Beranda

  • Mahasiswa Teknik Seluruh Indonesia, Berpolitiklah!

    Mahasiswa Teknik Seluruh Indonesia, Berpolitiklah!

    Dulu, di tahun kedua aku kuliah, ada kuliah umum salah satu matakuliah yang mendatangkan alumni sebagai pembicara. Seluruh mahasiswa diwajibkan hadir. Jadi aku pun hadir.

    Namun, karena malam sebelumnya begadang, aku tidak terlalu memperhatikan omongan si pembicara. Tapi ada satu kalimat yang tiba-tiba menarik perhatianku. “Seorang insinyur jangan alergi politik! Karena setiap keputusan dalam bidang teknik ditentukan oleh kebijakan politik!” Begitu kata si pembicara. (Bagi kawan yang mendengarnya juga, mohon koreksi apabila kalimatnya salah).

    Kalimat itu terngiang-ngiang di kepalaku hingga hari ini…

    Satu semester sebelumnya, aku baru bergabung dengan organisasi di bidang sosial politik. Jadi, sebetulnya aku telah terpapar dengan aktivitas politik. Walaupun aku masih ogah-ogahan waktu itu. Sebab aku masih menganggap politik hanyalah tentang perebutan kekuasaan, politik praktis, saling sikut, saling tikung, dan hal-hal menjijikkan lainnya.

    Seminar yang kuceritakan tadi sungguh telah membuka pikiranku. Ternyata penerapan bidang ilmuku juga dipengaruhi politik! Bagaimana aku bisa acuh?

    Tahun-tahun berlalu. Kini aku sudah berada di penghujung masa kuliah. Seperti mahasiswa akhir pada umumnya, aku mulai gelisah. Apalagi waktu itu sedang ada isu pembangunan prasaran transportasi di provinsi tempatku menuntut ilmu. Dalam proses pembangunannya, terjadi konflik lahan antara masyarakat dan pemerintah. Peristiwa ini semakin membuatku gelisah.

    Dari pelajaran di kelas, aku paham bahwa infrastruktur yang memicu konflik lahan ini perlu dibangun karena yang ada sudah tak lagi mampu menampung penumpang yang makin padat. Namun juga aku tahu dari pengalaman dan bacaan, pemilihan lokasi pembangunan infrastruktur perlu mempertimbangkan aspek sosial.

    Sungguh pusing kami waktu itu mencari trase (jalur) terbaik dalam matakuliah geometri jalan, gara-gara menerobos kuburan dan pemukiman warga. Tapi kenapa pada pembangunan proyek ini bisa sampai terjadi konflik? Bukankah perancangnya adalah insinyur-insinyur terbaik negeri ini?

    Jawaban pun kudapat, walau hanya kata seorang teman dan masih kupertanyakan kevalidannya. Prasarana tersebut telah memiliki beberapa opsi lokasi dan yang dipilih itu bukan opsi terbaik berdasarkan aspek sosial. Sasus yang kudengar, masalah keuntungan wilayahlah yang menyebabkan dipilihnya lokasi itu.

    Dari informasi tersebut aku semakin sadar. Politik memang tidak memengaruhi tulangan beton yang akan digunakan. Namun lebih besar dari itu, dampak sosial pada masyarakat akibat kerja-kerja insinyur ditentukan olehnya. Keputusan politiklah ujung tombaknya. Oleh karena itu, aku serukan pada para insinyur dan calon insinyur yang sadar akan kemanusiaan: berpolitiklah! Kalau tidak karya-karya yang kau pikir mulia itu hanya dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki kuasa untuk mengambil keuntungan.

  • Kaum Muda yang Berpikiran Segar, Mari Bersatu!

    Kaum Muda yang Berpikiran Segar, Mari Bersatu!

    Sebelumnya aku tak tahu ia siapa. Pemandu acara PPSMB Teknik UGM memperkenalkannya sebagai pelopor mobil listrik nasional. Ia diundang sebagai pembicara di depan barisan mahasiswa baru teknik, termasuk diriku.

    Aku tidak ingat ia bicara apa. Yang kuingat, nampaknya ia tak terlalu bersemangat menjawab pertanyaan dari mahasiswa baru. Sampai kemudian ada yang bertanya begini: kalau kami sudah bekerja keras untuk menemukan inovasi dalam bidang teknik, lalu terbentur dengan persoalan politik, bagaimana?

    Begini ia membuka jawabannya, “Nah, pertanyaan ini yang saya tunggu-tunggu dari tadi.” Kalimat selanjutnya aku lupa persisnya. Tapi kira-kira singkatnya seperti ini, “Tidak usah mikirin politik. Kalian berkaryalah dengan tekun.” (Koreksi kalau aku salah, bagi yang mendengarnya juga).

    Sampai beberapa bulan kemudian, aku mengamini perkataannya. Ngapain juga ikut-ikut mengurusi politik. Aku kan kuliah teknik. Setiap orang sudah punya perannya masing-masing. Jika setiap orang menjalankan perannya dengan baik, maka dunia ini akan semakin cepat mencapai cita-cita bersama. Aku ingin mempelajari bidang ilmuku secara sungguh-sungguh. Dan tak perlu ambil pusing dengan bagian orang lain, termasuk politik.

    Sejujurnya aku tidak tahu kapan dan di momen apa mulai meragukan omongan si pelopor mobil listrik nasional. Bisa jadi memang tidak ada momen spesial yang mengubah pandanganku. Prosesnya berangsur-angsur.

    Kini aku percaya, tanpa politik, penerapan ilmu-ilmu teknik akan sulit berdampak luas. Uji coba inovasi teknik di sebuah desa memang bikin kagum, dan tidak ada salahnya. Namun, jika terus dilakukan oleh komunitas-komunitas kecil, tanpa ada peran aktif negara, maka hanya sebagian kecil (bahkan sangat kecil) kelompok masyarakat saja yang menikmatinya.

    Mengapa? Karena yang punya perangkat lengkap itu negara. Dengan dukungan birokrasi negara yang gemuk dan anggaran yang jumbo, negara bisa menerapkan kegiatan yang dampaknya sangat luas.

    Pekerjaan rumahnya memang besar. Karena saat ini, citra ilmu teknik cukup buruk apalagi di benak masyarakat terdampak pembangunan. Ilmu teknik kerap dituding menjadi alibi penguasa dalam melaksanakan proyek-proyek yang tidak sensitif pada kemanusiaan. Jalanan macet, kata ilmu teknik via bibir penguasa: bangun jalan tol. Ada potensi gelombang laut tinggi, kata ilmu teknik via mulut penguasa: bangun tembok. Lahan hunian sudah sesak, kata ilmu teknik via lidah penguasa: reklamasi pantai.

    Pola penyelesaian masalah seperti di atas merebut banyak ruang hidup rakyat. Belum jelas memang apakah dampak positifnya jauh melampaui efek negatifnya. Tapi perut yang lapar tidak bisa menunggu. Rakyat yang kena efek negatif berjuang untuk hidupnya setiap hari.

    Beberapa kalangan menyimpulkan, deretan masalah pembangunan ini karena pengambil keputusan didominasi orang-orang dengan pola pikir teknik, juga ekonomi. Akibatnya, pembangunan nasional tidak menempatkan manusia sebagai pertimbangan utama.

    Namun menurutku, justru karena orang-orang yang punya sudut pandang segar dalam ilmu teknik belum menjadi wajah pemerintahan. Mereka ini belum punya kendali dalam pemerintahan, sehingga berbagai keputusan pembangunan terus mengacu pada konsep teknik yang sudah kedaluwarsa.

    Zaman sudah maju. Di berbagai belahan dunia, ilmu teknik berkembang pesat. Teori-teori yang sudah basi dan terbukti tak efektif, dibuang ke bak sampah lalu diganti teori yang lebih manjur.

