Kategori
Society

Menghumaniskan Kecerdasan Buatan? Sungguh Ide yang Menggelikan!

Yuval Noah Harari menjadi salah satu intelektual yang paling kencang bersuara tentang pentingnya menghumaniskan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Soalnya, menurut Harari, berbagai desain kecerdasan yang tersaji hari ini sudah banyak efek negatifnya bagi manusia.

Dalam diskusi di Stanford University bersama profesor ilmu komputer Fei Fei Li pada 22 April 2019, Harari membeberkan bahwa hari ini sebuah organisasi atau perusahaan akan berusaha keras “membuat sebuah algoritma yang bisa lebih memahami saya daripada saya sendiri, lalu memanipulasi keinginan saya, sehingga bisa memaksa-maksa saya, atau bahkan menggantikan saya”. Praktiknya bisa kita lihat di media sosial. Algoritma di platform tersebut didesain sedemikian rupa agar pengguna betah lama-lama menggunakannya, sehingga hasrat pengguna lama-lama termodifikasi. Contoh lain misalnya di bidang politik praktis. Mudah sekali hari ini memanipulasi pilihan pemilih dengan teknologi kecerdasan buatan. Aktivitas ini menurut Harari adalah Peretasan Manusia (Hacking Humans).

Karena penggunaan dan potensinya yang semakin mampu memanipulasi keinginan dan keputusan manusia, menurut Harari, kita perlu desain hukum dan norma agar teknologi kecerdasan buatan lebih manusiawi. Artificial intelligence harus lebih humanis.

Gagasan Harari ini sungguh menggelikan. Ia mengasumsikan bahwa kecerdasan yang ada di dunia ini hanyalah milik manusia. Jika ada kecerdasan lain, yang dalam hal ini berupa kecerdasan buatan (perangkat inorganik yang bisa berpikir cerdas), maka perlu dibuat humanis atau cocok dengan karakter kecerdasan manusia. Apalagi jika kecerdasan buatan itu dianggap sudah mengancam otoritas manusia dalam berkehendak.

Cara pandang yang dilakukan Harari terhadap kecerdasan buatan ini, jika kita ikuti, akan membuat kita tersesat. Kita tidak akan bisa memahami potensi sebenernya dari kecerdasan buatan. Apa itu?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya rasa perlu ada klarifikasi terlebih dahulu tentang konsep kecerdasan buatan. Sebab, citra kecerdasan buatan secara umum terlanjur dibayangkan sebagai sebuah teknologi yang bisa memanipulasi manusia, bersaing dan bahkan mengganti kecerdasan manusia. Narasinya kemudian lebih heboh di urusan masa depan tenaga kerja yang terancam karena hadirnya robot yang semakin cerdas dan ancaman pada kehendak bebas manusia (free will).

Kecerdasan buatan sebaiknya tidak dipahami sebagai kecerdasan palsu atau tiruan yang terus diperbaiki agar mirip atau bahkan sama dengan cara kerja otak manusia. Ini adalah hal lain yang cara kerjanya pun lain. Jika otak manusia adalah sekumpulan bahan-bahan organik yang melalui proses evolusi yang unik akhirnya menjadi suatu bentuk gumpalan tertentu yang bisa berpikir cerdas dan terletak di dalam tengkorak Homo sapiens, maka kecerdasan buatan adalah sebuah desain material inorganik yang dirancang sedemikian rupa sehingga bisa berpikir, namun berpikir dengan cara yang berbeda dengan berpikirnya manusia.

Hadirnya kecerdasan buatan bisa dibilang sebagai Copernican Turn (Pencerahan Kopernikus) di masa sekarang. Istilah Copernican Turn pertama-tama dipakai untuk menjelaskan betapa luar biasanya perubahan cara pandang yang ditawarkan oleh Nicolaus Copernicus dalam melihat tata surya. Di saat populernya kepercayaan bahwa bumi adalah pusat alam semesta, Copernicus menawarkan konsep heliosentrisme, yakni matahari adalah pusat, dan bumi serta planet-planet lain mengelilinginya.

Contoh Copernican Turn yang lain yaitu teori Darwin yang menyatakan bahwa manusia dan kera punya nenek moyang yang sama. Teorinya Sigmund Freud yang bilang bahwa manusia tidak punya kendali atas pikiran dan hasratnya sendiri juga termasuk Copernican Turn. Bahkan Freud menyebutnya sebagai Copernican Trauma. Sebab, dengan terjadinya perubahan cara pandang atau konsep yang signifikan, sebagian besar manusia akan mengalami trauma. Manusia akan gelisah, mengelak, dan bahkan bisa memaksa konsep dan konseptor baru itu untuk mati.

Kecerdasan buatan juga bikin manusia gelisah. Ternyata, yang kita sebut sebagai cerdas dan kecerdasan itu tidak hanya terjadi di dalam tengkorak kita. Bahkan, kecerdasan ternyata tidak hanya muncul dari material organik seperti otak manusia dan hewan, tapi juga material inorganik atau yang selama ini kita sebut benda mati. Ternyata, kabel-kabel tembaga bisa cerdas.

Agar tidak mengidap Copernican Trauma, kita perlu menerima dengan lapang dada bahwa banyak hal di dunia ini yang cara kerjanya tidak sesuai dengan perkiraan kita. Semesta ini tidak beroperasi menurut kehendak manusia. Manusia bukan pusat alam semesta.

Pemahaman ini memang akan membuat manusia seperti tersingkir (teraleniasi). Namun, kita sebaiknya jangan menjadi seperti Harari yang menanggapi ketersingkiran ini dengan ingin mendesain kecerdasan buatan agar ramah manusia, etis terhadap manusia, melayani hasrat-hasrat narsis manusia, dan bahkan ingin dibuat berpikir seperti manusia. Desain kecerdasan buatan dengan mental a la Harari ini bisa dengan mudah kita jumpai pada proyek-proyek yang sungguh bernafsu sekali ingin membuat robot yang ramah, punya etika, dan menyentuh perasaan manusia.

Kecerdasan buatan punya peran yang lebih signifikan daripada contoh di atas. Karena, teknologi ini juga beroperasi di tingkatan epistemologi (konsep), bukan hanya penerapan praktis saja. Misalnya soal perubahan iklim (climate change). Kita, manusia, bisa tahu bahwa iklim sedang berubah signifikan ke arah yang mengancam eksistensi manusia, ya karena ada kecerdasan lain di luar manusia yang bisa memahami itu. Dengan struktur kecerdasan yang berupa jaringan sensor mulai dari kutub utara sampai kutub selatan, dari atmosfer sampai ke permukaan bumi, ia bisa memunculkan konsep perubahan iklim. Tanpa kecerdasan ini, dan jika hanya mengandalkan kecerdasan Homo sapiens, konsep perubahan iklim tidak akan bisa dibayangkan.

Ke arah inilah perkembangan kecerdasan buatan semestinya diarahkan, yaitu membuka “misteri” dunia dan merevisi konsep-konsep yang selama ini dipercaya manusia sebagai realita, padahal sejatinya semesta tidak beroperasi seperti yang manusia kira. Potensi ini tidak akan tercapai jika kita bersikukuh bahwa kecerdasan buatan perlu dihumaniskan.

Kategori
Politik Society

Mengapa Perlu Menyapu Sampah (Politik) Dari Depan Ke Belakang?

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menjalankan nasehat sedulur etnis Tionghoa soal menyapu halaman rumah di hari Tahun Baru Imlek 2572 pada 12 Februari 2021. Jangan menyapu halaman dari belakang ke depan, tapi dari depan ke belakang. Termasuk menanak nasi sendiri, dilakukan oleh Hasto Kristiyanto. Ini dilakukan atas nasehat tokoh Tionghoa yang dikenal baik oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan.

Langkah budaya, yang dijalankan oleh Sekretaria Jenderal  PDI Perjuangan ini menarik untuk disimak. Bisa saja menjadi multi tafsir bagi beberapa pihak untuk menggoreng aneka isu politik yang menghangat.

