucapkan ketika ditanyai siapa yang berperan dalam Kemerdekaan Indonesia? Kebanyakan dari kita pasti akan menyebut Sukarno, Hatta dan tokoh-tokoh dalam struktur PPKI dan BPUPKI. Sedikit dari kita mungkin akan bercerita perjuangan tokoh lainnya yang berhasil melahirkan embrio-embrio revolusi seperti Pangeran Diponegoro, Budi Utomo, Umar Said Cokroaminoto. Tetapi untuk kali ini mari bersepakat bahwa Kemerdekaan Indonesia didapatkan karena peran dari semua warganya yang punya kemauan tulus untuk merdeka. Tak terkecuali dari seorang pelacur.

Kategori
Politik

Istirahat Sejenak Demi Kewarasan

53 kata
1 menit

Mengawali tahun 2020 dengan banyaknya tragedi alam maupun kemanusiaan membuat kita berpikir, apakah dunia memang sekacau ini? Tidak hentinya kita mendengar berita tentang kejadian serius yang menimpa manusia di seluruh dunia. Awal januari saja, kita hampir terancam oleh perang dunia ketiga yang tentu saja akan membuat kehancuran yang masif.

Kategori
Society

Mempertanyakan Eksistensi Diri di Tengah Arus Modernisasi dan Berkembangnya Teknologi

88 kata
1 menit

Barangkali kita kadung santai-santai saja atau bahkan berontak hasrat kita lantaran bualan-bualan modernisasi. Yang dimaksud dengan istilah “bualan” ini adalah statement yang “berani-berani takut” untuk melempar klaim bahwa modernisasi sudah cukup banyak merampas lumbung makanan lalu meninggalkan sampah busuk bagi peradaban. Ya, enggak selalu gitu sih. Okelah, tapi di setiap “enggak selalu gitu” biasanya emang ada sampah-sampahnya. Lalu apa yang kita lihat sebagai bualan itu? Oke, kita mulai bongkar khusnudzonnya manusia ini terhadap modernisasi dengan segala atributnya.