    Misalnya di bidang transportasi. Negara-negara macam Amerika dan Korea Selatan pernah keranjingan membangun jalan tol tiap ada sumbatan aliran kendaraan. Mereka dulunya percaya jika jalan macet, berarti jalan tidak cukup lebar untuk menampung kendaraan. Jadi bangunlah terus jalan sampai pertumbuhan jalan baru lebih cepat daripada pertumbuhan jumlah kendaraan. Salah satu kota di Korea Selatan, Seol, bahkan pernah membuat jalan layang di atas sungai!

    Kini mereka mulai insyaf. Beberapa jalan tol di negeri mereka sudah dihancurkan. Sebab mereka sudah meresapi teori baru, yang menyatakan bahwa semakin kau membuat jalan baru, orang akan semakin pengin ke mana-mana membawa kendaraan pribadi, dan selanjutnya akan mendorong orang-orang membeli kendaraan baru.

    Patut dicatat, perubahan kebijakan di Amerika dan Korea Selatan itu tidak hanya dipengaruhi oleh setumpuk penelitian orang-orang teknik tentang transportasi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah lalu sudah. Perubahan besar-besaran terjadi saat ada keputusan politik. Orang-orang teknik yang punya pemikiran baru ini punya suara di dalam pemerintahan, sehingga bisa mempengaruhi arah pembangunan.

    Indonesia kini sudah banyak memiliki cendikia teknik yang pikirannya lebih terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru. Apalagi mereka adalah kaum muda yang di zaman ini melihat dunia dengan cara yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Tinggal kita bersama-sama, di bidang masing-masing, merebut suara kekuasaan agar tidak terus menerus terjebak di kubangan yang sama. Jangan sampai kendali kekuasan jatuh pada orang-orang yang tubuhnya doang muda, tapi isi kepalanya tidak bergerak ke mana-mana.

  • Algoritma Akan Mengambil Alih Pekerjaan Manusia

    Algoritma Akan Mengambil Alih Pekerjaan Manusia

    Algoritma kini ada di mana-mana. Telepon pintar, internet, media sosial, hingga jam tangan pintar semuanya memakai algoritma. Ketika kamu membuka Twitter, Instagram, atau Facebook, postingan teratas mungkin kebanyakan berasal dari teman-temanmu, atau orang-orang yang postingannya sering disukai dan dikomentari olehmu. Itu semua adalah hasil algoritma.

    Sederhananya, algoritma adalah deretan logika matematika yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk perintah tertentu. Orang yang membuat algoritma biasanya disebut programmer.

    Algoritma hingga hari ini sudah membuat banyak manusia kehilangan pekerjaannya. Penjaga pintu tol, teller bank, agen perjalanan, adalah beberapa contohnya. Namun demikian, sebetulnya kebanyakan dari kita masih yakin manusia tidak akan pernah digantikan sepenuhnya oleh algoritma dalam dunia pekerjaan. Alasannya, manusia mempunyai perasaan, empati, dan pengetahuan etis, sementara algoritma tidak. Benarkah demikian?

    Justru karena manusia punya perasaan (emosi), ia punya kelemahan. Ia cenderung menuruti emosinya, daripada kebajikan-kebajikan yang bertahun-tahun diajarkan oleh orang tua, guru, dan tukang dongeng, Apalagi di saat tertekan. Mengapa begitu? Sebab emosi di dalam diri manusia adalah hasil evolusi berjuta-juta tahun dalam menghadapi seleksi alam, hingga akhirnya ia menguasai alam bawah sadar manusia dalam mengambil keputusan.

    Sementara itu, algoritma tidak mengalami evolusi. Ia tidak dibebani emosi yang mengganggunya dalam mengambil keputusan. Ia patuh pada kode-kode yang membentuknya.

    Mari ambil contoh. Seorang manusia sedang mengendarai mobil. Tiba-tiba, beberapa meter di depannya ada anak kecil mengejar bola yang menggelinding ke jalan. Manusia ini hanya punya 2 pilihan: menabrak si anak kecil karena sudah tak sempat mengerem, atau berpindah jalur untuk menghindar dengan risiko tertabrak kendaraan dari arah berlawanan.

    Jika kamu yang menyetir mobil, pilihan mana yang kamu ambil? Kalau kamu menjawabnya sekarang (saat membaca tulisan ini), mungkin kamu mengambil pilihan kedua. Namun, jika kamu benar-benar sedang di dalam mobil itu, bisa jadi kamu malah memutuskan untuk menabrak si anak kecil. Ini bukan berarti kamu egois. Tapi reaksi-reaksi kimia di dalam dirimu sudah terbiasa mengambil pilihan untuk tetap bertahan hidup selama berjuta-juta tahun berevolusi.

    Berbeda dengan manusia, algoritma tidak punya tuntutan untuk bertahan hidup. Ia hanya manut pada kode-kode yang ditulis programmer dengan bantuan filsuf. Kode-kode ini pasti tidak sempurna. Pasti ada kesalahan di sana-sini. Namun, jika algoritma dalam mobil tanpa pengemudi sudah terbukti bisa mengurangi jumlah kecelakaan daripada supir manusia yang tersandera emosi, maka manusia akan sepakat memakai algoritma sebagai supir baru mereka.

    Dan ini berlanjut ke bidang pekerjaan yang lain.

  • Tips Mudik Asyik via Jalan Tol Baru Trans Jawa

    Tips Mudik Asyik via Jalan Tol Baru Trans Jawa

    Sudah menjadi rutinitas tahunan bagi kita, warga negara Indonesia melakukan mudik (pulang kampung) pada hari raya Idul Fitri. Anda dapat memilih moda transportasi apapun -bisa kendaraan pribadi atau transportasi umum- yang anda nilai paling nyaman, aman dan tentunya pas dari segi biaya. Bagi anda yang berniat menggunakan mobil untuk mudik tahun ini, anda bisa menggunakan fasilitas jalan tol baru untuk mempercepat perjalanan anda ke tujuan.

    Mudik via tol tahun ini akan terasa berbeda, khususnya bagi pemudik yang melintasi Pulau Jawa. Karena Tol Trans Jawa yang dicanangkan oleh pemerintah telah berhasil tersambung dari mulai Merak, Banten sampai ke Pasuruan, Jawa Timur tepat sebelum mudik lebaran tahun ini dimulai. Rute tol ini berturut-turut tersambung dari pintu tol Merak-Cikampek-Palimanan-Cirebon-Pejagan-Brebes Timur-Pemalang-Batang-Semarang-Ungaran-Boyolali-Solo-Sragen-Ngawi-Madiun-Kertosono-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Grati dan berakhir di Pasuruan, Jawa Timur dengan panjang total 965 Km.

    Jika kebetulan rute mudik anda melewati jalur tersebut, maka tidak ada salahnya anda mencoba mencicipi jalan tol baru Trans Jawa pada kesempatan mudik tahun ini. Namun, anda perlu memperhatikan hal-hal yang penting berikut ini sebelum anda benar-benar memasuki gerbang tol saat mudik lebaran.

    Berikut adalah tips mudik via jalan tol yang seharusnya Anda ketahui:

    1. Persiapkan kartu E-Toll atau Jasa Marga Access dan lakukan top up

    Mempunyai kartu toll (E-Toll card) adalah wajib bagi siapapun yang ingin mengakses jalan tol. Maka dari itu bagi anda yang belum memiliki kartu E-Toll ini bergegaslah untuk segera membuatnya.

    Sebenarnya cara membuat E-Toll Card ini sangatlah mudah, dimana kalian hanya perlu mengunjungi kantor penerbit E-Money atau beberapa kantor yang menyediakan kartu E-Toll, seperti E-Toll Card BPJT, Mandiri E-Money, BRI Brizzi, BNI Tapcash, BTN Link, BCA Flazz, E-Toll Card Mandiri, GAZ Card dan Indomaret Card.

    Pastikan pula anda telah mengisi saldo E-Toll ini sesuai kebutuhan biaya tol pulang-pergi, dari gerbang tol asal sampai dengan gerbang tol tujuan. Apakah anda sudah tahu tarifnya? Tenang, berikut adalah tarif tol resmi yang telah dikeluarkan oleh Jasa Marga.