Nah, anggap saja ini tafsir mana suka dari aktivitas budaya yang dijalankan oleh Hasto Kristiyanto. Kira-kira pesan apa yang bisa ditangkap dari kegiatan mandiri yang dilakukan oleh pemimpin partai pemenang pemilu di tanah air ini.

Secara jelas, Hasto Kristiyanto sudah menjelaskan sebenarnya apa yang dikerjakan. Hal itu diceritakan kala menyampaikan ucapan selamat tahun baru Imlek kepada etnis Tionghoa secara khusus di dalam perayaan Imlek 2572 di Jakarta bersama jajaran DPP PDI Perjuangan.

Bagi yang mengenal pribadi Hasto Kristiyanto, laku budaya selama ini menjadi alat komunikasi pesan yang dipilih oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan itu. Secara rutin, selalu menggelar wayang kulit kala memperingati momen penting.

Sebagai orang Jawa,  pilihan gelaran wayang kulit memang bisa menjadi peristiwa budaya yang pas untuk mengirimkan pesan kepada khalayak. Apalagi, secara jumlah, suku Jawa atau mereka yang bersentuhan dengan kebudayaan Jawa jumlahnya cukup besar. Bagi pemimpin politik di Indonesia,  dominasi budaya harus dipahami dan dikelola agar ada harmoni.

Pesan politik, pesan budaya disisipkan dalam lakon yang dibawakan oleh dalang. Bintang tamu yang dihadirkan atau momen limbukan jadi ajang menegaskan pesan kepada khalayak.

Teladan kepemimpinan, menegaskan akan lahirnya kepemimpinan baru, pentingnya hidup rukun, pentingnya gotong royong dan saling bantu sesama hingga alasan kenapa harus hidup damai dalam bingkai NKRI dihadirkan dalam aneka lakon,  juga tembang yang tampil.

*****

Momen pergantian tahun, adalah momen peristiwa penanda waktu yang memiliki makna khusus bagi sebagian orang. Tiap suku bangsa memiliki ekspresi budaya dalam memperingati momen istimewa.

Etnis Tionghoa di tanah air, begitu juga. Mengalami pasang surut keberadaan,  juga kesulitan posisi dalam masyarakat di tiap zaman dan masa. Mari kembali membuka sejarah keberadaan dan peran etnis Tionghoa dari masa ke masa. Apa saja peran penting mereka sejak zaman kerajaan hingga masa paska kemerdekaan Republik Indonesia.

Hubungan pasang surut, dalam sejarah keberadaan etnis Tionghoa telah melahirkan beragam luka sejarah dan residu politik yang perlu dibersihkan,  diobati hingga sembuh.

Presiden Soekarno,  Proklamator RI,  Soeharto, BJ Habibie, punya ikatan sejarah kebangsaan bersama etnis Tionghoa.   Presiden Abdurahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri paska reformasi memiliki peran dalam proses sejarah, menempatkan persatuan, kebangsaan, toleransi, menghargai kebhinnekaan dan mengelola isu SARA dalam upaya merangkul etnis Tionghoa dalam bingkai NKRI. Begitu juga Susilo Bambang Yudhoyono hingga Joko Widodo.

Memberikan ruang untuk bertumbuhnya ikatan kebangsaan dan kemanusiaan sebagai perekat  persatuan Indonesia, penting selaku disuarakan.

Sejarah kebangsaan, ke-Indonesiaan memang diwarnai masa kelam.  Fase kelam, sudah dilalui dan bangsa ini tengah berproses maju mewujudkan kesejahteraan bersama.

Semua etnis, yang ada di tanah air tentu memiliki cita-cita yang sama sebagai bagian Indonesia. Termasuk etnis Tionghoa, berhak untuk memiliki ekspresi budaya yang melekat.

******

Memasuki tahun yang baru, jelas butuh optimisme sebagai modal bekerja. Semua tentu wajar bila bersuka ria dalam memaknai pergantian waktu, pergantian tahun.  Islam memiliki ekspresi budaya khusus kala menandai peringatan pergantian tahun setiap 1 Muharam.  Ada rasa syukur, ada harapan dan cita-cita untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.

Di dalam masyarakat Jawa yang beragama Islam, ada kenduri, ada tumpeng,  ada slametan, berdoa bersama agar mendapatkan perlindungan dan keselamatan menapaki tahun baru.

Ada akulturasi budaya, kala Islam berpadu dengan budaya Jawa, budaya Mataraman. Begitu pula dengan ekspresi budaya China, etnis Tionghoa ada rangkaian perayaan juga ritual yang secara khusus dijalankan, berkirim doa untuk para leluhur, salah satunya yang dijalankan kala sembahyangan di waktu pergantian tahun di kelenteng.

Ada kue keranjang, yang dibuat sebagai suguhan. Ada lilin yang dinyalakan, burung-burung yang dilepasliarkan kembali dan aneka ekspresi budaya barongsay, liong digelar menambah semaraknya peringatan.

Itu dalam kondisi normal semua dijalankan. Hanya karena dalam situasi pandemi, beragam ekspresi budaya jelas dibatasi. Hadirnya perayaan dengan perayaan khusus pun harus dijalankam dengan taat protokol kesehatan ketat.

Pandemi masih ada, dan upaya memutus mata rantai penularan harus dikerjakan. Langkah pencegahan merebaknya penyakit menular butuh dilakukan secara bersama-sama.

Maka rasanya sangat relevan pesan kemandirian yang dicontohkan oleh Hasto Kristiyanto  dalam perayaan tahun baru Imlek 2572 bersama pengurus DPP PDI Perjuangan di Jakarta.

Jika dalam bahasa simbolik, bisa saja ada tafsir mana suka dalam kehidupan berpolitik masa kini tiap partai politik memiliki problema dan dinamika organisasi. PDI Perjuangan demikian juga. Nah, sebagai pemimpin parpol pemenang pemilu ingin berkabar pesan soal pilihan dan langgam dalam kelola kepemimpinan.

Kerjakan sendiri,  kebaikan dengan penuh kesadaran. Bersihkan kotoran, jangan dibuang di depan rumah, kelola dan kumpulkan di belakang rumah. Tak perlu semua residu, sampah dikirimkan ke TPA. Kalau kita sendiri mampu kelola. Itu minimal pesan publik yang saya tangkap.

Kalau sedulur semua punya pendapat yang lain, ndak masalah. Monggo, siap menyimak dan membaca.

#ceritapinggirjalan
#bersepedaselalu
#TahunBaruImlek2572
#isupublik

Kategori
Politik Society

Saat Bingkai Media Bergeser Ke Daerah

Selama ini fokus bingkai media, tentu saja dengan modal besar terfokus di ibukota Jakarta, sibuk dan gaduh sekali bicara di studio yang adem membahas aneka masalah perkotaan, perdesaan juga masalah kebangsaan.

Saat bingkai media bergeser ke daerah, seakan tumpukan masalah berebut ruang di dalamnya untuk diselesaikan. Banjir, tanah longsor, deforestasi lahan hutan alam hingga kebakaran hutan dan aneka kabar bencana  kini mengisi konten media. Seakan seperti menunggu giliran saja tampil di televisi.

Sementara di setiap sesi diskusi, seminar,  simposium dan beragam panggung ruang akademik berlembar kesimpulan hasil penelitian dibahas, diperdebatkan untuk hasilkan kebijakan publik.

Sebagian pilihan kebijakan bermanfaat bagi pemimpin di era kepemimpinan. Kalau yang begini tentu membahagiakan, sebagian besar ada banyak masalah yang belum selesai karena bertumpuknya problema benang kusut masalah.

Input data yang baik,  data yang terkonsolidasi,  update, termasuk liputan media menjadi pilihan bagi pengambil kebijakan untuk memilih prioritas tindakan,  prioritas aksi.

Kalau ada bencana alam, tentu ada langkah mitigasi,  alert system atau sistem peringatan dini yang seharusnya berbunyi. Adakah ini hadir dalam isi media?

Bersyukurlah kalau pernah terpapar informasi yang lengkap, komprehensif atas problema kebencanaan di setiap wilayah secara detail.

Informasi, data adalah senjata terkini guna merebut hati rakyat agar percaya (trust), terhubung (connected) hingga berdonasi (donate)  segala hal untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Tiga hal utama ini penting jadi perhatian, setidaknya untuk mengurai beragam masalah publik di berbagai ranah kehidupan.

Rakyat tahu hak dan kewajiban, pemerintah tahu bagaimana melayani dan membahagiakan rakyatnya.

Bagaimana dan seperti apa caranya? Media akan mencatat dan melaporkan, apa adanya. Bukan hanya ada apanya.

Semoga segala bencana dan masalah kebangsaan bisa teratasi. Banjir, tanah longsor adalah tanda air meminta haknya. Seberapa jauh ini bisa terkelola dan teratasi, mari menunggu proses mengurai masalah kebencanaan alam ini satu persatu.

Harap bersabar,  rakyat yang baik, jembar atine. Harap maklum, kalau belum maklum baca maklumat demi maklumat yang segera diterbitkan,  tak lama lagi…

Sabar ya! Informasi (yang baik) sedang diolah.

#ceritapinggirjalan
#bersepedaselalu
#isupublik

Kategori
Society

Butuh Demokrasi? Start Up Platform Siap Memfasilitasi

Ada banyak bentuk platfrom sebetulnya. Namun, yang mau saya bahas di sini adalah platform dalam artian populer, yakni perusahaan aplikasi a la Silicon Valley. Contohnya ya Gojek, Grab, Bukalapak, dan Halodoc.

Deretan perusahaan platform ini, sejak kemunculannya, mendapatkan berbagai macam pujian. Mulai dari segi inovasi sampai kepiawaian menggunakan teknologi-teknologi terkini. Salah satu pujian yang sangat kuat pengaruhnya, dan akan menjadi bahasan tulisan ini, yaitu semangat platform dalam mendorong demokratisasi.

Gema demokrasi ini sangat terasa saat berhadapan dengan industri yang selama ini terlihat dijangkiti monopoli. Misalnya yang terbaru, pada November 2019, Kementerian Perhubungan berencana menggandeng Gojek masuk ke layanan transportasi laut. Ini dilakukan untuk mencegah praktik monopoli di trayek laut terus terjadi. Layanan transportasi laut memang dikuasi oleh segelintir perusahaan sehingga mereka bisa mengatur harga sesuka hati. Akibatnya, program tol laut yang dijalankan Jokowi tidak efektif, karena disparitas harga (perbedaan harga barang) yang sangat besar antar-pulau tetap tak terkendali.

Dengan hadirnya Gojek nanti, Kemenhub berharap proses pemesanan kontainer lebih transparan dan muatan terbagi secara lebih adil ke para shipper di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal. Seperti yang dituturkan Wisnu Handoko, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kemenhub kepada tirto.id, “Kami bekerjasama dengan Gojek untuk menghentikan monopoli di tol laut agar manfaat subsidi yang digelontorkan pemerintah selama ini bisa tepat sasaran dan mampu menurunkan disparitas harga.” Negara sungguh mengandalkan Gojek untuk memerangi monopoli. Gojek diharapkan menjadi media transparansi, sehingga pemesan kontainer bisa menikmati harga yang kompetitif.

Narasi ini sebetulnya mengulang cerita yang terjadi pada industri angkutan umum jalan raya. Kehadiran ojek online yang dipelopori oleh Gojek dan lalu diikuti oleh beberapa platform lain dianggap angin segar dalam layanan transportasi. Pasalnya, layanan transportasi yang ada selama ini dikuasi perusahaan yang itu-itu saja. Akibatnya, konsumen tidak mendapatkan harga yang kompetitif, atau dengan kata lain: murah. Belum lagi soal layanannya yang tidak fleksibel, kendaraan ditempeli nama dan logo perusahaan (tidak terasa privat seperti naik kendaraan sendiri), dan nggak ada promo-promo menarik.

Perusahaan aplikasi transportasi online menjadi angin yang sangat menyegarkan bagi banyak pihak. Bagi konsumen, kini bisa menikmati layanan transportasi dengan biaya yang murah, banyak promo, pemesanan gampang dan keren karena pakai smartphone, serta punya perasaan naik kendaraan pribadi (disupirin lagi). Bagi pemerintah, ini adalah bukti bahwa mereka mewadahi perkembangan industri digital, mengikuti zaman, menjaga persaingan bisnis yang sehat (membongkar monopoli dengan layanan yang transparan), serta menjadi solusi keringnya lapangan pekerjaan.

Sementara bagi kelompok masyarakat pro-demokrasi, kemunculan platform aplikasi adalah jawaban pada kejumudan birokrasi selama ini yang tidak transparan, koruptif, nepotis, dan tidak inovatif. Konsumen atau pengguna layanan mendapatkan ruang bersuara yang begitu jembar di dalam platform. Tidak hanya diberi ruang, tapi suara konsumen benar-benar didengarkan dan dicarikan solusi. Sangat beraroma demokrasi, bukan?

Euforia ini sangat jelas terlihat di awal-awal kemunculan ojek dan taksi online. Layanan transportasi sebelumnya baik itu transportasi umum, perusahaan taksi, ojek pangkalan, dianggap wajar ketinggalan dan ditinggalkan karena tidak inovatif dan tidak beradaptasi. Kemunculan dan kepopuleran ojek dan taksi online dianggap niscaya karena mereka bersahabat dan mengikuti logika jaringan internet.

Padahal, kalau diselidiki lebih lanjut, kenapa ojek dan taksi online bisa tumbuh pesat dan menggurita? Ada 2 hal. Pertama, mereka membangun perusahaan yang begitu ramping, minim biaya, karena ada begitu banyak biaya yang dilimpahkan ke pihak lain. Para pengemudi tidak diakui sebagai pekerja oleh perusahaan aplikasi. Mereka disebut mitra, sehingga tidak mendapatkan hak-hak pekerja. Dengan model yang seperti ini, pengemudilah yang menanggung biaya perawatan kendaraan, biaya kecelakaan, risiko pekerjaan, dan risiko bisnis. Perusahaan akhirnya bisa dengan mudah melakukan manuver dan ekspansi (perluasan jangkauan bisnis) di atas eksploitasi besar-besaran para pekerja.

Yang kedua, mereka semakin mempertipis penerapan prinsip dasar angkutan umum dan terus melanggengkan penggunaan kendaraan pribadi. Apa prinsip dasar angkutan umum? Layanan transportasi yang dijalankan berdasarkan semangat kebersamaan. Berpindah bersama-sama, bukan sendiri-sendiri. Ojek dan taksi online semakin mengikis prinsip ini. Padahal prinsip inilah solusi terbaik untuk menyudahi kemacetan. Dengan mengabaikan prinsip tersebut, perusahaan aplikasi ojek dan taksi online semakin memanjakan hasrat bertransportasi yang sangat individualis. Makanya laris.

Ironisnya, ketimbang membongkar kedua masalah di atas, serta mendesain bentuk dan model platform baru yang lebih berkeadilan, sebagian besar pihak malah terlalu silau pada potensi semu platform untuk menghadirkan demokrasi pada bidang-bidang yang dikuasi mafia. Bukannya mengidentifikasi masalah mendasar dari layanan publik yang dianggap tidak memuaskan, sarang monopoli, tidak inovatif, birokratis kolot, baik dari segi politis, relasi sosial, model organisasi dan manajamen, pemerintah dan organisasi sosial malah mendukung solusi a la platform yang tidak menyelesaikan masalah, malahan menambah masalah baru.