    Silahkan cek Informasi tarif jalan tol dan buku panduan mudik tol Trans Jawa lebih lengkapnya di artikel pijak.id berikut.

     

     

    2. Memastikan kendaraan dalam kondisi prima dan mengisi BBM jauh-jauh hari

    Jangan sampai momen berbahagia mudik asyik anda ternodai oleh peristiwa mobil mogok di jalan atau hal-hal lain yang tidak diinginkan akibat abai terhadap kondisi kendaraan. Pastikan anda sudah melakukan servis terhadap mobil yang akan anda bawa untuk mudik dan mengecek semua komponen kendaraan masih dalam keadaan prima.

    Tentu akan merepotkan bila anda harus berlama-lama antri mengisi BBM saat mudik. Untuk mengantisipasi hal tersebut, penuhilah tanki BBM (sesuai kebutuhan) anda sebelum masa mudik telah tiba. Sedangkan saat perjalanan mudik sangat disarankan untuk anda selalu mengecek kondisi ban dan air radiator mesin.
     

     

    3. Rencanakanlah titik rest area dimana rombongan anda akan beristirahat 

    Mudik dibawa asyik saja. Jangan terlalu memaksakan fisik anda untuk segera sampai tujuan. Perkirakanlah perjalanan yang ideal bagi anda untuk berkendara (menatap jalanan), misal waktu rata-rata seseorang dapat berkonsentrasi saat berkendara adalah dalam waktu 4-5 jam. Atau dari pengalaman anda selama ini, seberapa lama anda kuat menatap jalanan hingga mulai merasa suntuk dan mengantuk. Dengan estimasi waktu berkendara tersebut, anda dapat menentukan titik rest area mana yang cocok untuk anda dan rombongan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

    Sudah tau titik rest area yang disediakan saat mudik via tol lebaran ini? Tenang, berikut adalah titik-titik rest area yang bisa anda singgahi saat mudik.

    4. Patuhilah semua rambu jalan tol, jangan berhenti/beristirahat di bahu jalan!

    Jalan tol adalah jalan bebas hambatan, dimana anda dituntut untuk berkendara dalam rentang kecepatan tertentu. Ketidakpatuhan anda terhadap rambu dan rentang kecepatan yang di isyaratkan akan sangat membahayakan untuk pengendara yang lainnya.

    Anda hanya dapat berhenti dan beristirahat di tempat rest area yang disediakan. Dan jika tidak dalam situasi yang darurat, anda tidak diperkenankan untuk menepi dan berhenti ke bahu jalan. Larangan melintas di bahu jalan tol diatur dalam PP Nomor 15 tahun 2005 tentang Jalan Tol, khususnya pasal 41. Bagi anda ketahuan melintasi/berhenti di bahu jalan akan dikenai hukuman denda minimum Rp. 500.000 ,-. Ingin tahu lebih lanjut tentang peratuan-peraturan berkendara di jalan tol? Klik link disini.

    5. Jadikanlah perjalanan mudik lebaran sebagai momen yang mengasyikan

    Jangan terlalu terpaku bahwa momen yang paling bahagia mudik hanya saat berkumpul dengan sanak saudara. Anda juga perlu menjadikan perjalanan mudik sebagai momen berbahagia bersama keluarga kecil. Dalam sepanjang jalan tol tersebut anda juga dimungkinkan dapat melihat pemandangan yang indah. Pergunakan suasana tersebut untuk menciptakan pengalaman baru dan seru berkendara bersama keluarga.

    Mudik sembari berwisata, why not? Dengan merencanakan perjalanan dengan matang, anda juga dapat mengunjungi tempat-tempat wisata alternatif di sepanjang rute mudik anda. Selain wisata wahana, anda juga dapat berwisata kuliner, mencicipi kuliner khas daerah yang anda lalui. Senangkanlah hati anda pribadi dan keluarga dengan menikmati momen liburan lebaran secara maksimal.

    Nah, Itu tadi adalah tips mudik asyik via jalan tol ala Pijak.ID. Bagaimana dengan anda, apakah sudah melakukan persiapan sebelum mudik? Sekali lagi, tujuan mudik tidak hanya berkumpul dengan sanak saudara di kampung, namun juga membahagiakan hati dan menikmati waktu liburan lebaran bersama keluarga kecil anda. Termasuk menikmati perjalanannya.

    Kami dari tim Pijak Indonesia @pijak.id @pijak.consulting @pijakpodcast mengucapkan, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H, mohon maaf lahir dan batin. Selamat mudik. Selamat bebahagia. Utamakan selamat!

    RID
    PijakID

     

  • Info Tarif Tol Trans Jawa Lengkap

    Info Tarif Tol Trans Jawa Lengkap

    Mudik via tol tahun ini akan terasa berbeda, khususnya bagi pemudik yang melintasi Pulau Jawa. Karena Tol Trans Jawa yang dicanangkan oleh pemerintah telah berhasil tersambung dari mulai Merak, Banten sampai ke Pasuruan, Jawa Timur tepat sebelum mudik lebaran tahun ini. Rute tol ini berturut-turut tersambung dari pintu tol Merak-Cikampek-Palimanan-Cirebon-Pejagan-Brebes Timur-Pemalang-Batang-Semarang-Ungaran-Boyolali-Solo-Sragen-Ngawi-Madiun-Kertosono-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Grati dan berakhir di Pasuruan, Jawa Timur dengan panjang total 965 Km.

    Bagi anda yang berniat mudik dengan menggunakan kendaraan pribadi, dapat menjadikan jalan tol sebagai alternatif pilihan dalam mudik tahun ini. Jalan tol Trans Jawa yang kini sudah menyambung dari Merak Banten sampai dengan Pasuruan Jawa timur tentunya akan sangat mempersingkat waktu perjalanan anda, karena tidak perlu keluar masuk tol lagi seperti tahun lalu. Selain itu, pemandangan di sepanjang jalan tol juga patut menjadi perhatian anda untuk mendapatkan kenyamanan berkendara. Lantas bagaimana dengan tarif nya? Apakah sesuai dengan kantong Anda?

    Baca juga: Tips Mudik Asyik Via Jalan Tol Baru Trans Jawa

    Berikut adalah rincian tarif tol Trans Jawa secara lengkap

     