Misalnya, terkait layanan transportasi darat perkotaan, bukannya mempermewah angkutan umum, mempermudah akses penumpang ke titik keberangkatan, meningkatkan koordinasi antar-moda, memperbaiki fasilitas jalan kaki, dan membatasi kendaraan pribadi, tapi malah bersorak pada layanan ojek dan taksi online karena dianggap inovatif, kreatif, nonhirarkis, memperluas kesempatan dan persaingan, demokratis, dan menawarkan harga yang kompetitif.

Kita menyingkirkan analisis sosial, teknis, dan politis dalam menangani masalah-masalah publik, dan beralih pada sensor platform, analisis data statistik, analisis big data, serta analisis perilaku konsumen (consumer behaviour) yang dianggap netral dan menangkap kemauan, persepsi, dan harapan masyarakat apa adanya. Dalam bahasa buzzer akademisnya: evidence-based policy (kebijakan dan strategi layanan yang berbasis bukti). Masalahnya, bukti yang mana? Bagaimana mengambilnya? Mengapa memakai metode yang ini dan bukan yang itu? Pertanyaan ini tidak perlu kita jawab, karena kita sudah mengandalkan data dan kurva yang diambil dari smartphone kita.

Ini bukan berarti saya mengajak untuk anti-teknologi dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul hari ini. Saya hanya ingin mengajak pembaca untuk menyadari bahwa ada cara lain dalam menggunakan teknologi untuk menyelesaikan masalah sosial, bisnis, dan politik. Tidak harus (dan bahkan jangan!) menjadi platform a la Silicon Valley.

Kategori
Society

Menonton vs Ditonton, Budaya Populer Era 4.0

Semua sudah sepakat betapa kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sudah sangat maju. Di Indonesia proyek Palapa Ring dijalankan guna memastikan semua wilayah terhubung.

Simbol kemajuan salah satunya melekat pada gadget yang dimiliki. Semakin terbaru gadgetnya, citra diri semakin moncer sebab merasa jadi bagian masyarakat modern yang melek teknologi.

Lebih jauh lagi, kala isi gadget diperiksa. Aplikasi serba baru yang terinstall bisa membawa si pemilik merasa benar-benar sebagai pemilik peradaban terkini. Serba update. Bikin bangga begitulah.

Belum lagi soal tampil eksis di panggung medsos aneka rupa. Apakah itu IG, Tik Tok, Twitter, Facebook dan beragam aplikasi lain yang populer di era sekarang.

Ada Youtube dan beragam varian aplikasi berbasis video yang menarik siapa saja untuk bisa tampil, sembari berharap bisa jadi viral dan mendapatkan keuntungan finansial.

Media sosial, memang memberikan ruang terbuka yang adil sebenarnya. Siapa saja bisa menjadi bintang dalam sekejap kala pas mendapatkan momentum.

Siapa saja bisa menjadi sumber berita, menjadi bahan obrolan warganet dalam sekejap. Apalagi tatkala mendapatkan spotlight atau sorotan publik karena ada kontroversi yang hadir.

Di sisi yang lain, media sosial memberikan kesempatan aneka hoaks dan anonimitas hadir bersamaan. Bukan itu saja, kebaikan dan keburukan bertarung dalam keberlimpahan informasi yang bisa hadir dalam sekejap.

Memang, tiap platform medsos memiliki kemampuan dan fungsi yang berbeda. Twitter sampai kini lebih terbuka dibandingkan platform medsos yang lain, masih menjadi rujukan hal-hal viral apa saja yang kemudian bisa diangkat menjadi pembahasan media mainstream.
Termasuk untuk seleb medsos yang hadir bak cendawan di musim hujan.

Kemampuan blasting atau penyebaran cuitan sangat bergantung pada banyak sedikitnya follower, interaksi antar-pengguna.

Sedikit berbeda yaitu Instagram alias IG yang lebih banyak digunakan untuk menghadirkan foto dan video. Terhubung atau connected adalah prasyarat utamanya jika kita ingin menonton pemilik akun lain.

Perusahaan medsos memang tak tanggung-tanggung menyediakan kebutuhan pengguna untuk bisa tampil. Algoritma IG misalnya, banyak dimanfaatkan untuk berinteraksi secara live, yang kemudian terekam di feed. Isinya selain percakapan remeh temeh, aksi yang menghibur, aksi berjualan bisa dikerjakan dengan leluasa.

IG oleh sebagian kalangan jadi pilihan untuk memajang citra diri, dagangan ataupun jasa pemilik akun. Selebgram adalah sebutan untuk mereka yang populer.

Hal yang paling rendah dalam bermedia sosial adalah pornografi. Ini boleh diperdebatkan. Kebebasan di dunia digital sebenarnya sudah berusaha diredam begitu rupa, ada etika moral yang ditegakkan.

Semua mahfum apa saja yang hadir dan bisa dinikmati pengguna, seketika asal ada koneksi internet. Termasuk urusan berkait industri konten pornografi. Sebagai industri hiburan, ada sejumlah negara yang mengatur dengan ketat. Di tanah air, industri hiburan pornografi jelas dilarang sebab melanggar norma kesusilaan.

Ada pasal berlapis yang dipakai untuk urusan pidananya yaitu dengan (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”) sebagaimana yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU 19/2016”); dan (3) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (“UU Pornografi”).

Bisa cukup panjang bicara urusan pidana dan proses hukum kasus yang pernah menghebohkan terjadi, berkait pornografi. Ini bisa dibahas dalam artikel lain saja.

*****

Kehadiran diri di lingkungan budaya populer berkait dengan citra diri, khususnya bagi rakyat perkotaan adalah keniscayaan. Jalan-jalan di pusat perbelanjaan (window shopping) tak elok rasanya kalau berpakaian ala kadarnya.

Budaya populer melahirkan mode pakaian yang layak dan tak layak pakai. Meski sebenarnya soal mode berpakaian tak ada hukum pasti alias hukum wajib yang patut ditaati. Misal harus berpakaian rapi saat ke mall atau pusat perbelanjaan.

Bukan hanya soal pakaian, citra diri berkemajuan dihadirkan dengan keberadaan gerai makanan cepat saji, titik kumpul kuliner yang biasa hadir dalam jagat bisnis pusat perbelanjaan.

Kisah berikut adalah pengalaman pribadi saat menikmati suasana merchant di mall kala itu. Ternyata, meski ada kebebasan untuk menonton dan ditonton kala makan di sebuah gerai, tak boleh duduk seenaknya macam di warung tradisional. Ada etika, manner, kala duduk menikmati makanan siap saji di sebuah gerai. Bahkan tak segan, pelayan mengingatkan secara langsung.

Sungguh sebuah pengalaman budaya makan yang jauh berbeda dengan kebiasaan keseharian, bebas bertingkah, selonjor maupun gaya lesehan sembari menyantap hidangan. Melalui penataan interior serba tembus pandang, keluasan tata hias bangunan juga kerlip dan terang lampu melengkapi citra modern kala seseorang berada di dalamnya.

Ini masih sebatas soal makan, di balik kaca tembus pandang yang bisa melambungkan perasaan seseorang lebih sejahtera, lebih makmur, lebih bermartabat kala menyantap makanan siap saji. Meski sejatinya di negara asalnya, menikmati makanan siap saji adalah hal biasa tak lebih dari etalase bisnis, junk food.

Asosiasi diri dengan label aneka brand kelas dunia adalah bagian lain dari hadirnya mall atau pusat perbelanjaan.

Tak hanya di ibukota, mall dan pusat perbelanjaan sebagai ciri modern merajalela ke beragam pelosok negeri. Menancap sampai jauh ke jantung perekonomian perkotaan di tanah air. Ke berbagai kota kedua, ketiga dalam lingkar jejaring pasar ritel. Apa yang ada di belahan dunia negara adikuasa dalam sekejap bisa hadir di merchant pusat perbelanjaan terdekat. Budaya belanja ditumbuhkan begitu rupa, untuk mencapai citra diri seseorang, sebagai Sultan atau sebagai sosok orang kaya.

*****

Hadirnya teknologi informasi menambah panjang dan luas keberadaan pusat perbelanjaan dan mall. Bukan hanya hadir secara fisik, lebih jauh dan dalam lagi secara visual.

Ada dalam beragam aplikasi yang mudah di-download secara cepat. Model pelayanan belanja yang lebih ringkas, cepat dan lebih banyak pilihan kala akses mall dan pusat perbelanjaan digital. Marketplace namanya.

Kemajuan teknologi informasi tak sekedar memudahkan manusia mendapatkan segala keinginan dan hasrat berbelanja namun sekaligus mempercepat membunuh usaha ritel ini. Manusia tak perlu lagi hadir berdesakan dan berdempetan di pusat perbelanjaan. Cukup dari rumah saja untuk memastikan semua keinginan belanja terpenuhi.

Bill Gates, Mark Zuckerberg hingga Jack Ma yang memiliki Microsoft, Facebook hingga Alibaba adalah sederet nama yang besar dalam jagat teknologi informasi mulai software komputer, media sosial dan platform online. Masih ada banyak nama lain, yang bisa diulas lebih dalam.

Bukan itu saja, lewat beragam aplikasi dan platform teknologi informasi, ada wajah baru dalam budaya populer. Ada kebiasaan baru baik dalam soal berkomunikasi personal maupun dalam komunikasi secara publik dengan daring. Siapa saja bisa menjadi seleb dalam waktu pendek. Tua, muda, perempuan dan laki-laki, siapa saja bisa melejit namanya baik secara organik maupun karbitan alias dipromosikan mesin.

Being Digital, dalam buku karya Nicholas Negoponte bisa tergambar dengan mudah apa, siapa dan bagaimana dunia digital begitu jauh memberikan pengaruh dalam kehidupan manusia modern. Bukan hanya bicara soal kemajuan teknologinya tapi memberikan bingkai perspektif cakrawala horison baru berkait terra incognita, dunia baru yang belum terpetakan ini jadi tempat melempar modal agar beranak pinak lebih cepat.

Pemahaman soal internet seringkali salah dimengerti, jejaring web yang terhubung online memiliki prasyarat khusus yaitu kebutuhan connected alias terhubung. Ada paket data yang bernilai uang untuk bisa memanfaatkan jaringan layanan secara realtime, online. Kalau tak ada koneksi, jelas tiap mesin akan bekerja offline.

Melalui gadget atau telepon seluler, telpon pintar, koneksi online lebih mudah diakses. Apalagi layanan paket data bisa dengan mudah dijangkau lewat jasa operator selular. Kondisi ini membuat pengguna lebih merasakan hal-hal privat terlayani.

Termasuk urusan menonton, sekaligus ditonton. Sekarang bisa lebih privat diakses layanan online. Apalagi di masa pandemi, kala manusia dituntut membatasi, berjarak dengan yang lain.

Melalui lensa gadget, melalui layar HP ada relasi dan komunikasi timbal balik yang seketika dilakukan oleh user, pengguna internet. Pesan juga demikian cepat tersebar ke banyak orang dalam jejaring pertemanan.

Kalau suka menonton, bersiaplah juga untuk ditonton kala tampil di layar gadget secara sengaja atau tidak sengaja. Hal yang pasti, ada semacam pagar api dalam jagat media sosial. Kalau melewati pagar api, jelas bisa hangus terbakar.

Kategori
Politik Society

Tukang Sapu, Pekerja Kebersihan dan Residu Politik

Ada yang berbeda di awal tahun ini, utamanya aktivitas sehabis subuh di pinggir jalan. Biasanya tukang sapu yang bekerja mengenakan seragam. Kali ini ada banyak orang baru yang menggantikan pekerjaan membersihkan sampah dedaunan di pinggir jalan.

Keriuhan obrolan pagi juga beda kisahnya. Ada beberapa tukang sapu yang sudah akrab dengan warga sekitar. Sekarang berbeda, berganti semuanya. Alat-alat lengkap, tapi minus gerobak sampah. Kali ini mereka menggunakan karung dan terkadang menyeret dahan pohon palem yang jatuh dari pohon. Tukang sampah yang lama pernah berkisah, gerobak sampah yang mereka pakai adalah investasi mereka sendiri.

Tentu saja ini memberikan pertanyaan, kenapa semua berganti, ke mana para tukang sapu pinggir jalan yang selama ini bekerja? Beberapa pertanyaan ini lalu terjawab setelah mendapatkan penjelasan, pilkada baru saja usai.

Pejabat terpilih segera dilantik. Tukang sapu lama bergeser, berhenti bekerja karena mereka bagian dari struktur pemimpin lama yang kalah. Kebetulan kepala daerah lama tersandung kasus korupsi, sempat mengajukan anaknya maju jadi kandidat kepala daerah tapi gagal terpilih, gagal mendapatkan kepercayaan rakyat. Efek dari proses demokrasi tingkat lokal, langsung terasa.

Setidaknya bagi mereka, tukang sampah, pekerja kebersihan yang bekerja berdasarkan kontrak yang sudah berakhir, efeknya sangat nyata. Tak bisa diperpanjang karena ada kebijakan rekruitmen petugas kebersihan. Orang-orang lama yang bekerja diganti orang-orang baru.

Politik kuasa, politik adalah peristiwa sehari-hari sekarang ini nyata adanya. Minimal itulah yang terasa dari keberadaan tukang sampah, pekerja pemungut sampah perkotaan. Bukan di wilayah sendiri ini saja.

Di kabupaten lain, sampah sempat menumpuk di tempat pembuangan sampah sementara karena petugasnya mogok bekerja. Bukan tidak mau kerja, tapi jadi bagian protes sebab gaji jatah mereka tak bisa cair. Sebab ada krisis kepemimpinan karena adanya penataan organisasi, di tengah kompetisi kandidasi kepala daerah.

Sampah benar-benar menumpuk di pinggir jalan. Tak diangkut karena armada pengangkut sopirnya berhenti bekerja. Meski para tenaga kebersihan, tukang sapu sampah tetap bekerja memungut sampah perkotaan. Situasi yang cukup berbeda begitu terasa, kala sampah teronggok di pinggir jalan.

*****

Masih soal sampah, di DIY ada persoalan serius karena lokasi TPA di Piyungan Bantul, tempat pembuangan sampah akhir tak mampu lagi menampung sampah perkotaan. Ini juga akibat adanya protes tata kelola sampah yang belum tuntas diselesaikan. Sampah sempat menumpuk di banyak TPS, di perkotaan karena tidak terangkut.

Fenomena sampah, tata kelola sampah jelas buah dari kebijakan politik. Saat ada salah kelola, ada masalah efeknya tentu langsung dirasakan oleh rakyat oleh masyarakat.

Sampah boleh dianggap masalah sepele, sampah rumah tangga sejatinya bisa terkelola oleh masing-masing keluarga. Semua juga mengenal apa itu reduce, re-use, recycle, kurangi sampah, gunakan kembali atau daur ulang saja, agar tak membebani lingkungan.

Gunakan dan pilih barang ramah lingkungan yang mudah didaur ulang, jalankan gaya hidup hijau. Budayakan kelola sampah sejak dari dapur masing-masing keluarga. Saat ini terlewatkan, tak berjalan sempurna maka persoalan bergeser ke ruang publik. Beberapa solusi urusan sampah bisa difasilitasi dengan menghadirkan Bank Sampah, BUMDes kelola sampah dan lain sebagainya. Di beberapa pondok pesantren kini menginisiasi hadirnya tempat pengolahan sampah modern untuk minimalkan sampah keluar dari pondok mereka. Sampah terkelola mandiri.

Di sisi lain, bagi mereka yang abai soal budaya kelola sampah, efek bagi lingkungan jelas ada kerusakan lingkungan, utamanya limbah yang dibuang seenaknya. Apalagi kalau limbah sampah yang dibuang adalah limbah atau sampah industri. Ada kerugian besar dan tentu saja dibutuhkan energi lebih, dana yang besar untuk mengatasi dampak merugikan dari limbah dan sampah.