    1.       Dari Dari Merak
    Tujuan:
    Cikampek: Rp 78.000
    Palimanan: Rp 180.000
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 186.000
    Pejagan: Rp 221.000
    Brebes Timur: Rp 241.000
    Pemalang: Rp 284.000
    Batang: Rp 313.500
    Semarang: Rp 365.500
    Unggaran: Rp 373.000
    Boyolali: Rp 422.000
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 431.000
    Sragen: Rp 466.500
    Ngawi: Rp 517.500
    Madiun: Rp 541.500
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 585.500
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 649.500
    Surabaya: Rp 637.500
    Sidoarjo: Rp 645.500
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 687.500
    Pasuruan: Rp 682.000
    2.       Dari Cikampek
    Tujuan:
    Merak: Rp 78.000
    Palimanan: Rp 117.000
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 123.000
    Pejagan: Rp 158.000
    Brebes Timur: Rp 178.000
    Pemalang: Rp 221.000
    Batang: Rp 250.500
    Semarang: Rp 302.500
    Unggaran: Rp 310.000
    Boyolali: Rp 359.000
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 368.000
    Sragen: Rp 403.500
    Ngawi: Rp 454.500
    Madiun: Rp 478.500
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 522.000
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 586.500
    Surabaya: Rp 584.500
    Sidoarjo: Rp 588.000
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 624.500
    Pasuruan: Rp 619.000
    3.       Dari Palimanan
    Tujuan:
    Merak: Rp 180.000
    Cikampek: Rp 117.000
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 6.000
    Pejagan: Rp 41.000
    Brebes Timur: Rp 61.000
    Pemalang: Rp 104.000
    Batang: Rp 133.500
    Semarang: Rp 185.500
    Unggaran: Rp 193.000
    Boyolali: Rp 242.000
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 251.000
    Sragen: Rp 286.500
    Ngawi: Rp 337.500
    Madiun: Rp 361.500
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 405.000
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 469.500
    Surabaya: Rp 467.500
    Sidoarjo: Rp 471.000
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 507.500
    Pasuruan: Rp 502.000
    4.       Dari Cirebon/GT Ciperna
    Tujuan:
    Merak: Rp 186.000
    Cikampek: Rp 123.000
    Palimanan: Rp 6.000
    Pejagan: Rp 35.000
    Brebes Timur: Rp 55.000
    Pemalang: Rp 98.000
    Batang: Rp 127.500
    Semarang: Rp 211.500
    Unggaran: Rp 219.000
    Boyolali: Rp 268.000
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 277.000
    Sragen: Rp 312.500
    Ngawi: Rp 363.500
    Madiun: Rp 387.500
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 431.000
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 495.500
    Surabaya: Rp 493.500
    Sidoarjo: Rp 497.000
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 533.500
    Pasuruan: Rp 528.000
    5.       Dari Pejagan
    Tujuan:
    Merak: Rp 221.000
    Cikampek: Rp 158.000
    Palimanan: Rp 41.000
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 35.000
    Brebes Timur: Rp 20.000
    Pemalang: Rp 63.000
    Batang: Rp 92.500
    Semarang: Rp 176.500
    Unggaran: Rp 184.000
    Boyolali: Rp 223.000
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 242.000
    Sragen: Rp 277.500
    Ngawi: Rp 328.500
    Madiun: Rp 352.500
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 396.000
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 460.500
    Surabaya: Rp 458.500
    Sidoarjo: Rp 462.000
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 498.500
    Pasuruan:Rp 493.000
    6.       Dari Brebes Timur
    Tujuan:
    Merak: Rp 241.000
    Cikampek: Rp 178.000
    Palimanan: Rp 61.000
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 55.000
    Pejagan: Rp 20.000
    Pemalang: Rp 43.000
    Batang: Rp 72.500
    Semarang: Rp 156.500
    Unggaran: Rp 164.000
    Boyolali: Rp 213.000
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 222.000
    Sragen: Rp 257.500
    Ngawi: Rp 308.500
    Madiun: Rp 332.500
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 376.000
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 440.500
    Surabaya: Rp 438.500
    Sidoarjo: Rp 442.000
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 483.500
    Pasuruan: Rp 478.000
    7.       Dari Pemalang
    Tujuan:
    Merak: Rp 284.000
    Cikampek: Rp 221.000
    Palimanan: Rp 104.000
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 98.000
    Pejagan: Rp 63.000
    Brebes Timur: Rp 43.000
    Batang: Rp 29.500
    Semarang: Rp 114.000
    Unggaran: Rp 121.500
    Boyolali: Rp 170.500
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 179.500
    Sragen: Rp 215.000
    Ngawi: Rp 266.000
    Madiun: Rp 290.000
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 333.500
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 398.000
    Surabaya: Rp 396.000
    Sidoarjo: Rp 399.500
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 441.000
    Pasuruan: Rp 435.500
    8.       Dari Batang
    Tujuan:
    Merak: Rp 313.500
    Cikampek: Rp 250.500
    Palimanan: Rp 133.500
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 127.500
    Pejagan: Rp 92.500
    Brebes Timur: Rp 72.500
    Pemalang: Rp 29.500
    Semarang: Rp 84.000
    Unggaran: Rp 91.500
    Boyolali: Rp 140.500
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 149.500
    Sragen: Rp 185.000
    Ngawi: Rp 236.000
    Madiun: Rp 260.000
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 303.500
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 368.000
    Surabaya: Rp 366.000
    Sidoarjo: Rp 369.500
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 402.000
    Pasuruan: Rp 396.500
    9.       Dari Semarang
    Tujuan:
    Merak: Rp 365.500
    Cikampek: Rp 302.500
    Palimanan: Rp 185.500
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 211.500
    Pejagan: Rp 176.500
    Brebes Timur: Rp 156.500
    Pemalang: Rp 114.000
    Batang: Rp 84.000
    Unggaran: Rp 12.500
    Boyolali: Rp 61.500
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 70.500
    Sragen: Rp 106.000
    Ngawi: Rp 157.000
    Madiun: Rp 181.000
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 224.500
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 289.000
    Surabaya: Rp 287.000
    Sidoarjo: Rp 290.500
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 327.000
    Pasuruan: Rp 321.500
    10.   Dari Ungaran
    Tujuan:
    Merak: Rp 373.000
    Cikampek: Rp 310.000
    Palimanan: Rp 193.000
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 219.000
    Pejagan: Rp 184.000
    Brebes Timur: Rp 164.000
    Pemalang: Rp 121.500
    Batang: Rp 91.500
    Semarang: Rp 12.500
    Boyolali: Rp 49.500
    Solo/Yogya via Colomadu: Rp 58.000
    Sragen: Rp 93.500
    Ngawi: Rp 144.500
    Madiun: Rp 168.500
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 212.000
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 276.500
    Surabaya: Rp 323.000
    Sidoarjo: Rp 326.500
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 363.000
    Pasuruan: Rp 357.500
    11.   Dari Boyolali
    Tujuan:
    Merak: Rp 422.000
    Cikampek: Rp 359.000
    Palimanan: Rp 242.000
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 268.000
    Pejagan: Rp 233.000
    Brebes Timur: Rp 213.000
    Pemalang: Rp 170.500
    Batang: Rp 140.500
    Semarang: Rp 61.500
    Unggaran: Rp 49.500
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 9.000
    Sragen: Rp 44.500
    Ngawi: Rp 95.500
    Madiun: Rp 119.500
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 163.000
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 227.500
    Surabaya: Rp 274.000
    Sidoarjo: Rp 277.500
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 314.000
    Pasuruan: Rp 308.500
    12.   Dari Solo/Yogya via GT Colomadu
    Tujuan:
    Merak: Rp 431.000
    Cikampek: Rp 368.000
    Palimanan: Rp 251.000
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 277.000
    Pejagan: Rp 242.000
    Brebes Timur: Rp 222.000
    Pemalang: Rp 179.500
    Batang: Rp 149.500
    Semarang: Rp 70.500
    Unggaran: Rp 58.000
    Boyolali: Rp 9.000
    Sragen: Rp 35.000
    Ngawi: Rp 86.500
    Madiun: Rp 110.500
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 154.500
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 218.500
    Surabaya: Rp 265.000
    Sidoarjo: Rp 268.500
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 305.000
    Pasuruan: Rp 299.500
    13.   Dari Sragen
    Tujuan:
    Merak: Rp 466.500
    Cikampek: Rp 403.500
    Palimanan: Rp 286.500
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 312.500
    Pejagan: Rp 277.500
    Brebes Timur: Rp 257.500
    Pemalang: Rp 215.000
    Batang: Rp 185.000
    Semarang: Rp 106.000
    Unggaran: Rp 93.500
    Boyolali: Rp 44.500
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 35.000
    Ngawi: Rp 51.000
    Madiun: Rp 75.000
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 118.500
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 183.000
    Surabaya: Rp 229.500
    Sidoarjo: Rp 233.000
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 269.500
    Pasuruan: Rp 264.000
    14.   Dari Ngawi
    Tujuan:
    Merak: Rp 517.500
    Cikampek: Rp 454.500
    Palimanan: Rp 337.500
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 363.500
    Pejagan: Rp 328.500
    Brebes Timur: Rp 308.500
    Pemalang: Rp 266.000
    Batang: Rp 236.000
    Semarang: Rp 157.000
    Unggaran: Rp 144.500
    Boyolali: Rp 95.500
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 86.500
    Sragen: Rp 51.000
    Madiun: Rp 24.000
    Kertosono/GT Nganjuk: 67.500
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 132.000
    Surabaya: Rp 178.500
    Sidoarjo: Rp 182.000
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 214.500
    Pasuruan: Rp 209.000
    15.   Dari Madiun
    Tujuan:
    Merak: Rp 541.500
    Cikampek: Rp 478.500
    Palimanan: Rp 361.500
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 387.500
    Pejagan: Rp 352.500
    Brebes Timur: Rp 332.500
    Pemalang: Rp 290.000
    Batang: Rp 260.000
    Semarang: Rp 181.000
    Unggaran: Rp 168.500
    Boyolali: 119.500
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 110.500
    Sragen: Rp 75.000
    Ngawi: Rp 24.000
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 43.500
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 108.000
    Surabaya: RRp 154.500
    Sidoarjo: Rp 158.000
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 194.500
    Pasuruan: Rp 189.000
    16.   Dari Kertosono/GT Nganjuk
    Tujuan:
    Merak: Rp 585.000
    Cikampek: Rp 522.000
    Palimanan: Rp 405.000
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 431.000
    Pejagan: Rp 396.000
    Brebes Timur: Rp 376.000
    Pemalang: Rp 333.500
    Batang: Rp 303.500
    Semarang: Rp 224.500
    Unggaran: Rp 212.000
    Boyolali: Rp 163.000
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 154.500
    Sragen: Rp 118.500
    Ngawi: Rp 67.500
    Madiun: Rp 43.500
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 64.500
    Surabaya: Rp 111.000
    Sidoarjo: Rp 114.500
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 151.000
    Pasuruan: Rp 145.500
    17.   Dari Mojokerto/ Mojokerto Barat
    Tujuan:
    Merak: Rp 649.500
    Cikampek: Rp 586.500
    Palimanan: Rp 469.500
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 495.500
    Pejagan: Rp 460.500
    Brebes Timur: Rp 440.500
    Pemalang: Rp 398.000
    Batang: Rp 368.000
    Semarang: Rp 289.000
    Unggaran: Rp 276.500
    Boyolali: Rp 227.500
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 218.500
    Sragen: Rp 183.000
    Ngawi: Rp 132.000
    Madiun: Rp 132.000
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 64.500
    Surabaya: Rp 46.500
    Sidoarjo: Rp 50.000
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 86.500
    Pasuruan: Rp 81.000
    18.   Dari Surabaya
    Tujuan:
    Merak: Rp 649.500
    Cikampek: Rp 584.500
    Palimanan: Rp 467.500
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 493.500
    Pejagan: Rp 458.500
    Brebes Timur: Rp 438.500
    Pemalang: Rp 396.000
    Batang: Rp 366.000
    Semarang: Rp 287.000
    Unggaran: Rp 323.000
    Boyolali: Rp 274.000
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 265.000
    Sragen: Rp 229.500
    Ngawi: Rp 178.500
    Madiun: Rp 154.500
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 111.000
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 46.500
    Sidoarjo: Rp 8.000
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 44.500
    Pasuruan: Rp 48.000
    19.   Dari Sidoarjo
    Tujuan:
    Merak: Rp 645.500
    Cikampek: Rp 588.000
    Palimanan: Rp 471.000
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 497.000
    Pejagan: Rp 462.000
    Brebes Timur: Rp 442.000
    Pemalang: Rp 399.500
    Batang: Rp 369.500
    Semarang: Rp 290.500
    Unggaran: Rp 326.500
    Boyolali: Rp 277.500
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 268.500
    Sragen: Rp 233.000
    Ngawi: Rp 182.000
    Madiun: Rp 158.000
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 114.500
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 50.000
    Surabaya: Rp 8.000
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 43.500
    Pasuruan: Rp. 44.500
    20.   Dari Grati/ GT Probolinggo Timur
     Tujuan:
    Merak: Rp 687.500
    Cikampek: Rp 624.500
    Palimanan: Rp 507.500
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 533.500
    Pejagan: Rp 498.500
    Brebes Timur: Rp 483.500
    Pemalang: Rp 441.000
    Batang: Rp 402.000
    Semarang: Rp 327.000
    Unggaran: Rp 363.000
    Boyolali: Rp 314.000
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 305.000
    Sragen: Rp 269.500
    Ngawi: Rp 214.500
    Madiun: Rp 194.500
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 151.000
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 86.500
    Surabaya: Rp 44.500
    Sidoarjo: Rp 43.500
    Pasuruan: Rp 13.500
    21.   Dari Pasuruan
    Tujuan
    Merak: Rp 682.000
    Cikampek: Rp 619.000
    Palimanan: Rp 502.000
    Cirebon/GT Ciperna: Rp 528.000
    Pejagan: Rp 493.000
    Brebes Timur: Rp 478.000
    Pemalang: Rp 435.500
    Batang: Rp 396.500
    Semarang: Rp 321.500
    Unggaran: Rp 357.500
    Boyolali: Rp 308.500
    Solo/Yogya via GT Colomadu: Rp 299.500
    Sragen: Rp 264.000
    Ngawi: Rp 209.000
    Madiun: Rp 189.000
    Kertosono/GT Nganjuk: Rp 145.500
    Mojokerto/GT Mojokerto Barat: Rp 81.000
    Surabaya: Rp 48.000
    Sidoarjo: Rp 44.500
    Grati/Probolinggo Timur: Rp 13.500