Banjir besar di sungai yang membelah ibukota DKI Jakarta salah satu masalah rutin, tiap tahun yang selalu jadi berita. Seakan tanpa henti terjadi. Jadi peristiwa rutin, bencana.

*****

Tukang sapu, pekerja kebersihan tidak bisa dianggap sepele peran mereka. Sangat strategis posisinya. Meski sambil lalu, bisa jadi banyak yang mengabaikan hal begini.

Baru terasa kala mereka berhalangan atau berhenti bekerja. Tapi mereka juga tak bisa berbuat banyak kala kesejahteraan, kesempatan kerja hilang karena habis kontraknya. Siapa peduli?

Tentu, sesuai tugas dan kewenangan kuasa yang ada nasib kesejahteraan tukang sampah dan pekerja kebersihan adalah tanggung jawab pemilik kuasa. Pemerintah daerah, sesuai undang-undang adalah kepala daerah dan DPRD. Di pundak pemilik kuasa inilah nasib kesejahteraan rakyat di daerah bergantung.

Kala terjadi dinamika politik, jelas arahnya harus berpihak kepada rakyat sepenuhnya. Tak boleh ditawar, karena memang begitulah proses politik sejatinya. Lewat pemilihan langsung, rakyat sudah memberikan hak politiknya, memilih dan berpartisipasi aktif memberikan suara.

Politik bukan berefek hanya milik elitnya saja. Bagi mereka yang berpolitik aktif dalam lingkaran kekuasaan seharusnya juga sadar diri. Demokrasi hari ini, esensinya perlu lebih diutamakan.

Lebih substantif, apalagi setelah politik elektoral selesai. Kalau ada masalah politik berkepanjangan, bisa jadi itulah sejatinya residu politik. Harus dipungut, dibersihkan dan dibuang ke tempat yang semestinya.

Apa saja residu atau sampah politik dan demokrasi di tanah air sekarang? Korupsi, kolusi, dan nepotisme, nyata masih terasa.

Adakah sampah politik demokrasi yang lain. Politisi busuk? Mari bersih-bersih bersama.

#ceritapinggirjalan
#bersepedaselalu
#isupublik
#ceritasampah
#sehat
#waras
#bahagia

Kategori
Society

Hidup Harmoni Bersama Gunung Merapi

Berbeda dengan gunung yang lain, Merapi adalah yang paling aktif.  Sorotan untuk gunung yang menjadi pengikat dua provinsi yaitu DIY-Jawa Tengah ini menjadi pusat perhatian bersama bukan hanya warga sekitar tapi juga warga dunia.

Warga yang hidup di lereng Merapi baik itu di Sleman, Klaten, Boyolali dan Magelang memiliki ikatan kuat baik kala gunung tenang alias tak ada aktivitas vulkanik maupun kala terjadi fase erupsi, seperti sekarang ini.

Bukan hanya ikatan kuat karena Merapi diliputi beragam mitologi tapi pada kehidupan keseharian, warga di sekitar lereng benar-benar mendapatkan kesejahteraan dari beragam berkah.

Wisata alam saujana salah satu yang jadi andalan, melalui tambang pasir hingga air mineral yang dikelola dan dipanen maupun air yang mengalir ke beragam arah dari sumber air, umbul guna kebutuhan air bersih dan pengairan pertanian adalah berkah lingkungan alam gunung Merapi.

Lahan pertanian dan pekarangan di sekitar lereng jadi tumpuan kehidupan pertanian bagi banyak keluarga. Pasir G. Merapi yang ditambang telah membawa keuntungan finansial banyak pihak. Pasir gunung membuat banyak orang hidup lebih sejahtera, mulai penambang pasir, sopir truck sampai politisi lokal mendapatkan berkahnya.

Sejatinya, siapa saja bisa mendapat keuntungan dari keberadaan hidup berdekatan dengan gunung api. Asal tahu diri dan arif dalam memanfaatkan sumber daya alam.  Tak eksploitatif dan merusak yang bisa membahayakan kehidupan ekosistem, berulah hingga menyebabkan kerusakan ekologis.

Tak heran, jika alam pikir, alam budaya di kehidupan sekitar lereng G. Merapi hadir beragam mitologi dan kepercayaan yang diekspresikan dengan beragam ritual. Manfaatnya juga terasa, harapan menjaga kelestarian alam.

Ada kuasa ghaib,  ada aturan yang tak boleh dilanggar agar kosmos, relasi manusia dengan penguasa Merapi terjaga. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta secara reguler memiliki agenda budaya secara khusus.

Ada juru kunci yang memiliki tanggung jawab menjalankan upacara ritual guna membawa keselamatan untuk semua. Menghindarkan kerusakan dan terhindar dari segala macam marabahaya.

*****

Beberapa waktu terakhir, G. Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas vulkaniknya.  Hadirnya wedhus gembel, menandai bahwa proses erupsinya telah mendekati masa puncak. Soal kapan dan berapa lama waktu erupsi akan berakhir sangat bergantung pada sumber energi dari dapur magma di dalam bumi, di dalam perut G. Merapi.

Teknologi telah merangkum beragam indikatornya. Secara kelembagaan,  BPPTKG sebagai lembaga milik pemerintah yang bertanggungjawab melakukan pengamatan, penelitian dan memberikan rekomendasi, laporan atas hasil pengamatan G. Merapi.

Sains modern dengan beragam peralatan pemantauan yang ditempatkan di tubuh gunung, alat pemantau kegempaan, CCTV untuk pemantauan visual merekam setiap waktu segala aktivitas di puncak dan lerengnya. Kini semua termonitor, terkontrol.

Hasilnya semua pihak menerima sebagai bekal tindakan mitigasi guna mengurangi risiko bencana. EWS (early warning system) atau sistem peringatan dini, cara bekerjanya sudah dikenal baik oleh masyarakat, terutama di sekitar lereng yang masuk daerah kawasan rawan bencana.

Jika dalam beberapa waktu, bisa menikmati keindahan G. Merapi dengan pijar api di puncak dan lelehannya di waktu malam, maka wajah visual aslinya adalah munculnya wedhus gembel alias material awan panas yang mematikan.  Inilah tanda bahaya yang harus dihindari.

Manusia di sekitar lereng yang berada dalam kawasan rawan bencana perlu menghindar, mengungsi ke daerah aman. Berapa lama ini terjadi? Tiap fase erupsi, berbeda lama durasinya. Guna memastikan tentu mari percayakan kepada ahlinya untuk terus bekerja melakukan pemantauan, penelitian.

Sampai, artikel ini ditulis, G. Merapi statusnya Siaga level III.  Sampai kapan level ini bisa bertahan, apakah akan terus naik level dalam pengertian status aktivitas vulkaniknya membesar? Apakah justru turun status, sebab aktivitas vulkaniknya menurun?

Mari semua tetap siaga, bersiap menghadapi resiko terburuk. Bagi mereka yang berada di kawasan sekitar lereng tentu sudah mahfum, cara menghindari bahaya dengan mengungsi. Berpindah ke tempat yang lebih aman.

Hanya saja, semua tahu kini situasi pandemi masih berlangsung.  Berbeda dengan kondisi sebelumnya, tempat mengungsi atau barak adalah titik kumpul.

Aturan formal menghadapi pandemi, menghindari kerumunan. Ini tentunya pekerjaan rumah baru dalam aksi kemanusiaan. Kelola pengungsi di tengah pandemi. Harus diberlakukan protokol kesehatan agar semua pengungsi selamat. Semoga, begitulah doa semua orang.

*****

Hidup di kawasan rawan bencana,  hidup di tengah situasi bencana termasuk bencana non-alam telah membawa manusia menjadi adaptif.  Fenomena bahaya letusan, erupsi gunung berapi bermakna ganda.  Bukan sekedar bahaya semata tapi masa aktif gunung berapi menebarkan manfaat bagi lingkungan, bagi pertanian dan beragam manfaat lain yang bisa didapatkan setelah fase bahaya berkurang, mereda.