    Letak Titik Rest Area

    Jangan terlalu memaksakan fisik anda untuk segera sampai tujuan. Perkirakanlah perjalanan yang ideal bagi anda untuk berkendara (menatap jalanan), misal waktu rata-rata seseorang dapat berkonsentrasi saat berkendara adalah dalam waktu 4-5 jam. Atau dari pengalaman anda selama ini, seberapa lama anda kuat menatap jalanan hingga mulai merasa suntuk dan mengantuk. Dengan estimasi waktu berkendara tersebut, anda dapat menentukan titik rest area mana yang cocok untuk anda dan rombongan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

    Sudah tau titik rest area yang disediakan saat mudik via tol lebaran ini? Tenang, berikut adalah titik-titik rest area yang bisa anda singgahi saat mudik.

     

    Menjadikan perjalanan mudik lebaran sebagai momen yang mengasyikan

    Tujuan mudik tidak hanya berkumpul dengan sanak saudara di kampung, namun juga membahagiakan hati dan menikmati waktu liburan lebaran bersama keluarga kecil anda. Termasuk menikmati perjalanannya.

    Mudik sembari berwisata, why not? Dengan merencanakan perjalanan dengan matang, anda juga dapat mengunjungi tempat-tempat wisata alternatif di sepanjang rute mudik anda. Selain wisata wahana, anda juga dapat berwisata kuliner, mencicipi kuliner khas daerah yang anda lalui. Senangkanlah hati anda pribadi dan keluarga dengan menikmati momen liburan lebaran secara maksimal.

    Berikut adalah link buku Panduan Perjalanan Darat Anti Boring yang diterbitkan oleh Jasa Marga. Buku ini berisi tentang semua informasi terkait tol Trans Jawa dan rekomendasi tempat yang dapat anda kunjungi di daerah sepanjang jalan tol tersebut.

    Panduan Perjalanan Darat Anti Boring-Jasa Marga.pdf (30 MB)

    Selamat mudik. Selamat berbahagia bersama keluarga. Utamakan selamat!

  • Bangun Organisasi Masyarakat Biar Infrastruktur di Desa Berkeadilan

    Bangun Organisasi Masyarakat Biar Infrastruktur di Desa Berkeadilan

    Saya ujug-ujug ditunjuk jadi pemandu urun rembuk warga suatu desa. Memang bukan cuma saya yang ditunjuk. Teman-teman KKN (Kuliah Kerja Nyata) saya juga. Kalau tidak salah ada 4 orang termasuk saya. Empat orang ini memandu 4 tema rembuk yang berbeda. Saya kebagian tema infrastruktur. Ya intinya soal yang bangun membangun itulah.

    Saya sudah berusaha menjelaskan pada peserta rembuk di kelompok saya tentang bagaimana baiknya diskusi ini berjalan agar hasilnya memuaskan. Saya tidak bisa dibilang sebagai organisator yang ulung. Tapi setidaknya saya sedikit-banyak belajar di kampus bagaimana memandu musyawarah agar berjalan dengan efektif.

    Jalannya musyawarah tidak seperti yang saya harapkan. Sebagian besar warga tidak menggerakkan dirinya untuk usul program atau keluhan. Yang mengeluarkan pendapat pun hanya bisik-bisik di dekat telinga saya. Ada pula yang lebih terasa memaksakan program, misalnya, perlebar jalan di daerah ini. Pemaksaannya tidak langsung kentara karena dilakukan dengan nada yang halus.

    Sebelum dicurigai sebagai orang kota yang terkaget-kaget melihat kondisi desa, perlu saya sampaikan bahwa lebih dari separuh hidup saya dihabiskan di desa. Bahkan desa tempat rumah saya berdiri lebih terpencil dan terlambat kemajuannya daripada desa tempat saya menjalani KKN. Lokasi rumah saya berada di sebuah pulau kecil di sebelah timur pulau Madura. Sementara lokasi KKN saya berada di sebuah desa tak jauh dari pusat keramaian Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.

    Jadi, sedikit-banyak saya paham kehidupan desa. Dan saya tidak ingin menutup-nutupi kekurangan pola hidup di desa dengan nada-nada romantis. Kalau ada yang buruk, ya perlu saya bilang buruk.

    Salah satu yang buruk, umumnya orang desa tidak terorganisir dengan baik. Kalau ada yang mau menyangkal dengan fakta bahwa orang Indonesia, baik di kota maupun di desa memang tidak terorganisir dengan baik, ya, betul. Namun, setidaknya, kalau di kota ada kebijakan dari pemerintahnya yang nggak bikin sreg, warganya bisa mudah mengorganisir diri buat menyatakan protes. Apalagi kalau di kota itu ada banyak universitas. Biasanya mahasiswa akan banyak membantu.

    Fakta paling kentara untuk melihat betapa masyarakat di desa tidak terorganisir dengan baik yaitu tentang dana desa. Ketika pemerintah pusat menjalankan kebijakan yang amat mulia niatnya ini, yaitu mengalirkan uang ke desa-desa, masyarakat desa secara umum belum siap mengelola dana tersebut secara aktif. Masyarakat desa tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan dengan uang sebesar itu. Parahnya lagi, akibat tidak adanya organisasi-organisasi andal di desa, masyarakat tak bisa ikut serta mengatur alokasi uang jumbo tersebut. Alhasil, duit segepok itu digunakan suka-suka oleh para elite desa. Kalau elite desa ingin membangun jalan, ya uangnya buat bangun jalan. Kalau ia lebih suka membangun tempat sampah, ya uangnya mengalir ke situ. Dan jika ia lebih suka mengembatnya sendiri, ya raiblah uang itu.

    Dominasi elite desa dalam membuat keputusan penggunaan dana desa salah satunya terlihat dalam bidang infrastruktur. Misalnya, meskipun yang sebenarnya sangat dibutuhkan masyarakat adalah infrastruktur pengairan sawah, tapi karena elite desa lebih suka memperbagus jalan raya di sekitar rumahnya, akhirnya program yang kedua ini yang dijalankan. Dari sudut pandang inilah kita bisa menilai bahwa pembangunan infrastruktur di desa belum berkeadilan.

    Kalau Jokowi benar-benar terpilih lagi menjadi presiden, katanya ia akan fokus membangun sumber daya manusia di periode keduanya. Tepat, karena kualitas sumber daya manusia di Indonesia masih tergolong buruk. Dan infrastruktur yang besar-besar pun tak akan ada artinya jika tak didukung sumber daya manusia yang jempolan.

    Namun patut diingat. Pengembangan sumber daya manusia bukan hanya tentang peningkatan skill individu agar bisa bersaing di ranah regional, nasional, maupun global. Juga bukan hanya tentang link and match (keterhubungan dunia pendidikan dengan dunia kerja) yang berkali-kali dilontarkan di debat pilpres oleh kedua kubu. Bukan cuma itu. Peningkatan sumber daya manusia juga tentang pengembangan kemampuan masyarakat Indonesia dalam berorganisasi dan mendirikan serta mengelola korporasi. Artinya, masyarakat Indonesia tidak hanya dilatih agar bisa bersaing satu sama lain. Tapi juga bagaimana agar masyarakat, terutama yang modal ekonominya terbatas, bisa saling bekerja sama untuk membentuk organisasi yang bisa menjadi kontrol kebijakan atau mendirikan korporasi agar bisa lebih mandiri.

    Nah, ketika masyarakat Indonesia, khususnya di desa sudah mampu membentuk organisasi dan korporasi yang modern, barulah kita bisa berharap pembangunan infrastruktur di desa bisa lebih berkeadilan. Infrastruktur yang untuk orang banyak, bukan untuk segelintir. Sebab akan ada kontrol yang ketat pada penggunaan duit yang dikelola desa. Sehingga, cerita-cerita seperti yang saya uraikan di atas tidak terdengar lagi.

  • Jalan yang Berubah Jadi Sungai Saat Hujan Kok Dianggap Biasa

    Jalan yang Berubah Jadi Sungai Saat Hujan Kok Dianggap Biasa

    Kota memang ajaib. Ketika di desa sungai terbentuk dari proses alami, di kota bisa dibikin. Tidak ingin sungai yang biasa-biasa, orang-orang cerdas di kota membangun sungai yang mulus. Beda sekali dengan sungai di desa yang penuh batu dan lumpur. Saking mulusnya, dasar sungai yang dilapisi aspal itu dapat dilewati roda kendaraan. Palingan satu saja kekurangan sungai artifisial di kota: airnya cuma muncul pas hujan deras.

    Barangkali ada sensasi tersendiri jika menggunakan kendaraan di atas aspal yang digenangi air hujan. Melihat cipratan air dari ban seru juga sih. Tapi itu kan bikin basah diri sendiri dan orang lain. Belum lagi jika kendaraan yang kita pakai gampang macet kalau lewat genangan. Merepotkan. Selain itu, menurut para ahli, jalan aspal yang digenangi air, akan mudah rusak saat dilewati kendaraan. Aspalnya jadi lunak kali ya.

    Kalau dipikir-pikir sih, orang-orang cerdas di kota nggak bakal membuat jalan aspal punya fungsi ganda jadi sungai kalau tahu bakal cepat rusak. Makanya dibikinlah saluran di samping jalan-jalan itu. Harapannya, air yang jatuh di badan jalan aspal akan segera masuk ke selokan. Kalau jalannya tidak tergenang, tentunya akan lebih awet.

    Sayangnya, rencana pembangunan tak melulu sama dengan pelaksanaan. Bisa kita amati dengan mudah. Seberapa layak sih lubang di pinggir jalan yang tugasnya mengarahkan air ke selokan? Tiap seratus meter, ada berapa? Seberapa besar? Apakah lubang tersebut tidak ketutupan?

    Sialnya lagi, di kota, air yang mengalir di jalan tidak hanya berasal dari air hujan yang jatuh di badan jalan. Ada kiriman ternyata. Dari mana? Dari atap bangunan yang berada tepat di pinggir jalan.

    Pemandangan air hujan jatuh dari atap bangunan lalu mengalir ke jalan sangat mudah kita jumpai. Dan mudah pula kita maklumi. Kita bisa menemukannya di jalan-jalan besar maupun di jalan sempit. Bangunan di pinggir jalan berlomba-lomba ingin menjadi paling banyak menyumbang air hujan ke sungai aspal di depannya.

    Orang cerdas di kota tahu, selokan di pinggir jalan didesain dan dibangun hanya untuk menampung air hujan yang jatuh di badan jalan. Tapi orang cerdas lain di kota saling berebut mendirikan bangunan pusat jual-beli yang paling dekat dengan jalan. Lalu berpikir tentang bangunannya sendiri. Gimana biar ga banyak genangan di sekitar bangunannya. Pilihan yang paling banyak diambil ialah membeton halaman toko dengan kemiringan yang mengarah ke jalan. Selain membuat nyaman para pengunjung memarkirkan kendaraannya, air yang jatuh di sekitar toko langsung meluncur ke jalan. Berkah bagi sungai aspal karena mendapatkan suplai air hujan.