BPPTKG dalam beberapa upaya memberikan edukasi ke masyarakat sekitar lereng G. Merapi mengajak semua agar bisa hidup harmoni bersama. Proses panjang, edukasi ini terus berjalan sampai sekarang.

Di masa aktivitas gunung berapi yang meningkat, hidup harmoni bersama Merapi tentu masih relevan untuk kembali disuarakan,  digemakan seiring dengan proses mitigasi bencana.  Ini perlu, sebab jangan sampai kala masa tenang manusia hanya berpikir dan beraksi ekploitatif saja hanya cari untung. Butuh gerakan agar semua pihak masih memiliki kesadaran bersama  bisa turut serta menjaga keseimbangan lingkungan sekitar, sebagai ruang hidup bersama. Tidak berlebihan mengeksploitasi sumber daya alam.   Kalau yang begini, rasanya tak hanya penting bagi warga di sekitar lereng G. Merapi saja. Tapi untuk semua.

#ceritapinggirjalan
#bersepedaselalu
#mitigasibencana
#Merapi
#BPPTKG

Kategori
Society

Terkekeh, Tertawa Menambah Imun

Berbahagialah kala dirimu masih bisa tertawa. Tak banyak orang memiliki kesempatan untuk urusan sepele begini. Bahkan untuk mentertawakan diri sendiri, tak setiap orang mampu melakukan.

Hal yang sering kita dengar adalah emosi berlebihan kala mendengar tertawa, tawa orang lain.  Kondisi ini membuat diri seseorang merasa berbeda, menjadi obyek dan ada penyangkalan atau respon yang berbeda. Berhati-hati jika sudah mengalami kondisi begini. Ada yang salah dalam soal respon tawa.

Apa contohnya?

Simak TASS Bukan Kantor Berita, ini hanya sebuah potret sederhana bagaimana hal hal yang mengundang tawa itu beresiko. Ada dampak yang tidak terduga. Sebagai seorang dosen sebuah PTS,  sosok utama dan satu-satunya dalam akun ini adalah manusia yang menggunakan humor sebagai cara melawan kemapanan, melawan rezim otoriter di masa mudanya.

Beruntunglah, siapa saja yang pernah bersinggungan dengan isi humor yang pernah disampaikan oleh sosok bertampang serius itu. Humor berujung penjara, itulah yang banyak orang mengenal dan mengingatnya.

Terakhir, ada kemajuan dalam visualisasi cara bertutur. Bagi saya pribadi, itulah cara kemampuan membelah diri tercanggih yang bisa hadir berkat teknologi. Entah apa sumber idenya.

Bisa jadi begitulah cara TASS mentertawakan diri sendiri. Omong-omong sendiri, direspon sendiri dan menginterview diri sendiri. Ini dilakukan secara sadar dan terkonsep, perkiraan, tepatnya prasangka saya demikian. Salah atau benar, ya ayo terkekeh saja.

Bagaimana dengan isi konten? Ya tentu saja soal kisah humor yang masih saja politis, klop dengan karir kelucuan yang selama ini ditekuni.  Gegara melawan dengan humor, penjara sekian waktu dijalani dulu. Kala otoritarian berkuasa. Hanya saja, kali ini tidak dalam konteks melawan dengan humor tapi memberikan ucapan selamat dengan aneka kisah humor.

Apakah semua lucu? Simak saja kalau merasa penasaran dengan paparan ini. Pastikan syaraf dan ketentuan berlaku. Syarat maksudnya, kalau syaraf beda urusan itu.

Sedikit melompat dari bingkai humor dan hal-hal yang lucu di kanal milik dosen ilmu pemerintahan tersebut, perlu kiranya dipahami otoritas saya menulis soal humor soal lawak, soal lucu lucuan begini. Apalagi kini tengah populer soal mantan.

Iya, jabatan direktur kajian data dan komedi pernah menempel dalam kartu nama yang dibuatkan untuk diri saya. Jadi sah rasanya kalau menulis apapun soal humor, komedi dan lawak.

Soal tawa, ya termasuk ahlinya. Sampai satu waktu dengan penuh percaya diri pernah meminta kepada kawan-kawan satu kontrakan agar bersedia mendengar kelucuan yang direkam dalam program radio, sandiwara radio.   Simak baik-baik kisah sandiwaranya, ada suara saya dalam program sandiwara radio tersebut. Benar, berbekal rasa penasaran mereka (kawan-kawan satu kontrakan itu)  menyimak sampai selesai.

Respon pertama setelah siaran rekaman sandiwara radio usai adalah pertanyaan sekaligus kekecewaan. Tidak ada satu kalimatpun yang bisa mereka simak dari obrolan dan humor yang disampaikan. Santai saja, saya jawab. Apakah terdengar tawa berderai berkali-kali tak ada dalam rekaman sandiwara radio itu?  Apakah tak ada hal yang lucu dan humor bekerja menghasilkan tawa terkekeh? Begitu ingat sekilas saja, langsung mereka tertawa, keras sekali.  Oalaah, asyeeemmm.

Begini, sejatinya kisah tawa bisa berjilid-jilid dalam buku. Ada banyak buku humor dan komedi diterbitkan, pun kisah cerita lucu mulai stensilan hingga serius sampai jadi komika dikerjakan.  Beragam upaya dilakukan oleh banyak tokoh di masa lalu baik itu oleh badut, pelawak hingga punokawan maupun Abu Nawas.

Humor dan komedi,  itu serius sebenarnya. Sulit sekali bisa menulis dan menciptakan humor lalu tetap aktual meski dibacakan dan dipanggungkan.

Mbah Guno Prawiro, seorang legenda humor dan lawak yang mengajar teater di Intitut Seni Indonesia Yogyakarta pernah melakukan protes yang lucu, karena sudah sering tampil menang lomba humor, lomba lawak dirinya tak boleh lagi ikut.

Satu rumus komedi atau humor yang disampaikan beberapa di antara teori humor tiga babak, puncak humor adalah satu tindakan semata sudah berhasil membuat dan memancing tawa.

Cermati lagi, bagaimana satu orang pemain Srimulat bersedekap, bikin tawa penonton setiap dirinya hadir di layar atau di panggung. Wajah seseorang yang hadir dalam bingkai layar kaca juga sudah bikin terkekeh, tertawa meski tanpa bicara.

Di usianya yang sudah lanjut, Guno Prawiro (alm) pernah ada usul untuk menambah kategori penilaian, pelawak lansia. Itu yang jarang dikerjakan sebab biasanya lomba lawak maupun lomba komedi dan humor adalah mencari bakat bukan memberi ruang tampil semata.

Di masa pandemi, yang entah kapan tuntasnya ini ada saran untuk meningkatkan imun tubuh. Harapan nya adalah bisa menjadi selamat tatkala penyakit menular datang.

Beragam skema pengobatan hingga vaksin terumuskan konsep dan aturan pelaksanaan, tapi sepertinya masih belum memberikan opsi humor dan komedi sebagai resep ampuh meningkatkan imun tersosialisasikan dengan baik.

Hari-hari penuh kabar duka masih saja merundungi situasi keseharian di masa pandemi.

Relaks sejenak, istirahat seperlunya. Mulai 11-25  Januari 2021 ada ajakan #dirumahsaja mengurangi aktivitas keluar rumah, berkerumun dan sejenisnya.

Bagi yang sakit, pahami lebih baik tak ke mana-mana karena bisa berpotensi serius.

Namun semua harus ingat, jangan melupakan dan mengabaikan humor, cerita lucu dan kisah komedi.  Siapa tahu justru lewat hal sederhana,  merawat tawa, imun kita lebih meningkat.

Jangan lupa tertawa, minimal tiga kali
sehari. Jangan lebih dan kurang apalagi kelebihan dosis tawa, terkekehnya.  Beresiko!