    Orang cerdas di kota tuh banyak. Makanya kemudian ada yang bersuara: janganlah jalan aspal dijadikan sungai. Biarlah air hujan mengalir di sungai-sungai betulan saja, jangan yang buatan. Orang cerdas jenis ini meminta para pemilik bangunan pinggir jalan bertanggung jawab pada seluruh air hujan yang jatuh di tempatnya. Air hujannya jangan sampai keluar dari area bangunan! Barangsiapa yang masih mengeluarkan air aliran hujan, kena denda! Terserah bagaimana caranya. Air hujan itu diolah terus digunakan. Diserapkan ke dalam bumi. Dibikin kolam renang. Terserah.

    Tentu saja banyak yang sinis sama ide orang cerdas di atas. Dengan kepadatan bangunan di pinggir jalan, bagaimana mungkin tidak mengeluarkan air hujan sama sekali? Kalau mau diserapkan ke dalam tanah, bakal sekuat apa tanah menampungnya?

    Orang sinis ini menyarankan ide lain. Gimana kalau kita terima saja bahwa jalan aspal itu punya fungsi ganda sebagai sungai di musim penghujan. Kalau toh itu bikin kita kesusahan dan mendapatkan kerugian, mungkin saja itu memang cobaan dari Sang Pencipta. Barangsiapa senantiasa sabar dengan ujian di dunia, kelak di hari kemudian akan dibalas surga.

  • Sampah, Sampah, Sampah, Kalau Banyak Mau Jadi Apa?

    Sampah, Sampah, Sampah, Kalau Banyak Mau Jadi Apa?

    Sejauh pengamatan saya, tercatat dua kali media nasional telah memberitakan penutupan Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Pada tahun 2018 Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mengancam akan menutup TPS Bantar Gebang. Kemudian, baru-baru ini terjadi pemboikotan TPST Piyungan, Bantul oleh warga sekitar.

    Boikot tersebut membuat sampah pada TPS-TPS kecil yang ada di perumahan atau di pasar menumpuk. Tumpukan sampah ini menimbulkan pemandangan yang tidak elok dan bau yang mengganggu.

    Menurut Detikcom, warga menutup TPST Piyungan karena truk-truk yang membawa sampah merusak jalan kampung. Selain itu, tumpukan sampah di TPST tersebut menimbulkan bau yang menyengat ketika musim hujan.

    Penutupan TPS oleh warga sejatinya adalah akibat dari pengelolaan sampah yang kurang baik. Sebenarnya apa saja yang membuat sampah bisa menumpuk sampai sebuah kota kewalahan untuk mengurusi sampah-sampah tersebut?

    Penyebab tumpukan sampah bisa disebabkan oleh berbagai hal. Penumpukan sampah bisa terjadi karena berlebihnya sampah dibandingkan kapasitas tampungan sampahnya. Kemudian, kurangnya tempat pengelolaan kembali sampah yang bisa didaur ulang.

    Integrasi antar-daerah juga terkadang bermasalah. Contohnya, DKI Jakarta kan membuang sampahnya di TPS Bantar Gebang, Bekasi. Jika birokrasi antara kedua Pemda tidak harmonis, maka kejadian boikot TPS kapan saja bisa terjadi.

    Permasalahan tata ruang wilayah menjadi induk dari permasalahan-permasalahan tersebut. Sistem zonasi seharusnya diatur dengan baik sehingga di tempat pembuangan sampah tidak ada pemukiman dengan radius tertentu, sehingga masyarakat tidak terganggu dengan aktivitas TPS.

    Tata ruang ini tidak hanya mengatur posisi TPSnya saja, tapi juga jalur transportasi truk agar semaksimal mungkin tidak melewati pemukiman warga. Infrastruktur prasarananya pun perlu diperhatikan dengan seksama agar tidak terjadi kerusakan-kerusakan jalan yang tidak diinginkan.

    Solusi Permasalahan Sampah

    Solusi permasalahan sampah bisa dilakukan dengan dua pendekatan. Pendekatan yang pertama adalah dari sisi masyarakat kemudian pendekatan kedua dilakukan dari sisi pemerintah.

    Hal yang bisa dilakukan masyarakat adalah mengurangi sampah dengan gerakan zero waste, yaitu mengurangi penggunaan bungkusan plastik pada setiap belanja. Zero waste juga bisa dengan cara memanfaatkan sisa bahan makanan untuk dimasak agar tidak semerta-merta dibuang ke tempat sampah.

    Mulai membiasakan diri untuk tidak meminta plastik jika hanya berbelanja sedikit dan membawa tas belanjaan jika memang ingin belanja dengan jumlah banyak. Faktor kali dari gerakan ini pasti akan berdampak besar terhadap volume sampah yang terbuang.

    Sampah juga harus dipilah dan benar-benar dibuang sesuai dengan kategori. Harapannya, sampah organik dapat diproses kembali menjadi bahan organik. Sampah plastik dan sampah lain yang bisa didaur ulang akan masuk ke tempat daur ulang. Baru nanti residu atau sampah sisa yang masuk ke TPS.

    Solusi yang dapat dilakukan oleh pemerintah antara lain dengan menata ulang TPS dengan pemukiman warga agar tidak terjadi komplain di kemudian hari. Perbaikan infrastruktur jalan akses juga harus diperhatikan. Pengelolaan sampah ini harus terintegrasi dari mulai perumahan sampai dengan TPS akhir.

    Sampah selalu menjadi tantangan di daerah urban maupun rural. Pemerintah dan masyarakat harus menyesuaikan sistem pengelolaan sampah sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah. Integrasi yang baik antara pengelolaan dan pengurangan sampah diharapkan dapat mengurangi permasalahan sampah di kemudian hari.

  • Banjir, Penanganan vs Perencanaan

    Banjir, Penanganan vs Perencanaan

    Intensitas hujan yang belakangan tinggi membuat banjir terjadi di beberapa daerah baik di dalam negeri maupun luar negeri. Hujan memang memiliki peranan penting dalam proses terjadinya banjir. Namun, di balik kejadian banjir, ternyata tersimpan sebab akibat yang kompleks mulai dari sisi teknis, sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain.

    Jika kita ingin membahas penanganan banjir, maka kita perlu melihat permasalahan secara utuh. Kita tidak bisa melihat fenomena banjir hanya dari satu sudut pandang saja.

    Penanganan banjir yang komprehensif artinya adalah kita melihat fenomena banjir dari satu siklus hidrologi yang utuh. Apabila kita melihat hanya dari satu sampel daerah saja, jelas, penanganan banjir tidak bisa terjadi secara berkelanjutan.

    Jika air hujan yang berubah menjadi limpasan langsung terlalu banyak dan sungai-sungai tidak bisa menampung debit air, maka air akan meluap. Inilah yang menyebabkan banjir. Kebanyakan masyarakat membahas penyebab banjir hanya sekadar masalah membuang sampah di sungai saja. Hal itu memang benar. Tetapi untuk perencanaan yang lebih komprehensif, sebenarnya ada hal yang lebih penting.

    Daerah rural (desa) harus bisa lebih banyak menyerap air hujan ke dalam tanah. Penyerapan air ini juga dalam rangka menjaga kestabilan air tanah. Jika air tidak terserap, maka jangan heran akan terjadi kekeringan. Proses banjir memang tidak bisa dilepaskan dari dampak kekeringan nantinya.

    Misal saja jumlah air yang melimpas ke daerah urban tinggi karena air dari daerah rural tidak terserap. Maka, daerah urban yang cenderung sudah menjadi perkotaan akan menerima air dalam jumlah besar dan tidak dapat ditampung, atau dalam bahasa kerennya “banjir kiriman”.

    Fenomena ini dapat dijelaskan dari dua sisi, dari sisi rural maupun dari sisi urban. Daerah urban merupakan daerah yang menarik orang datang karena prospek perekonomiannya bagus. Akibatnya, pembangunan daerah urban tersebut tidak dapat terkendali dan semakin padat.