Ayo hidup Sehat, Waras,  Bahagia 🙂

Kategori
Politik Society

IoT dan Tugas Wajib Menteri Pertahanan dan Keamanan Prabowo Subianto

Sebagai menteri pertahanan rasanya eman kalau membawa Indonesia sibuk dengan urusan persenjataan dan investasi alat-alat militer saja. Apalagi pilihan politik luar negeri Indonesia adalah berpijak pada many friends no enemy.  Mau perang sama siapa? Kekuatan militer sebuah negara memang penting, sebab terkonsolidasinya kekuatan militer jadi modal guna memperkuat fungsi deterrence alias menggentarkan musuh.

Tapi itu saja belum cukup karena peta global kekuatan militer berubah orientasi juga seiring perkembangan zaman dan teknologi. Pengembangan kekuatan militer harus diikuti kemampuan penguasaan teknologi informasi.

Apa pasalnya? Perang di era informasi global masa depan bukan lagi soal teknologi pembunuh massal tapi perang informasi, perang penguasaan data.

Rasa aman sebuah komunitas di masa depan bahkan bergantung pada informasi dasar. Kesehatan, misalnya.

Boleh saja dibantah pendapat ini.

Namun secara kasatmata sudah mulai fenomena wabah atau pandemi telah mengubah sistem keamanan dan pertahanan nasional di tiap negara atau kawasan.

Pandemi akibat Covid-19 yang bermula di China selama tahun 2019 jelas sekali memberi sinyal berubahnya world of view atau cara pandang warga dunia untuk isu kesehatan sebagai bagian strategis sistem pertahanan dan keamanan. Sejarah pandemi dunia di masa lalu juga telah memberikan pelajaran kalahnya sebuah negara gegara tentaranya terkena influenza, terpapar virus yang mematikan kala itu.

IoT atau internet of thing adalah titik kemajuan teknologi informasi terkini yang bisa dikenali penguasaan dan penggunaan di tiap negara.

Pemanfaatan teknologi informasi untuk kebutuhan damai menjadi populer dalam beberapa waktu.

Contoh sederhana, penggunaan jam digital untuk memantau kondisi kesehatan. Aplikasinya jelas diproduksi oleh perusahaan produsen jam digital. Harganya murah dan mudah digunakan, sebab produsen menyasar berlimpahnya data yang bisa terkumpul, secara gratis dan sukarela yang diserahkan penggunanya.

Namun, dibalik semua itu secara tidak sadar sebagai pengguna ada beragam identitas dan kondisi kesehatan individu dikumpulkan, diserahkan untuk dikelola menjadi data strategis, berguna bagi beragam hal utamanya hasil analisis data yang terkumpul.

Apa saja?

Whatsapp yang dalam perjalanan sejarah bisnis akhirnya dibeli Facebook misalnya. Whatsapp sudah memberikan peringatan kepada pengguna bahwa dalam waktu dekat akan menggabungkan atau mengintegrasikan sistem pelayanan dengan induk perusahaan. Data pribadi pengguna disimpan dalam server milik Facebook dengan konsekuensi beragam informasi pengguna bisa digunakan oleh perusahaan milik Mark Zuckerberg.

Tak ada lagi data privacy yang selama ini jadi keunggulan Whatsapp dengan kemampuan enkripsi untuk menjaga kerahasian informasi.

Itu satu contoh sederhana perang digital, perang informasi terkini. Belum lagi soal Google yang lebih awal mengumpulkan database informasi dari seluruh dunia dari jutaan pengguna aktif mereka.

Kedaulatan Digital

Seperti kita pahami bersama, di masa depan batas-batas geografis antar-negara sudah terkikis fungsinya.

Secara fisik bisa terlihat batasnya, teritorinya. Namun secara virtual, semua hal sudah menerabas batas fisik dan geografis. Adanya beragam aplikasi yang disebutkan memudahkan kehidupan manusia tersedia.

Coba saja cek berapa aplikasi yang terpasang di gadget atau telepon pintar milikmu. Semakin banyak aplikasi yang terinstall semakin banyak pula data yang terekam oleh tiap aplikasi.

Kita sebagai pengguna atau konsumen harus bijak dalam berinteraksi dengan memahami betul perkembangan teknologi informasi.

Rasanya eman-eman kalau ke depan ahli lulusan terbaik dari beragam universitas hanya mau berhenti jadi karyawan, jadi buruh saat pulang kerja. Harus ada revolusi digital yang penting digelorakan. Jangan hanya senang menjadi konsumen produk, jadi sekedar pengguna manfaat tapi lebih jauh menjadi produsen dan pengelola data.

Menghadapi kondisi demikian, apa yang perlu dikerjakan oleh mantan calon Presiden, Prabowo Subianto yang kini jadi bagian Menteri Pertahanan dan Keamanan?

Kedaulatan digital penting dijalankan agar negeri ini tak bergantung pada aplikasi luar semata, yang mengumpulkan data/informasi sedetail mungkin.

Melalui pendidikan, evaluasi ketahanan dan keamanan rasanya lebih pas dikerjakan. Sudah saatnya pula memberikan bekal pengetahuan dasar kepada rakyat Indonesia agar tak mudah silau atau sukarela dalam memberikan data.

Soal bela negara, hal yang berkaitan dengan masalah pertahanan dan keamanan negara, di masa kini tak harus selalu ikut angkat senjata. Ada banyak peran yang bisa dikerjakan. Cukup dengan jemari dan jempol, kita bisa berkontribusi dalam upaya berjuang membela negara.

Siapa mau?

#ceritapinggirjalan
#isupublik

Kategori
Society

Tanam Uangmu Ke Tanah

Kalimat ini anjuran dari seorang professor kampus ternama. Agak ragu juga awalnya untuk percaya. Punya uang, tanam ke dalam tanah. Apa untungnya?

Nah, untuk menjalankan anjuran tersebut, mulailah saya menjalankan aktivitas menanam jadi kebiasaan. Rasanya eman-eman, tatkala sejengkal tanah dibiarkan begitu saja tanpa tumbuhan. Tanah gersang, kering dan berdebu semata adalah mimpi buruk yang bikin tak nyenyak tidur.

Jangan heran, kalau ada orang yang bisa berlama-lama di kebun, di sawah, bahkan di hutan hanya untuk urusan tanaman. Memastikan tanaman bisa tumbuh baik dan subur, membuahkan hasil untuk bisa dipanen.

Memberi makna lebih atas kalimat tanamlah uangmu ke dalam tanah dalam pengertian harfiah memang lebih pas jika dijalankan lewat tindakan. Bukan hanya sekedar dalam model diskusi apalagi sekedar obrolan, jadi angan-angan yang tak pernah terlaksana.

Saat tanaman hidup, ada banyak ragam kehidupan penyerta yang mengikutinya. Manusia mengenal flora dan fauna untuk memahami aneka tanaman, tumbuhan juga hewan yang ada di sekitar ekosistem lahan, kebun, sawah, pekarangan maupun hutan.

Maka, kalimat anjuran tanamlah uangmu ke dalam tanah bisa menemukan makna kontekstualnya. Ada hasil berlipat ganda saat uang tak hanya berwujud duit.

Ada beragam keuntungan saat uang tak berada dalam angka satuan, puluhan, belasan, ratusan, ribuan, jutaan sampai triliun jumlahnya. Nilai mata uang, lebih berguna ketika berubah wujud, tak sekedar nominal belaka.

Mulai Soneta hingga artis Barat sana sudah bernyanyi nyaring soal uang, soal duit. Silakan memilih lagumu sendiri.

Jadi pencari uang atau memilih versi uang yang mencari kita. Kita bekerja untuk dapat uang atau sebaliknya uanglah yang mengejar kita agar bisa berlipat ganda.

Bagaimana? Cocok?

Jangan sampai sebaliknya gegara uang jadi pesakitan, jadi menderita, jadi terpidana karena kepincut uang panas hasil korupsi.

Saat ini, musim hujan. Saatnya musim panen air, waktunya menanam uangmu ke tanah lebih banyak.

#ceritapinggirjalan