    Di sisi lain, lemahnya penegakan hukum dalam masalah koefisien bangunan dan perencanaan wilayah, membuat alih fungsi lahan di daerah rural begitu masif. Tanah pertanian yang sangat baik dalam menyerap air hujan banyak yang berubah jadi permukiman.

    Pengembangan wilayah juga tidak bisa lepas dari ego masing-masing daerah. Ego inilah yang membuat daerah-daerah rural menjadi berkembang menuju daerah urban. Tidak ketatnya peraturan pemerintah dalam mengatur tata ruang membuat hal-hal seperti ini dapat terjadi.

    DKI Jakarta memang dirancang untuk menjadi wilayah perkotaan dan Kota Bogor menjadi daerah rural. Berkembangnya metropolitan membuat pembangunan Jakarta mulai menyasar pinggiran seperti Tanggerang, Bekasi, dan Bogor. Oleh karena itu, Bogor mau tidak mau harus mengembangkan wilayahnya menjadi penyokong ibukota.

    Permasalahannya, Bogor juga berfungsi sebagai daerah rural yang tugasnya adalah menjaga volume air agar tidak langsung terlimpas ke Jakarta. Dengan adanya pembangunan dan alih fungsi menjadi perkotaan, maka tugas tersebut otomatis akan menjadi hilang.

    Bahkan daerah Puncak dan Cisarua yang tadinya banyak lahan terbuka, berubah menjadi tempat rekreasi dengan pembangunan yang berkembang cepat. Semakin berkuranglah daerah resapan air yang harusnya menahan laju dan volume air ke Jakarta.

    Penanganan banjir bisa dilakukan dengan dua cara. Menggunakan rekayasa teknik atau membuat perencanaan wilayah yang baik. Rekayasa teknik membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan tidak bisa berkelanjutan, tapi ini perlu dilakukan jika pelaksanaan tata ruang terlanjur buruk.

    Sementara itu, cara yang paling “murah” adalah dengan penegakan hukum tata ruang yang baik. Proses perizinan harus diperketat oleh pemerintah daerah setempat, guna menjaga siklus air agar terjaga dengan baik.

    Berdasarkan uraian di atas kita akhirnya paham. Banjir ternyata bukan hanya menjadi permasalahan warga yang buang sampah sembarangan atau hujan yang tiada henti. Peran pemerintah pun di sini sangat krusial dalam perencanaan tata kota agar siklus air dapat berjalan dengan baik.

  • Selama Rezim Jokowi, Penghancuran Pulau Kecil Terus Berlanjut

    Selama Rezim Jokowi, Penghancuran Pulau Kecil Terus Berlanjut

    Jokowi-JK memilih kapal pinisi sebagai tempat pidato kemenangannya dalam Pilpres 2014 silam. Pesan pemilihan tempat ini kuat: kita telah lama memunggungi laut. Jokowi ingin kita kembali menyadari bahwa Indonesia punya potensi laut yang amat melimpah.

    Nama Susi Pudjiastuti tak boleh luput disebut dalam usaha mengembalikan kedaulatan laut Indonesia. Sejak 2014, sudah ada 488 unit kapal ilegal yang ditenggelamkan oleh menteri KKP ini dan timnya. Selain itu, Satgas Patroli Laut telah dikuatkan kembali kemampuannya untuk mencegah pencurian ikan. Dua hal ini penting untuk menjaga sumber daya laut kita. Ini kabar yang menggembirakan.

    Namun demikian, sebagai bangsa yang katanya besar, mestinya kita tak puas sampai di situ. Uraian di atas tadi baru sebatas penegakan hukum di lautan (walaupun, sekali lagi, ini patut diapresiasi karena bertahun-tahun lamanya sejak Deklarasi Djuanda, pemerintah abai). Kita mesti mengecek lagi apakah pemerintah sudah mulai mengubah haluan ekonominya ke bidang maritim? Jika tak begitu, kemajuan yang kita peroleh tidak beda jauh dengan capaian Djuanda yang hanya fokus ke persoalan hukum kekuasaan laut.

    Salah satu faktor krusial yang membuat ekonomi maritim mengemuka adalah kerusakan lingkungan yang hebat akibat eksploitasi daratan, terutama pertambangan. Kerusakan yang memicu banjir, longsor, hingga perubahan iklim ini membuat beberapa orang yang peduli berpikir, sudah tepatkah orientasi ekonomi kita?

    Eksploitasi daratan tidak hanya terjadi di pulau besar seperti Kalimantan, tapi juga pulau kecil. Faktanya, selama rezim Jokowi, penambangan pulau kecil terus berlanjut. Menurut laporan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), hingga kini ada 55 pulau kecil yang dikaveling pertambangan mineral dan batu bara. Sebaran pulau tersebut bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

    Berapa batas ukuran pulau kecil? Menurut UU No. 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, yang disebut pulau kecil adalah pulau yang luasnya maksimal 2000 kilometer persegi.

    Dari 55 pulau kecil yang sudah dikaveling itu, ada 2 pulau yang bisa dijadikan contoh untuk memahami bagaimana pola penghancuran pulau kecil bekerja. Pertama, pulau Gebe di Maluku Utara. Pulau ini sudah dikaveling oleh PT Aneka Tambang (Antam) sejak 1979. Hingga 2004, PT Antam masih mengeksploitasi pulau ini. Setelah PT Antam angkat kaki, terbit lagi 12 IUP (Izin Usaha Pertambangan) untuk eksplorasi dan produksi nikel di Pulau Gebe.

    Kedua, Pulau Bunyu di Kalimantan Utara. Ini adalah pulau yang dieksploitasi oleh tiga jenis penambangan sekaligus, yaitu minyak, gas bumi, dan batu bara. Bahkan, wilayah ketiga jenis penambangan ini tumpang tindih satu sama lain. Itu adalah indikasi proses pemberian izin yang amburadul.

    Wilayah pertambangan di Pulau Bunyu sudah mencapai 70 persen. Artinya, penduduk yang berjumlah 11.000 ribu jiwa cuma kebagian 30 persen wilayah pulau.

    Tidak hanya itu, Pertamina pun sudah menguasai wilayah perairan di kawasan tersebut. Aktivitas ekonomi nelayan menjadi terganggu. Susah dapat ikan. Terumbu karang hancur tertumbuk jangkar tongkang. Laut tercemar batu bara yang tumpah-tumpah.

    Pertambangan juga membuat rusak hutan, kelangkaan bahan pangan, hingga kekeringan. Air sungai dan hujan kualitasnya memburuk sehingga warga terpaksa menggunakan PDAM atau air kemasan.

    Fakta-fakta ini ironis jika disandingkan dengan janji Jokowi untuk tak lagi memunggungi laut. Sebab pulau-pulau kecil adalah bagian yang amat vital dalam menjaga kedaulatan dan pemanfaatan potensi ekonomi laut. Para sejarawan boleh berkata bahwa bagi negara maritim seperti Indonesia, yang utama adalah laut. Tapi pulau-pulau kecillah yang membuat laut itu menjadi berharga. Di daratan-daratan mungil inilah tradisi dan pandangan hidup yang berhubungan dengan laut masih terjaga. Lalu apa jadinya kalau pulau-pulau kecil dihancurkan?

    Tentu saja ini bukan berarti tambang di pulau besar tak punya efek buruk. Punya juga. Tapi kerusakan lingkungan akibat pertambangan di pulau kecil lebih cepat lajunya.

    Dalam merespon masalah ini, Jokowi sebaiknya tidak memakai alasan yang sama saat menanggapi kasus HAM dan penguasaan lahan. Kalimat semacam “saya tidak punya beban masa lalu” tidak relevan, karena ia sudah jadi presiden tapi tak bisa menyelesaikan beberapa kasus HAM yang sudah jelas putusannya. Logika yang sama juga berlaku untuk menanggapi ucapan Jokowi di debat Pilpres kedua: yang mengeluarkan izin penggunaan lahan bukan saya. Kalau jurus semacam ini masih dipakai Jokowi dalam merespon kasus penghancuran pulau kecil, kita bisa bertanya, Jokowi sadar nggak sih sedang jadi pegawai kita yang nomor 1?